TIMBUKTU (2014)

6 komentar
Film yang merupakan perwakilan Mauritania di ajang Oscar 2015 ini tidak ada sangkut pautnya dengan Donal Bebek (if you know what I mean), melainkan sebuah observasi terhadap rezim Ansar Dine yang sempat menduduki Timbuktu pada medio 2012 saat terjadi "Pemberontakan Tuareg". Pada awalnya tujuan pendudukan tersebut adalah sebagai perlawanan terhadap pemerintah Mali, namun bukannya menjadi pelindung seperti seharusnya, Ansar Dine justru menghadirkan rasa takut serta ancaman bagi masyarakat setempat. Penerapan Syariat Islam secara paksa adalah sumber utama ketakutan tersebut. Para wanita dipaksa memakai jilbab dan sarung tangan, muncul larangan memutar atau bermain musik, bahkan bermain sepak bola pun jadi salah satu kegiatan yang diharamkan oleh mereka. Sutradara merangkap penulis naskah Abderrahmane Sissako memaparkan semua itu sebagai bentuk perlawanannya.

Perlawanan terhadap siapa? Bukan saja kepada Ansar Dine, melainkan kepada siapa saja pihak yang mengatasnamakan agama sebagai pembenaran untuk praktek kekuasaan otoriter. Agama tidak saja isu yang sensitif tapi juga rawan untuk terasa menggurui atau jatuh ke ranah propaganda (terlepas dari positif atau negatifnya kata "propaganda"). Timbuktu berhasil dikemas oleh Sissako tanpa pernah sekalipun memaksa saya menerima pesan-pesan perlawanan yang disampaikan. Judulnya menggunakan nama lokasi yang menjadi setting, seolah menjadi penggambaran cara bertutur sang sutradara. Bukannya memilih satu konflik secara khusus, film ini adalah pemaparan mengenai kondisi Timbuktu secara menyeluruh. Bagaimana rezim Ansar Dine berjalan, apa saja aturan yang mereka terapkan, bagaimana reaksi masyarakat terhadap hal tersebut, hingga dampak sebesar apa yang timbul. 
Hanya dari situ Timbuktu adalah tontonan yang nyaris sempurna. Pemaparan konfliknya terasa jujur dan menggaet emosi saya tanpa harus melakukan provokasi berlebihan yang dipaksakan. Adegan demi adegan adalah rangkaian observasi terhadap kepingan konflik yang meski terpisah dan melibatkan orang-orang berbeda namun terasa saling melengkapi. Meski terasa familiar khususnya bagi penonton yang berasal dari negara dengan penduduk mayoritas Islam seperti Indonesa, tapi isu yang diangkat masih berhasil mengaduk-aduk emosi. Pemaksaan yang diterima warga Timbuktu masih menghadirkan rasa simpati pada mereka sekaligus amarah pada kelompok Ansar Dine. Abderrahmane Sissako pun tidak hanya mempertontonkan ketidakadilan, tapi juga membawa penonton menelusuri "bagian dalam" Ansar Dine. Mereka melarang warga merokok dan bermain sepak bola. Bahkan dalam suatu adegan yang cukup menggetarkan, beberapa pemuda menendang bola, berselebrasi layaknya pemain yang baru mencetak gol, meski semua itu dilakukan tanpa memakai bola.

Ansar Dine tidak memberikan sedikitpun toleransi terhadap aturan yang diterapkan. Bagi mereka yang bermain musik, 40 kali cambukan sudah menunggu. Sedangkan bagi pelaku zina, kematian dengan cara dirajam sudah pasti diterima. Tapi apakah para "penegak hukum" itu juga taat pada apa yang mereka tetapkan? Sama seperti yang sering terjadi pula di Indonesia, banyak dari para "penggila moral" itu bersembunyi di balik image sebagai pemuka agama karena mereka sendiri memendam hasrat besar untuk melanggar aturan tersebut. Beberapa tentara diperlihatkan sedang membandingkan Zinedine Zidane dan Lionel Messi, sementara itu salah seorang petinggi Ansar Dine sering diam-diam merokok di tengah gurun pasir. Apakah beberapa tindakan tersebut diketahui anggota lainnya? Tentu saja. Tapi apakah mereka mendapat hukuman seperti layaknya masyarakat sipil? Nyatanya tidak. Sissako memakai semua itu sebagai bentuk protesnya. Sebuah perlawanan yang elegan karena saya tidak merasakan amarah berlebih disini, hanya sebuah penuturan kenyataan yang dibalik kesunyiannya berteriak lantang.
Sampai disini Timbuktu merupakan presentasi memukau. Sayang, fokus lebih kepada karakter Kidane (Ibrahim Ahmed dit Pinto) dan keluarganya sedikit mengurangi kehalusan filmnya bertutur. Seperti yang saya tulis di atas, pemakaian "Timbuktu" sebagai judul menunjukkan tujuan Sissako untuk mengeksplorasi sebuah tempat dengan segala pernak perniknya. Fokusnya adalah kota Timbuktu, jadi sah-sah saja jika ia tidak memiliki satu karakter dengan eksplorasi konflik paling menonjol sebagai protagonis. Kehadiran Kidane sekeluarga pada awalnya selaras dengan hal itu. Mereka terlihat sebagai pembanding, outisder yang hidup terpisah namun penuh kedamaian yang berasal dari kebebasan. 

Saat Kidane mulai berada dalam frame yang sama dengan konflik utama, fokus film menjadi goyah. Protagonis berfungsi sebagai penyambung antara penonton dengan narasi, dan butuh sosok yang menggaet simpati untuk bisa melakukan itu. Karakter Kidane tidak sampai sekuat itu membawa beban sebagai fokus utama. Akhirnya durasi yang bisa dimanfaatkan untuk hal lain tersiakan oleh eksporasi karakter yang kurang maksimal. Seharusnya Abdurrahmane Sissako membiarkan saja penonton merasa ikut berada di Timbuktu secara natural.

6 komentar :

Comment Page:
muhammad algi mengatakan...

Dapat darimana bg filmnya ?.
Soalnya saya udah nonton trailernya, dan cukup menarik. Tambahan lagi film ini dapat nominasi palm d'Or, serta rating 99% dari 68 review di rotten tomatoes.

Saya pembaca setia blog ini, meski belum pernah meninggalkan jejak.
Menurut saya cuma bg rasyid blogger film indonesia yang seleranya sama seperti saya.
Sama seperti anda, saya juga mengagumi karya quentin tarantino, kim ki duk, tapi saya juga suka film-film martin scorsese.
Saya suka acting seorang ryan gosling terutama di blue valentine, drive, the place beyond the pines, crazy stupid love. Dia (ryan gosling) gak hanya modal tampang doang. Namun aktor favorit saya tetap loenardo di caprio. Bukan karena leo sudah dapat lima nominasi oscar (meski belum menang satu pun, menurut saya dia pastas dapat nominasi keenam dari perannya di film django unchained). Tapi karena saya suka aktor yang sangat pemilih peran. Bisa dilihat deretan film leo dari tahun 2000, semuanya memuaskan. Meski seperti pendapat anda, leo semestinya memilih peran yang benar-benar berbeda. Tidak lagi sebagai orang sakit mental.
Karena itu the revenant merupan film yang menjanjikan. Alejandro G inarritu, leo, hardy, merupakan sajian pas untuk sebuah tontonan wajib tonton.
Jelas saya sangat menunggu review untuk the revenant.

Rasyidharry mengatakan...

Film ini udah banyak di lapak donot terdekat kok :D

Mungkin The Revenant (akhirnya) bakal ngasih Leo si Oscar.
Makasih ya udah baca-baca, mungkin reviewer2 lain di IDFC ada juga yang seleranya cocok

Alvi Fadhollah mengatakan...

Udah rutin lagi gan ngereviewnya?:D

Rasyidharry mengatakan...

haha kagak, paling seminggu sekali dua kali

Andika Daffa Anshari mengatakan...

Pernah baca Donal Bebek, bang?

Rasyidharry mengatakan...

Bacaan jaman TK itu :)