PAPER TOWNS (2015)

1 komentar
Novelis John Green bisa menyulap sebuah premis cheesy menjadi sebuah rangkaian cerita yang lebih berisi dan dewasa. Setidaknya hal itu nampak dari film-film yang mengadaptasi novel ciptaannya. Tahun 2014 lalu, The Fault in Our Stars menyuguhkan percintaan remaja dengan embel-embel penyakit kanker tanpa perlu terasa sok manis apalagi cengeng. Paper Towns pun berakhir serupa. Dasar ceritanya sederhana, yaitu kehidupan remaja masa SMA lengkap dengan konflik persahabatan dan pencarian cinta sejati. Alih-alih mendapat tontonan teenage movie yang kosong, saya dikejutkan oleh sentuhan filosofis di dalamnya. Film garapan sutradara Jake Schreier ini merupakan penelusuran berbagai aspek kehidupan yang diterapkan dalam setting kehidupan remaja. 

Filmnya dibuka dengan voice over dari karakter Quentin (Nat Wolff) yang membicarakan soal keajaiban. Bagi Quentin, keajaiban dalam hidupnya sederhana saja, yaitu tinggal bersebelahan dengan Margo (Cara Delevigne). Keduanya menghabiskan masa kecil bersama, dan akhirnya Quentin pun jatuh cinta pada gadis tersebut. Namun kepribadian dan cara pandang hidup yang amat berbeda mulai menjauhkan mereka berdua. Quentin tumbuh sebagai pemuda yang lurus, tekun belajar, tidak pernah bolos sekolah, dan ragu untuk keluar dari zona nyamannya. Sebaliknya, kehidupan Margo dipenuhi petualangan seperti menghabiskan tiga minggu bersama rombongan sirkus atau nekat membobol masuk kedalam Sea World di malam hari. Menjelang kelulusan saat Quentin sudah mulai melupakan cintanya itu, Margo tiba-tiba kembali dan "memaksa" Quentin keluar dari comfort zone.
Paper Towns memang lebih filosofis dibandingkan film-film remaja lain baik dari segi cerita maupun dialog, tapi tidak sampai terasa pretensius. Kalimat yang diucapkan oleh karakternya masih "manusiawi", seperti saat Margo membahas tentang analogi "paper town". Justru kesan filosofis itu berguna menguatkan cerita film ini untuk terasa lebih dewasa dan memiliki makna. Perjalanan yang harus dialami Quentin dan teman-temannya bukan semata-mata ujian persahabatan atau pencarian cinta sejati. Lebih dari itu, mereka secara tidak sadar tengah menggali makna kebahagiaan. Tapi sama seperti keajaiban versi Quentin, film ini tidak mendefinisikan sumber kebahagiaan dari hal-hal besar yang penuh gemerlap dan kemeriahan.

Setelah melewati malam tergila dalam hidupnya, Quentin (yang kembali jatuh cinta) mendapati Margo telah menghilang. Di tengah kebingungannya, Quentin mendapati beberapa petunjuk yang ia yakini sengaja ditinggalkan Margo untuk menggiring Quentin menemukan keberadaannya. Bersama dua sahabatnya, Ben (Austin Abrams) dan Radar (Justice Smith) serta teman Margo, Lacey (Halston Sage), dia pun mulai melakukan road trip menuju sebuah kota fiktif yang letaknya ribuan kilometer. Disitulah Quentin dan teman-temannya merasakan kebahagiaan yang berasal dari hal-hal sederhana seperti bolos sekolah untuk pertama kali, melakukan perjalanan penuh rintangan tak teruduga bersama sahabat, hingga mendapat pasangan kencan untuk prom night. Perspektif bahwa "kebahagiaan berasal dari hal-hal kecil" itu justru membuat ceritanya lebih terasa relatableTema mengenai "kebahagiaan" itu pun berpadu sempurna dengan penceritaan tentang keberanian karakternya keluar dari zona nyaman. Disaat mereka khususnya Quentin berani keluar dari kotak yang mengekang, saat itu pula kebahagiaan mulai hadir.
Jake Schreier berhasil mengemas semua kesederhanaan itu dengan begitu manis, atau mungkin lebih tepat disebut bittersweet jika merujuk pada ending-nya. Bagian ending yang memberikan rasa pahit sekaligus menjauhkan film ini dari kesan klise itu turut berguna mendewasakan ceritanya, mendekatkan pada realita. Seolah ingin menggambarkan bahwa tidak semua mimpi cinta sejati berakhir indah tapi tanpa harus bersikap "sinis" dalam bertutur. Lagipula seperti kebahagiaan di atas, definis "indah" pun amatlah relatif. Hal tersebut yang coba diperlihatkan oleh Paper Towns dan berhasil. Sebagai romansa sekaligus drama kehidupan, konklusi manis-pahit yang ditawarkan memuaskan. Bumbu misteri dalam pencarian terhadap Margo pun memberikan kesegaran, membuat filmnya tidak hanya berputar di sekitaran drama-romansa belaka. Karakter Margo yang misterius namun disaat bersamaan mudah disukai turut berkontribusi meningkatkan daya tarik misterinya. 

Cara Delevigne adalah pilihan sempurna sebagai Margo yang selalu bersikap seenaknya sekaligus menyimpan misteri. Kenapa sempurna? Karena wajah khas Cara berkombinasi sempurna dengan pembawaannya terhadap sosok Margo: wanita cantik yang keras dan misterius. Cara Delevigne setidaknya membuktikan bahwa ia bukan salah satu dari sekian banyak model yang terjun ke dunia akting hanya bermodalkan wajah cantik atau badan seksi. Nat Wolff pun sama baiknya sebagai Quentin yang canggung dan penuh keraguan. Ekspresi yang dihadirkan tepat, tapi lebih sempurna lagi melihat gestur kaku yang selalu ia tunjukkan meski hanya berbentuk gerakan kecil sekalipun. Mungkin saja keberhasilan mereka berdua lebih dikarenakan ketepatan casting director yang sukses meraba potensi alamiah keduanya. Tapi itu tidak menutup fakta bahwa baik Cara maupun Nat sama-sama tampi meyakinkan.

Paper Towns bukan sekedar film remaja, bukan pula sekedar drama romansa dilapisi persahabatan SMA. It's a simple but fascinating movie about many simple but fascinating things in life.


1 komentar :