BAJRANGI BHAIJAAN (2015)

1 komentar
Masa dimana perfilman Bollywood identik dengan adegan musikal yang meriah sekaligus random memang masih jauh dari kata usai. Tapi kini ada satu "keahlian" terbaru mereka yang terbukti banyak menghadirkan box office hit dalam beberapa tahun terakhir. Sajian drama-komedi penuh kisah inspiratif cenderung tearjerker yang tidak pernah peduli meski dihadirkan secara berlebihan. Tapi masyarakat umum memang suka dengan tontonan semacam itu. Buktinya jika ada sebuah link atau video yang beredar di sosial media dengan kandungan judul "kisah inspiratif mengharukan", hitungan pengunjungnya bisa mencapai jutaan. Entah pada akhirnya mereka sungguh terinspirasi untuk melakukan tindakan nyata atau hanya menikmati tetesan air mata itu masalah belakangan. Karena itulah film-film seperti 3 Idiots dan PK bisa menuai kesuksesan besar. 

Bajrangi Bhaijaan adalah satu lagi film serupa yang meraih sukses. Hingga saat ini, film besutan sutradara Kabir Khan ini menjadi film berpenghasilan terbanyak kedua sepanjang masa di India ($95 juta), hanya kalah dari PK ($110 juta). Cara Bajrangi Bhaijaan (Brother Bajrangi jika diartikan dalam Bahasa Inggris) untuk menyajikan kisah inspiratif adalah dengan memberikan sekat pemisah yang harus ditembus oleh karakter-karakternya untuk bisa mencapai tujuan. Mereka yang harus mendobrak batasan-batasan itu adalah Pawan a.k.a Bajrangi (Saman Khan) dan Shahida (Harshaali Malhotra). Kita lebih dulu berkenalan dengan Shahida, seorang gadis berusia tujuh tahun asal Pakistan yang masih belum bisa bicara. Shahida adalah tipikal gadis kecil manis yang sanggup meraih cinta penonton hanya dengan senyumnya. Karena itu saat ia terpisah dari sang ibu dan tertinggal di India, saya pun mengharapkan hal serupa dengan keluarganya: "semoga ia bertemu dengan orang baik".
Harapan itu terkabul, saat Shahida bertemu dengan pria India bernama Pawan. Dia adalah pria baik yang bahkan tidak berlebihan jika disebut "terlalu sempurna". Berwajah tampan, berbadan kekar, seorang Brahmana (kasta tertinggi dalam Hindu), dan yang paling penting, ia selalu berbuat jujur. Kejujurannya terlihat dari hal terkecil sekalipun, seperti saat ia ngotot mengembalikan uang kembalian berjumlah sedikit kepada Rasika (Kareena Kapoor). Gambaran kebaikan karakter yang berlebihan? Tentu saja, tapi sekali lagi hal itu memang unsur wajib dalam menyuguhkan kisah inspiratif yang diminati orang banyak. Usaha Pawan untuk mengantar Shahida pulang tentu saja langsung terbentur halangan komunikasi, karena sang gadis tak bisa bicara. Tapi bukan itu saja "tembok" yang harus dilewati. Ada dua negara yang terpisahkan perbatasan yang dijaga ketat, serta fakta bahwa Shahida beragama Islam, sedangkan Pawan adalah Hindu dengan kasta Brahmana. Bagi pemeluk Hindu taat seperti Pawan, perbedaan kasta apalagi agama adalah masalah besar yang membuat interaksi mereka dibatasi, seperti urusan makan dan tempat tinggal.

Paruh pertama Bajrangi Bhaijaan diisi oleh drama menarik tentang berbagai perbedaan di atas. Saya selalu menyukai film yang berani menghadirkan pemikiran kritis berkaitan dengan agama atau adat. Bukan berarti kisahnya harus menyalahkan semua itu, tapi mengajak penonton untuk berpikir lebih dalam tentangnya. Pawan dihadapkan pada konflik dilematis saat ketaatannya pada agama justru menghalangi dia untuk berbuat baik. Pada akhirnya kisah perbedaan agama tidak dihadirkan sampai pada tingkata kontroversial. Tidak pula sampai membuat saya ikut berada dalam situasi dilematis. Tapi saya berhasil dibuat memahami kegundahan hati Pawan. Terasa ringan apalagi dengan komedi menggelitik selaku kritik yang telah menjadi senjata ampuh dalam berbagai sajian Bollywood bertema serupa. Ringan, tapi bukan sekedar latar hampa, khususnya saat bersinggungan dengan konflik antara India dengan Pakistan. Semua konflik itu memang ada disana, dan Bajrangi Bhaijaan seolah menjadi nyanyian harapan tentang perdamaian dari para pembuatnya.
Memasuki paruh kedua tepatnya seusai intermission, barulah filmnya menjadi total fairy tale. Drama sederhana berubah menjadi perjalanan "besar" kala Pawan nekat menyeberangi perbatasan untuk mengantar Shahida. Kejujuran yang ditampilkan Pawan semakin berlebihan. Karakternya semakin "putih" seiring dengan berbagai insiden overly dramatic yang makin banyak terjadi. Bajrangi Bhaijaan tidak lagi berusaha menutup-nutupi identitasnya sebagai film pengusung berbagai pesan moral, seperti pesan perdamaian dan kejujuran. Kesan too-good-to-be-true begitu kental, membuat dunia serta karakternya bagai berasal dari negeri dongeng. Beberapa kali ada paksaan supaya penonton percaya bahwa "kejujuran adalah harga mati yang akan membawa kebaikan". Sesekali terasa menggurui, tapi berhasil ditutupi oleh keberhasilan Kabir Khan membangun film ini sebagai feel good movie yang manis, hangat sekaligus menyenangkan.

Karena kesan feel good yang berhasil dibawa itu pula, meski penuh pesan moral saya tidak pernah merasa muak. Saya bisa merasakan ketulusan Samir Khan untuk memanjatkan harapannya akan perdamaian serta dunia yang lebih baik lewat filmnya. Alhasil daripada sebagai ceramah, Bajringi Bhaijaan lebih kuat kearah selebrasi terhadap kebahagiaan persatuan. Rasa "menggurui" hanya karena naskah yang memang klise dan mengambil jalan mudah untuk menghantarkan poin-poinnya. Tentu saja ini adalah tontonan corny penuh momen uplifting, adegan musikal dengan musik catchy plus setting meriah, sampai beberapa bagian absurd kala sosok Pawan berubah menjadi badass action hero. Jujur saja semua ke-corny-an itu menjadi suntikkan hiburan dosis tinggi yang membuat Bajringi Bhaijaan jadi hiburan menyenangkan (I love all the songs in this movie!) Drama emosional pun tidak dilupakan, karena meski saya merasa dramanya berlebihan, adegan akhir di perbatasan sampai pada ending sanggup memunculkan haru. 

1 komentar :

  1. iya ending nya bikin terharu banget...
    kmj gak nonton film india hamari adhuri kahani..menurut sya film itu bgus banget ost 2 nya jga bgus2

    BalasHapus