KISAH CINTA YANG ASU / LOVE STORY NOT (2015)

8 komentar
Kenapa kisah cinta ini asu? Kenapa pula disebut bukan kisah cinta? Mudah saja. Karena memang kisahnya asu, dan tiada cinta di dalamnya. Siapa yang akan menyebut hubungan antara Erik King (Yosep Anggi Noen) dengan kedua kekasihnya, Ning (Astri Kusuma Wardani) dan Martha (Mila Rosinta Totoatmojo). Erik King adalah anggota geng motor RX King. Begitu sayangnya Erik dengan motor itu, bahkan rela ia membeli sebuah knalpot besar, padahal perekonomiannya sendiri jauh dari cukup. Dia tinggal menumpang di rumah kekasihnya, makan pun selalu mereka yang membayar. Tidak pernah sekalipun tampak Erik menunjukkan rasa cinta pada keduanya. Dia menikmati hubungan seks, dan hanya itu interaksi yang rutin kita saksikan. Hanya nafsu dan usaha memanfaatkan. Tidak ada cinta, dan memang jalinan kisah yang asu

Penokohannya jelas memperlihatkan bahwa Erik memuja maskulinitas. Dia ingin tampak macho. Karena itulah kebut-kebutan di atas motor jadi rutinitas. Mungkin itu pula yang melandasi hasratnya memiliki dua orang kekasih. Tapi maskulinitas tampak luar itu bukan perlambang kekuatan hakiki, itu yang coba Yosep Anggi Noen paparkan lewat film pendeknya yang sempat diputar di Busan International Film Festival awal bulan Oktober. Penonton pun akan mudah menyetujui pernyataan tersebut, karena pada kenyataannya Erik bukanlah siapa-siapa. Bahkan memenuhi kebutuhannya pun tak mampu. Berlainan dengan kedua kekasihnya yang sesama pekerja seks komersial. Mudah untuk membenci Erik, mudah mengumpat asu pada sosoknya, mudah pula bersimpati pada Ning dan Martha.
Meski sesama prostitusi, "strata" Ning dan Martha amatlah berbeda. Ning bisa dibilang pekerja seks kelas bawah. Dia melayani pelanggan di hotel murahan sambil sesekali menjadi pencatat skor di tempat bilyard. Bahkan di tempat bilyard itu pun tidak jarang Ning mendapat perlakuan tak mengenakkan. Mulai dari sekedar digoda, sampai sentuhan-sentuhan fisik. Tapi Ning adalah karakter kuat yang sesunggunya, bukan Erik. Dia tetap kuat dan secara tegas mengkonfrontasi laki-laki hidung belang yang bertindak kurang ajar. Bahkan dalam sebuah kesempatan ia bisa mengambil kontrol pelanggannya. Sesuatu yang ia sebut sebagai "strategi marketing". Sedangkan Martha adalah prostitusi kelas atas yang melayani pelanggan di hotel mewah. Dia pun memberikan layanan lebih dengan bersedia memakai kostum (seragam sekolah, pramugari, bahkan tarzan) sesuai permintaan. Tentu perlakuan tidak menyenangkan juga sering ia terima.

"Love Story Not" is not a melodrama. Ning dan Martha sama-sama menjalani kehidupan keras, sama pula bernasib sial berpacaran dengan Erik. Kesedihan pasti menghampiri tapi tatapan penuh keyakinan serta tawa bahagia menikmati situasi lebih sering kita saksikan. Yosep Anggi Noen ingin berfokus pada kekuatan sosok wanita. Meski identik dengan kelamahan (karena itu pula banyak pria seenaknya menggoda), justru terdapat kekuatan melebihi laki-laki dalam diri mereka. Kesan itu pula yang saya rasakan selama menonton Kisah Cinta yang Asu. Sebuah drama tentang usaha unjuk kekuatan lewat pemujaan berbagai simbol maskulinitas bersanding dengan feminitas yang menyimpan kekuatan namun tanpa pernah berusaha dipamerkan secara berlebih.
Yosep Anggi Noen pun tidak ingin memaksa penonton bersimpati atau membenci karakter tertentu. Dia berusaha memakai cara yang lebih "elegan" dan alamiah. Dibiarkan penonton melakukan observasi keseharian Ning dan Martha. Film berjalan tanpa narasi lurus, melainkan melompat dari satu momentum menuju momentum lain dalam hidup mereka. Kita dipersilahkan menilai sendiri dan perasaan apa yang kita rasakan pada akhirnya pun bukan hasil paksaan, melainkan respon alamiah terhadap situasi yang teramati. Bahkan tidak ada adegan eksplisit saat Ning dan Martha melampiaskan kesedihan mereka. Hampir tak pernah pula ada konfrontasi langsung kekesalan keduanya pada Erik kecuali saat Martha berucap "koe ncen asu Rik" sewaktu kostum tarzan miliknya dipakai untuk lap motor.

Saya menyukai cara bertutur semacam itu. Mengedepankan observasi, juga bertopang kuat pada realisme minim dramatisasi. Namun saya turut menyayangkan lompatan momentum yang seringkai terlalu "liar". Tanpa fokus lebih kebingungan akan hadir, dan durasi sekitar 40 menit belum cukup untuk mengakomodir segala lompatan berkesan acak tersebut. Justru sebaliknya, keliaran dalam pengadeganan nyaris tidak ada. Tentu ada beberapa momen yang bersinggungan dengan seksualitas, tapi masih terkesan "halus". Bahkan adegan Erik dan Martha berciuman pun dipotong sebelum terjadi. Bukan berarti eksplisitas seksual, minuman keras dimana-mana atau asap rokok yang terus mengepul merupakan keharusan, namun film ini membutuhkan suntikan lebih dari beberapa aspek tersebut sebagai penguat atmosfer. Tapi masalah "kurang gila/liar" itu bukan problema besar. Kisah Cinta yang Asu tetap merupakan "surat cinta" manis yang dibuat seorang laki-laki kepada perempuan sebagai objek cerita. 

8 komentar :