Z FOR ZACHARIAH (2015)

2 komentar
Sekilas Z for Zachariah bagaikan hanya suatu romansa cinta segitiga di tengah dunia post-apocalyptic. Apakah film garapan sutradara Craig Zobel ini telah menyia-nyiakan setting tersebut? Justru sebaliknya, karena begitu ditelaah lebih dalam, kisahnya memaparkan secara gamblang wajah asli dari manusia. Merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Robert C. O'Brien, film ini menampilkan kondisi dunia pasca bencana nuklir yang tidak hanya menewaskan mayoritas umat manusia, tapi juga menyebarkan radiasi mematikan. Radiasi itu menciptakan kerusakan lingkungan. Udara dan air bersih menjadi hal yang sulit ditemukan. Tapi di sebuah desa terpencil, seorang gadis bernama Ann Burden (Margot Robbie) masih bertahan hidup. Karena alasan yang tidak dijelaskan, tempat itu terhindar dari ancaman radiasi.

Z for Zachariah diawali dengan rangkaian kesunyian saat kita melihat Ann melakukan kesehariannya. Tinggal disana sendirian setelah kepergian orang-orang desa untuk mencari sisa korban selamat, Ann pun menghidupi dirinya sendiri. Dia mengolah lahan sendiri, mencari makan sendiri dengan berburu, dan berbagai kegiatan monoton lainnya. Hanya ditemani oleh anjing peliharaannya, suasana sepi itu menggambarkan bagaimana perasaan hati Ann. Saya memahami bahwa harapan terbesar Ann adalah bertemu dengan manusia lain. Karena itu saat seorang pria dengan baju anti-radiasi mendadak tiba di desa tersebut, tak pelak Ann begitu antusias. Pria itu adalah John Loomis (Chiwetel Ejiofor), seorang ilmuwan yang nekat pergi dari bunker bawah tanah tempat pihak militer berlindung dari serangan radiasi. John memilih pergi karena kerinduannya akan dunia luar, meski itu harus membuatnya menderita penyakit akibat radiasi.
Berdua, mereka menemukan jawaban atas pencarian masing-masing. Ann menemukan orang lain untuk menghilangkan kesepiannya, sedangkan desa yang subur nan hijau itu menyembuhkan kerinduan John kepada alam. Ann merawat John hingga kesehatannya membaik, sebaliknya John membantu Ann memecahkan masalah di perkebunan seperti menghidupkan traktor hingga mengembalikan daya listrik disana. Tidak butuh waktu lama dan tidak mengejutkan pula saat keduanya mulai saling jatuh cinta. Margot Robbie dan Chiwetel Ejiofor memberikan performa memikat baik dalam penghantaran karakter individual maupun pembangunan chemistry berdua. Ejiofor memunculkan daya pikat dari seorang pria yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman bagi Ann. 

Tapi Robbie-lah daya pikat terbesar dari departemen akting. Setelah berbagai tokoh glamor, sensual dan "nakal" yang akhir-akhir ini ia mainkan, kesan membumi dari sosok Ann adalah pembuktian statusnya sebagai aktris versatile yang tidak hanya mengandalkan pesona fisik belaka. Ann adalah gadis lugu, taat beragama namun disisi lain juga kesepian. Tentu bakal canggung saat ia harus bertemu dengan seorang pria setelah sekian lama, bahkan tinggal berdua dengan pria itu. Itulah yang mampu dimunculkan Margot Robbie. Kecanggungan hasil dari pengucapan dialog penuh keraguan namun terburu-buru, keengganan untuk menatap mata John, hingga tindakan-tindakan quirky lainnya. 
Dua manusia terakhir di muka Bumi akhirnya bertemu, saling mengisi dan mencintai. Tidakkah semua itu terdengar indah? Tapi jelas tidak ada happily ever after di dunia yang telah mendekati akhir. Situasi diantara John dan Ann sekilas merupakan dambaan banyak orang. "We have all the time in the world", mungkin begitu pikir mereka (khususnya John). Sampai datanglah orang ketiga dalam sosok Caleb (Chris Pine) yang juga memilih kabur dari dalam bunker. Dari sisi karakter John, kedatangan Caleb membuat saya mulai mempertanyakan segala motivasinya. Benarkah ia pergi keluar karena rindu akan alam dan seisinya? Atau ada sebuah insiden? Benarkah ia memang ingin menjadikan "rebuilding civilization" sebagai tujuan? Semakin banyak keraguan saya pada John, makin berubahlah sosoknya dari charming guy jadi semakin mengerikan. Kengerian yang berpuncak saat pertanyaan dalam benak saya makin bertumpuk pada ending.

Sedangkan dari sisi cerita, kedatangan Caleb menjadi pintu masuk bagi tema kemanusiaan yang diusung film ini. Manusia, siapapun itu punya hasrat besar untuk memiliki. Siapapun pasti memilih posisi sebagai penguasa yang memegang kontrol dan mendapatkan segalanya bila mampu. John mulai cemburu pada Caleb yang dia anggap semakin dekat dengan Ann. Pada akhirnya saat hasrat memiliki semakin besar, seseorang bisa terbutakan dan berujung pada kehancuran. Sebuah ironi memikat yang hadir, karena "kehancuran" jelas berlawanan dari tujuan awal John yakni "membangun kembali". Penggunaan hasrat dalam sebuah konflik cinta segitiga ini bukanlah penyia-nyiaan potensi. Dibalik kesederhanaan konfliknya, film ini menyimpan eksplorasi mendalam saat penonton diajak mengintip sisi gelap manusia yang tidak lain adalah sifat dasar manusia itu sendiri. Z for Zachariah memahami siapa itu manusia, dan merupakan gambaran terdekat mengenai apa yang akan terjadi jika suatu hari kelak dunia post-apocalyptic benar-benar tercipta.

2 komentar :

  1. Situasi diantara John dan Ann sekilas merupakan dambaan banyak orang."We have all the time in the world", mungkin begitupikir mereka (khususnya John).
    great punchline :D
    rada kecewa sih kalo memang Margot Robbie meranin gadis lugu. Kehilangan deh kesempatan ngeliat dia jadi "nakal" *ifykwim*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener kan? Siapa yang nggak mau ditinggal berdua di desa kosong sama Margot Robbie? Pake digodain pula :P

      Hapus