IN AMERICA (2002)

Tidak ada komentar
Di tangan sutradara lain, In America bisa menjadi tearjerker yang mengeksploitasi kesulitan hidup serta duka yang merundung karakternya. Tapi di bawah Jim Sheridan yang mengutamakan kesederhanaan dibalik sentuhan personal, filmnya mampu terasa sentimentil tanpa harus berusaha terlalu keras untuk jadi mengharukan. Padahal semua modal untuk melakukan itu sudah ada. Ceritanya menyoroti kehidupan satu keluarga asal Irlandia yang pindah ke Amerika menggunakan tourist visa melalui Kanada. Kehidupan baru yang harus mereka jalani tidaklah mudah. Keterbatasan uang membuat mereka harus rela tinggal di apartemen kumuh yang diisi pecandu narkoba hingga transvestit. Usaha untuk mencari uang pun tidak berjalan lancar. Sang ayah, Johnny Sullivan (Paddy Considine) adalah seorang aktor yang akrab dengan kegagalan kala audisi. Sedangkan status sebagai imigran gelap membuat sang ibu, Sarah Sullivan (Samantha Morton) tidak bisa bekerja sebagai guru dan memilih menjadi pelayan di sebuah cafe. 

Tapi lingkungan yang kumuh, adaptasi berat akan cuaca di New York, atau krisis keuangan bukan masalah terberat keluarga ini. Adalah duka dan trauma pasca kematian putera mereka, Frankie akibat tumor otak saat masih berusia lima tahun yang menjadi faktor paling berat. Begitu jelas bahwa mereka belum bisa bangkit dari kesedihan. Bahkan alasan utama kegagalan Johnny di tiap audisi adalah ketiadaan emosi. Dia mampu bicara dalam berbagai macam aksen, tapi tidak saat diminta memunculkan emosi apapun. Datar. Johnny bagaikan sudah mati rasa. Kita sebagai penonton dibuat memahami itu. Apalagi ada perasaan bersalah turut hadir daam hatinya. Saat tengah bermain dengan kedua puterinya, Christy (Sarah Bolger) dan Ariel (Emma Bolger) pun tanpa disadari ia mencari Frankie. Sarah pun sama. Saat bercinta dengan Johnny, yang ia lihat di mata sang suami adalah mata mendiang puteranya itu.
Saya pun menyadari alasan mereka pindah bukan untuk mengejar "American dream" seperti yang banyak diimpikan para pendatang. Mereka ingin lari dari masa lalu, memulai semuanya kembali di tempat baru. Karena itu bukan menjadi masalah besar saat apartemen kumuh harus menjadi hunian. Tapi pada awalnya, In America lebih banyak menyoroti usaha keluarga Sullivan untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Disinilah bagian terbaik film ini menurut saya. Semuanya berat, tapi jauh dari kesan depresif. Sebaliknya, Jim Sheridan justru mengemasnya cukup menggelitik. Mengajak penonton melihat berbagai kesuitan yang dialami protagonisnya, tapi dengan semangat optimisme tinggi mengajak kita mentertawakan berbagai kondisi tersebut. Contohnya saat Johnny dengan susah payah membawa pendingin ruangan berukuran besar tanpa menyadari stekernya tidak sesuai. Dia marah, berteriak bahkan menendang perabotan. Tapi kita tidak tersentak, begitu pula kedua puterinya. Justru rasa geli yang muncul. 

Kemudian filmnya bergerak menuju konflik utama yang lebih dramatis, lebih sentimentil. Konflik internal akibat kematian Frankie membuat perselisihan antara Johnny dan Sarah semakin besar. In America makin terasa formulaic saat karakter Mateo (Djimon Hounsou) masuk dalam inti cerita. Sedari awal memang filmnya telah memberi tease bahwa Mateo menyembunyikan sesuatu. Sosok awalnya digambarkan begitu mengerikan. Tinggal sendirian di kamar gelap, sering berteriak, meneteskan darahnya di atas kanvas, belum lagi iringan musik yang mistis, Mateo tak ubahnya seorang pemuja setan yang misterius. Tapi layaknya twist dalam ribuan family drama diluar sana, pada kenyataannya Mateo jauh dari semua kesan itu. Sebaliknya, ia adalah pria baik hati, penyayang dan murah senyum. Ini bukan spoiler. Kecuali anda merupakan penonton yang amat tidak peka, maka jati diri sesungguhnya dari Mateo sudah bisa diraba sejak jauh sebelumnya.
Mateo juga memendam kesedihan mendalam yang erat kaitannya dengan kematian. Maka dari itu saat sosoknya hadir dalam inti cerita, In America semakin kental bergerak dari observasi kehidupan imigran menjadi drama melankolis saat pihak-pihak yang "terluka" saling membantu. Semua karakternya tersesat, dan pertemuan satu sama lain akhirnya menuntun pada kebahagiaan, menghilangkan kabut pekat bernama "duka" yang telah lama menghantui. Tentu saja bakal ada ending mengharukan sebagai usaha film ini untuk menggerakkan emosi penonton. 

Klise, tapi berkat pengemasan Jim Sheridan, In America tidak menjadi overly dramatic tearjerker yang memuakkan. Ada usaha nyata membuat penonton tersentuh, tapi tidak berlebihan karena semua itu memang bagian dari cerita. Jim Sheridan membiarkan bebagai momen paling emosionalnya terjadi secara off-screen. Kita dibawa untuk melihat dampak yang terjadi, mengamati bagaimana karakter-karakternya menjalani hidup setelahnya. In America memang kehilangan daya tariknya saat mulai mengesampingkan observasi menggelitik mengenai adaptasi para imigran, tapi sebagai drama penuh kesedihan yang melankolis, filmnya hadir secara elegan dan terasa personal. 

Tidak ada komentar :

Posting Komentar