RED ARMY (2014)

1 komentar
Olahraga dengan semangat fair play yang diusung tidak jarang menjadi media propaganda kuat serta sasaran empuk politisasi. Contoh paling dekat silahkan tengok nasib sepak bola Indonesia beberapa tahun terakhir. Tapi apa yang dipaparkan oleh Gabe Polsky dalam dokumenternya ini ada pada tingkatan berbeda dari sekedar urusan "cari muka". Uni Soviet medio 1970 hingga akhir 1980 dikenal lewat kejayaan tim hockey-nya yang dianggap sebagai tim terbaik sepanjang masa. Tapi seperti yang nampak pada opening montage film ini, hockey bagi Soviet kala itu bukan sekedar permainan/olahraga di atas lapangan es. Lebih dari itu, hockey adalah jalur propaganda pemerintah Soviet di masa perang dingin untuk menunjukkan bahwa sistem milik mereka adalah yang terbaik. Bagi mereka, ini lebih dari pertandingan dua tim. Ini adalah peperangan antara komunisme melawan kapitalisme (baca: Amerika Serikat). 

Disajikan lewat sudut pandang Slava Fetisov, kapten sekaligus salah satu legenda hockey Soviet (bahkan dunia), Red Army langsung menampar penonton yang masih berpikir bahwa "sport's just a game". Sedari kecil anak-anak sudah bermimpi menjadi atlet hockey profesional yang kelak akan membela tim nasional. Klub kebanggaan masyarakat Soviet adalah CSKA Moscow yang dikenal dengan julukan "Red Army". Tiap tahunnya anak-anak rela berada di antrian panjang untuk menjalani tes masuk. Dapat diterima di Red Army (lalu tim nasional) bukan sekedar mendatangkan kesenangan biasa, tapi seperti yang dituturkan Fetisov, memunculkan kebanggaan serta patriotisme dalam hati mereka. Mereka akan melakukan apapun termasuk latihan berat untuk bisa diterima, sama seperti pemerintah Soviet yang tidak segan melakukan apapun demi membawa tim hockey mereka merajai dunia.
Sebagai tolak ukur kehebatan sistem Soviet, tidak heran hockey dianggap sebagai segalanya. Bahkan lirik sebuah lagu yang dinyanyikan oleh paduan suara sebelum turnamen menyatakan "Real men play hockey, cowards don't play hockey", seolah mengarahkan persepsi bahwa machoisme pria Soviet diukur dengan partisipasi mereka dalam olahraga itu. Pada kenyataannya latihan intens memang sudah menanti para atlet. Demi mendapatkan hasil maksimal, Stalin turut menginstruksikan pihak militer turut mengawasi jalannya pelatihan. Sedangkan para pemain yang bergabung dengan Red Army sendiri secara otomatis telah terdaftar sebagai anggota militer Soviet. Bahkan disaat tim tengah bertanding di luar negeri, akan selalu ada anggota KGB yang melakukan pengawasan ketat selama 24 jam termasuk menahan pasport para pemain begitu selesai berurusan dengan pihak imigrasi (pada masa itu rakyat Soviet dilarang meninggalkan negaranya). 

Gambaran yang sejatinya sudah cukup ekstrim di atas hanyalah puncak gunung es dari segala fakta mengejutkan tentang obsesi Soviet dalam bidang hockey. Ibarat panggung pertunjukkan, Red Army tidak hanya dibungkus oleh satu tirai. Namun ada banyak tirai berikutnya yang satu per satu dibuka untuk menyibak kejutan demi kejutan yang tersimpan. Saya tidak sedang membicarakan kejutan dalam bentuk plot layaknya film-film penuh twist, namun kejutandari rasa tidak percaya akan suatu obsesi yang berujung pada proteksi berlebih dari Uni Soviet terhadap para atletnya. Hal itu membuat penyampaian kisahnya berjalan dinamis. Selalu ada hal baru yang diungkap dengan kemasan pace cepat namun tidak pernah terburu-buru. 

Aspek editing memikat yang mengkombinasikan footage wawancara terhadap para legenda hockey Soviet dan jurnalis, footage pertandingan, serta beberapa potongan animasi juga turut berperan besar menciptakan dinamika yang kuat. Bukan hanya pengisi, tapi layaknya dokumenter modern yang tidak hanya bermodalkan penuturan interviewee, footage tersebut berperan sebagai alat bantu bertutur sekaligus hiburan visual. Melihat tim Soviet bermain dengan indah (in a way that reminds me of Barcelona's tiki-taka in football) akan membuat siapapun berdecak kagum, bahkan untuk orang yang "buta" akan hockey seperti saya.
Red Army bicara tentang perang dingin, propaganda komunisme, tentang persahabatan, juga pastinya tentang kebebasan dan kemanusiaan. Tidak bisa dipungkiri semua itu adalah pokok bahasan serius, tapi Gabe Polsky nyatanya tidak ragu untuk mengemas dokumenter ini dengan lebih playful. Disaat cerita mulai dihantarkan pada fase awal, daripada suasana kelam, kita justru disuguhi upbeat music yang menstimulus hadirnya suasana jenaka sebagai pengiring narasi. Berikutnya, Polsky tetap setia menghadirkan polesan-polesan kecil menggelitik seperti lambang Soviet yang bergerak lincah diantara lirik lagu seolah tengah mengiringi lagu anak-anak, hingga saat beberapa kali kameranya diam menyoroti ekspresi Slava Fetisov yang seolah menggoda audience akan segera hadirnya suatu momen tak terduga. Polsky membuktikan bahwa materi serius cenderung kontroversial tidak harus selalu disajikan secara gloomy. Dia Berbagai sistem Soviet terlihat aneh (bahkan konyol), jadi kenapa tidak disajikan secara aneh pula lewat sentuhan oddball (black) comedy? Mungkin begitu pikirnya. 

Film ini penuh kritik khususnya kepada sistem Soviet serta pendekatan otoriter yang dilakukan Viktor Tikhonov kala melatih tim Soviet. Tapi berkaitan dengan sistem komunisme dan pelatihan keras cenderung tidak manusiawi itu, Polsky masih sempat menggiring penonton pada pemikiran dilematis. Apakah semua itu sepenuhnya patut disalahkan? Karena pada akhirnya tidak bisa dipungkiri para pemain Soviet memang berdiri diantara jajaran atlet hockey terbaik sepanjang masa karena gemblengan yang didapat. Bahkan saat bermain bersama di NHL (National Hockey League) mereka sanggup meraih gelar juara. Kita pun turut melihat keruntuhan Uni Soviet, dan kembalinya Fetisov dan kawan-kawan ke Russia yang baru saja merdeka. Lalu apa yang mereka lihat? Perubahan sistem. Bahkan boleh dibilang degradasi mental saat banyak kriminalitas terjadi dan paham kapitalis yang mulai merangsek masuk dalam tiap sendi sosial masyarakat. Jadi apakah segalanya menuju kearah lebih baik atau lebih buruk? Tidak ada jawaban pasti. Red Army bersikap layaknya ideologi itu sendiri, yakni sebuah konsep yang teramat subjektif untuk bisa ditentukan benar dan salahnya. Gabe Polsky paham benar akan itu dan mengambil keputusan tepat.

1 komentar :

Comment Page:
Amri Fathoni mengatakan...

versi Hockey "The Other Dream Team"