THE FOX EXPLOITS THE TIGER'S MIGHT (2015)

Tidak ada komentar
Seksualitas dan kekuasaan nampak seperti dua hal tak berkaitan, tapi sesungguhnya amat bersinggungan. Siapa lebih berkuasa, ia akan memegang kendali termasuk dalam seks. Sekilas begitulah tema dari film pendek terbaru karya Lucky Kuswandi yang pada bulan Mei lalu telah diputar pada program "Critic's Week" dalam ajang Cannes Film Festival. Begitu banyak adegan penuh libido mulai dari masturbasi hingga aktifitas seksual lain dalam film ini. Namun yang membuat filmnya begitu memukau adalah bagaimana Lucky Kuswandi sungguh-sungguh memperhatikan detail sebagai penguat kisah. Setting waktu dan tempat, latar belakang ras serta status ekonomi karakter, hingga makna tiap pengadeganan semua bersinergi menciptakan satu kesatuan yang saling menguatkan. Cerita pun menjadi kuat dan utuh.

Kisahnya terjadi pada era orde baru yang mana terlihat dari penggunaan uang lima puluh ribu bergambar Soeharto. Salah satu tokoh utamanya adalah Aseng, bocah SMP beretnis Tionghoa. Ibu Aseng membuka warung tembakau sekaligus menjual minuman keras, dan tentu saja kesehariannya banyak diisi dengan membantu usaha tersebut seperti mengambil stok minuman keras. Perkenalan pertama penonton dengan Aseng adalah ketika dia tengah masturbasi di gudang minuman, sebelum "diganggu" oleh kehadiran Aling, sang kakak yang hendak mengambil botol minuman. Tentu saja pemandangan itu begitu wajar, karena Aseng adalah remaja awal yang baru saja mulai berkenalan dengan libido hasil masa puber. Hal yang terasa "tidak wajar" adalah saat kita tahu Aseng bersahabat dengan David. 
Aneh, karena David adalah seorang etnis Jawa, sekaligus putera seorang pejabat militer berpangkat tinggi. Pada era orde baru dimana militer begitu berkuasa, bukan pemandangan aneh saat ibunda Aseng memberikan "salam tempel" kepada salah satu ajudan ayah David. Tentu saja itu perlu demi menjaga keberlangsungan bisnisnya. Tapi pada masa itu juga etnis Tionghoa kurang mendapat perlakuan baik. Maka cukup aneh saat anak pejabat militer (pemegang kekuasaan) berkawan akrab dengan bocah Tionghoa (kalangan tertindas). Bahkan di beberapa kesempatan kita melihat David mengejek logat Aseng. Kegiatan keduanya pun tidak jauh-jauh dari libido. Begitu tiba di rumah Aseng, David langsung terangsang melihat Aling yang tengah mencuci baju sambi berpakaian minim. Dia pun masturbasi. Lalu saat giliran Aseng yang berkunjung ke rumah David, mereka pun masturbasi bersama sambil berkhayal menyetubuhi Eva Arnaz. 

Lucky Kuswandi hampir tidak pernah melewatkan satu momen pun dalam film ini tanpa adegan seksual, bahkan meski sekedar memberikan sexual innuendo macam kehadiran sebuah pistol (atau tangan membentuk pistol). Lucky memperlihatkan cara bagaimana memaksimalkan seks sebagai alat bertutur. Seks menjadi sarana pembangun intensitas, juga humor. Secara bersamaan kita dibuat menahan nafas namun juga tertawa seperti saat Aling diminta berakting ketakutan oleh pacarnya, atau saat Aseng dan David "berebut" Eva Arnaz. Bukan cuma itu, seks juga memiliki peranan penting sebagai penghantar pesan dalam cerita. Setiap aktifitasnya berkaitan dengan kekuasaan. Aling patuh terhadap berbagai tuntutan sang pacar. Begitu pula saat David memaksa bahwa ia yang berhak "mendapatkan" Eva, bukan Aseng. Begitu pula yang terjadi saat ajudan ayah David yang diperankan Surya Saputra mulai meraba-raba ibu Aseng. Tentu yang bisa menghentikan kejadian tersebut hanyalah sang atasan: David. Siapa berkuasa dan punya kekuatan, ialah sang pemegang kontrol.
Mungkin ada penonton yang terangsang, ada yang jijik, dan segala bentuk respon lain. Tapi satu hal pasti, bahwa kentalnya seksualitas film ini bukan semata-mata gimmick, melainkan aspek esensial bagi narasi. Hingga akhirnya film ditutup lewat konklusi memuaskan (masih mengenai kekuasaan dan seksualitas) yang memberi kaitan antara kisah dengan judul unik film ini. Judulnya adalah peribahasa Tionghoa yang jika dalam bahasa setempat disebut Hu Jia Hu Wei. Kisah dibalik peribahasa tersebut adalah tentang seekor rubah yang menantang harimau dengan berkata bahwa ia berani karena dirinya merupakan hewan paling ditakuti di desa. Merasa tidak percaya, harimau pun diajak oleh sang rubah mendatangi desa itu. Sontak seluruh warga desa takut melihat sang harimau, namun harimau terlanjur percaya bahwa ketakutan itu disebabkan oleh rubah. Rubah yang seharusnya merupakan mangsa itu telah menggunakan kekuatan sang harimau sendiri untuk mendapatkan kuasa. 

The Fox Exploits the Tiger's Might adalah contoh bagaimana satu aspek mampu dimanfaatkan untuk menjangkau berbagai macam tema. Sebuah contoh pula disaat pengamatan mendalam kepada detail menyeluruh mampu menguatkan pondasi cerita. Durasi tidak sampai 30 menit pun menjadi begitu intens serta kaya. Lucky Kuswandi telah menunjukkan kekuatannya, dan film ini pun layaknya penguasa itu sendiri dengan saya sebagai penonton rela-rela saja untuk tunduk akan kuasanya.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar