99 HOMES (2015)

Tidak ada komentar
Masing-masing dari kita pasti memegang suatu bentuk moralitas. Dari situ seseorang dapat memilah antara benar dan salah. Kebenaran berada dalam lingkaran moral, sedang kesalahan berarti menyimpang dari moral. Justifikasi pun lebih mudah dilakukan karena adanya "kiblat" sebagai pegangan. Namun tatanan moralitas sebagai keabsolutan hanya dapat kita terapkan dengan mudah pada situasi penuh kesempurnaan. Sebaliknya, sewaktu konflik pelik mulai merangsek masuk, sisi absolut berganti dengan ambiguitas. Memabca premis 99 Homes, sekilas akan mudah menilai bahwa perbuatan sang tokoh utama menyalahi moral, apapun alasannya. Tapi Ramin Bahrani selaku sutradara mampu menyeret penonton untuk memikirkan ulang penilaian tersebut.

Dennis Nash (Andrew Garfield) merupakan ayah tungga dari seorang putera. Dia pun tinggal bersama sang ibu, Lynn Nash (Laura Dern). Tidak diceritakan siapa dan ada dimana ibu dari anak Dennis, karena hal itu bukan topik esensial. Masa lalu tiap karakternya memang tidak penting untuk diketahui. Karakter-karakter dalam film ini bertindak untuk masa kini sambil memimpikan masa depan yang masih nampak buram lewat semangat American Dream. Untuk saat ini, Dennis adalah pengangguran, setelah pekerjaan konstruksi bangunan yang ia lakukan dihentikan akibat sang pemilik modal tidak mampu memenuhi syarat pembangunan. Di tengah pemasukan yang nihil, Dennis masih harus menghadapi ancaman pengusiran dari rumahnya karena terlambat membayar sewa tanah. 

Proses di pengadian terbukti tidak banyak memberi bantuan. Hingga akhirnya momen yang ditakutkan tiba saat seorang pengusaha real estate bernama Rick Carver (Michael Shannon) datang bersama polisi untuk mengusir Dennis dan keluarganya. Kita melihat betapa dinginnya Rick dan polisi melakukan pengusiran. Apapun alasannya, mereka hanya ingin Dennis beserta keluarganya mengeluarkan seluruh barang dari dalam rumah hanya dalam waktu dua menit. Dennis pun terpaksa membawa ibu dan anaknya tinggal secara sementara di sebuah motel. Banyak dari mereka yang tinggal di motel tersebut juga korban pengusiran yang pada akhirnya menyerah untuk mencari hunian baru dan tingga bertahun-tahun disana. 
What will you do? Jika anda berada di kondisi serupa, apa yang akan anda lakukan. Jawaban normatif tentu saja tidak jauh dari "terus bersabar" atau "bekerja sekeras mungkin". Pada awalnya Dennis pun berpikir demikian. Tapi bayangan akan masa depan suram, berakhir tinggal selamanya di motel, serta kegagalan memenuhi kebutuhan keluarga tercinta pastilah menghantuinya. Kemudian datanglah malaikat penyelamat yang menjanjikan pekerjaan dengan uang menggiurkan. Malaikat tersebut tak lain adalah Rick Carver. Orang yang telah mengusir Dennis. Filmnya pun bergerak membawa kita menuju sisi gelap. Dennis mulai melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor. Bahkan ia yang dulunya korban pengusiran mulai menjadi sang pengusir. Pertanyaan benar/salah pun dibuat berputar di kepala saya. 

Semakin jauh berjalan, semakin kuat pula film ini membuat saya melupakan suatu moralitas. Apakah tindakan Dennis patut dibenarkan? 99 Homes berhasil menunjukkan dua sisi berlawanan untuk penonton pahami dengan seksama. Pertama adalah sisi dari mereka yang terusir. Kita akan bersimpati tatkala melihat mereka diusir secara paksa, seolah tanpa dianggap sebagai manusia dari rumah yang telah dihuni sekian lama. Bahkan tidak jarang pengusiran tersebut merupakan hasil dari kecurangan penuh korupsi. Sedangkan disisi satunya, kita pun memahami alasan Dennis melakukan semua itu. Dia berada pada kondisi terhimpit, terjatuh pada jurang terdalam yang tanpa adanya keajaiban bakal terasa sulit untuk bangkit. Jika sanggup pun akan makan waktu lama. Dia tidak ingin menunggu lama. Siapa yang rela melihat anak tunggal dan ibu kandungnya menderita dalam waktu lama? 
Namun titik terkuat 99 Homes adalah disaat filmnya tidak hanya berhasil memperlihatkan sisi kelam suatu karakter, namun membuat saya selaku penonton turut masuk dalam sisi gelap saya sendiri. Bukan hanya saya memaklumi tindakan Dennis, namun ada satu titik dimana saya mendukungnya. Bahkan disaat Dennis mulai tersadar (which is predictable) saya cukup menyayangkan pilihannya. Jika anda tidak mampu menjawab secara yakin pertanyaan "apa yang kamu lakukan jika terjebak pada kondisi serupa?" film ini mampu membuat anda secara tidak sadar menemukan jawaban tersebut. Kisahnya menyeret saya kedalam sisi gelap saya sendiri. Apakah artinya saya akan melakukan tindakan serupa dengan Dennis? Cukup besar kemungkinan untuk itu.

Money is not everything, but definitely a powerful thing. Ditambah dengan koneksi kuat, pemiliknya akan seolah tampak tak terkalahkan. Jika jeli melihat ending-nya, anda akan menyadari konklusi film mengarah ke pernyataan tersebut. Rick memiliki kedua hal tersebut. Tapi sosoknya sendiri menarik untuk mendapat observasi lebih jauh. Mudah menganggapnya sosok tak berperasaan. Mereka yang diusir dari rumah merasa Rick seperti itu. Namun Michael Shannon mampu menyuntikkan sisi abu-abu dalam sosok Rick. Dia bukan semata-mata antagonis murni jahat berdarah dingin. Dalam tiap pengusiran, terlihat dari ekspresi dan mata Shannon bahwa itu bukan hal mudah bagi Rick. Tapi ambisi akan uang mampu membuatnya mengesampingkan dilema. 

Mungkinkah ia mempekerjakan Dennis karena terbersit rasa bersalah? Jika ingin memanfaatkan, mengapa hingga akhir Rick tak pernah sekalipun mengkhianati "partnernya" itu? Memang ia serakah, tapi sebuah monolog Shannon mengenai masa lalu karakternya membuat kita paham, bahwa keserakahan itu didorong oleh penderitaan masa lalu. Jadi apakah Rick sepenuhnya kejam? Apakah Dennis bisa dibenarkan? Sejauh mana nilai moralitas dapat berlaku? Seperti apa definisi benar dan salah? 99 Homes begitu kuat menghadirkan ambiguitas segala pertanyaan tersebut, meski pada akhirnya konklusi yang ditawarkan terlalu aman setelah saya dibawa masuk kedalam sisi kegelapan sepanjang film. Atau mungkin saya yang belum keluar dari kegelapan itu? Entahlah. Kebenaran memang terlalu ambigu.

Tidak ada komentar :

Comment Page: