COP CAR (2015)

1 komentar
Tempo sedang cenderung lambat, pemilihan lokasi macam jalan raya sepi nan gersang, rumah kecil, interior mobil ataupun bar sempit, karakter berwatak "keras" yang menyimpan misteri, hingga klimaks berisikan baku tembak berskala kecil yang intens. Hal-hal di atas adalah ekspektasi saya terhadap film garapan Jon Watts ini. Kenapa? Karena semua itu seolah merupakan hal yang wajib dipunyai thriller kecil seperti Cop Car. Pada kenyataannya, semuanya memang ada. Satu hal yang tidak saya sangka dimasukkan oleh Jon Watts adalah sentuhan dark comedy. Daripada nuansa gritty, Watts memilih menyertakan komedi gelap yang meski tidak sepenuhnya berhasil, mampu menjadikan filmnya sebuah perjalanan yang menyenangkan.

Karakter-karakter dalam Cop Car adalah karakter yang berperilaku tidak seperti perkiraan. Adegan pembukanya mengkonfirmasi itu, saat memperlihatkan dua anak kecil bernama Harrison (Hays Wellford) dan Travis (James Freedson-Jackson) tengah melintasi tanah lapang sambil mengucapkan kata-kata kotor satu per satu. Travis berperan sebagai "si bandel" sedangkan Harrison adalah anak baik yang hanya "mengikuti" temannya itu. Kesan itu nampak dari interaksi keduanya. Travis mengucapkan sebuah umpatan, dan Harrison harus mengulanginya. Travis menyentuh sebuah mobil polisi yang dibiarkan tertinggal di tengah hutan, Harrison harus melakukannya. Travis nekat masuk kedalam mobil tersebut, Harrison pun harus melakukannya. Keduanya tidak hanya masuk, tapi bahkan mengendarai mobil itu, memainkan transimisi radio, sampai bermain dengan senjata api. Pertanyaannya, kenapa ada mobil polisi teronggok di tengah hutan? Milik siapakah mobil tersebut?
Sheriff Kretzer (Kevin Bacon) adalah pemiliknya. Dia adalah tipikal Sheriff yang biasa ditemukan dalam film-film berlatarkan Texas. Badan kurus kering tapi menyiratkan kekuatan, wajah yang terlihat "keras", memancarkan nuansa misterius, dan gaya bicaranya diseret dengan suara sedikit serak. Tapi seperti yang sudah saya sebutkan, karakter di film ini berperilaku tidak seperti yang diperkirakan. Sheriff Kretzer memang punya kemampuan hebat dalam menangani berbagai permasalahan. Dia tahu cara menyembunyikan mayat dengan efektif, tahu cara mencuri mobil yang terkunci, tahu pula cara mengelabui rekan-rekan polisinya. Tapi ironisnya (dan lucunya) ia begitu ceroboh meninggalkan mobil polisi tak terkunci di tengah hutan. Lebih lucu lagi karena yang "mencuri" mobil tersebut adalah dua anak kecil di bawah 10 tahun. Saya pun dibuat tersenyum saat melihat pria yang (seharusnya) berwibawa dan penuh kharisma ini berlari sambil dipenuhi rasa panik mencari mobilnya. Kevin Bacon menyuguhkan gestur dan ekspresi quirky yang konyol untuk menyempurnakan kelucuan adegan tersebut.
Nuansa "this ain't right" memang mendominasi sepanjang film, entah sebagai pemicu komedi, pembangun intensitas ketegangan, hingga eksplorasi karakter. Jon Watts berhasil mengecoh ekspektasi penonton dengan cara itu. Untuk membangun ketegangan, Watts memakai momen-momen sederhana namun cukup efektif, seperti saat Harrison dan Travis mencoba menembakkan senjata milik Kretzer tanpa tahu cara melakukannya. Bahkan beberapa kali keduanya menengok kearah mulut senjata, memancing bayangan-bayangan mengerikan dalam kepala saya. Adegan tersebut adalah sebuah contoh bagaimana Cop Car mampu memberikan ketegangan hasil dari perasaan tidak nyaman. Sayang tidak semua ketegangan maupun kelucuan berhasil dengan baik. Terdapat beberapa bagian khususnya pada aspek komedi yang berlalu begitu saja tanpa memberikan efek berarti. 

Dengan premis uniknya, Cop Car memang tidak berhasil mencapai potensi tertinggi akibat ketidaksempurnaan di atas, namun secara keseluruhan masihlah menghadirkan kesenangan. Disaat naskah tulisan Jon Watts dan Christopher Ford mentok dalam mengembangkan premis imaginatif-nya, yang menjadi highlights film ini adalah sosok Kretzer beserta dua karakter bocahnya. "Petualangan" Kretzer saat berusaha mencari mobilnya sambil disaat bersamaan mengecoh rekan-rekannya sesama polisi adalah bagian paling menyenangkan dalam film ini. Aksinya menjadi kombinasi antara kekonyolan dengan kecerdikan yang memikat. Sedangkan bagi Harrison dan Travis, kelucuan dan ketegangan hadir melihat polah mereka yang meski tidak tahu tentang apapun tapi selalu "sok tahu", layaknya anak-anak kecil lainnya. Kesan yang didapat sedari awal menunjukkan bahwa Travis adalah si pemberani yang tidak takut melakukan apapun, sedangkan Harrison adalah kebalikannya. Tapi mencapai konklusi, sama seperti keseluruhan film yang "mengecoh", saya kembali diajak melihat bahwa yang nampak di permukaan belum tentu kenyataannya seperti itu. Hal itu pun berlaku bagi karakterisasi Travis dan Harrison.

1 komentar :

Comment Page:
iza anwar mengatakan...

"You don't... Steal... A Fu*king... COP CAR! "

Gak bisa berhenti ketawa pas bagian ini