JESSICA JONES: SEASON 1 (2015)

14 komentar
Setelah "Daredevil" yang mengesankan dengan gritty tone, pendekatan realistis, serta character development mendalam khususnya pada sosok villain, wajar jika penonton begitu mengantisipasi perilisan "Jessica Jones" oleh Netflix. Digawangi oleh Melissa Rosenberg, serial berisikan 13 episode ini berkisah mengenai sang titular character yang berpofresi sebagai private investigator. Jessica Jones (Krysten Ritter) adalah detektif handal yang membuka biro investigasi bernama "Alias Investigations". Kasus yang ia tangani bervariasi mulai dari perselingkuhan hingga orang hilang. Tapi dibalik kehebatannya melakukan penyelidikan, Jessica memiliki senjata lain berupa kemampuan fisik yang melebihi manusia normal. Kekuatan itu turut membantunya dalam menyelesaikan banyak kasus yang tak jarang berujung pada adu fisik. Tapi Jessica bukan sejak awal menjadi detektif, karena sebelumnya ia menggunakan kekuatan tersebut untuk berperan sebagai superhero


Di sinilah sisi gelap mulai berperan dalam ceritanya. Alasan Jessica berhenti melakukan aksi kepahlawanan adalah karena Post Traumatic Syndrome Disorder (PTSD) yang ia alami pasca konfrontasi dengan penjahat bernama Kilgrave (David Tennant). Kilgrave memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran, dan Jessica sempat jatuh dalam pengaruhnya. Trauma akan berbagai hal buruk yang telah ia lakukan di bawah kendali Kilgrave, Jessica pun meninggalkan kehidupan lamanya, termasuk menghilang dari Trish (Rachael Taylor), seorang pembawa acara talk show radio ternama sekaligus sahabat Jessica sedari kecil. Dalam diri Jessica kita takkan mendapati penggambaran superhero seperti pada umumnya, sebut saja layaknya para anggota Avengers di MCU. Dia memang memiliki kekuatan super, tapi sosoknya rapuh. Tiap hari Jessica hidup dalam ketakutan, bahkan mengalami delusi akibat PTSD-nya. Pekerjaan dan alkohol menjadi pelarian yang ia pilih. 

Bahkan sedari opening sequence pun serial ini sudah mengikat saya. Pencahayaan gelap dengan ungu sebagai warna dominan plus iringan musik jazz buatan Sean Callery, atmosfer noir terasa pekat menyelimuti. Suasana tersebut turut mendominasi  tiap episode, saling mendukung dengan tone kelam yang diusung ceritanya. Depresi, seksualitas, dan kekerasan adalah tiga hal utama pembangun tone. Seksualitas banyak dieksplorasi, dimana pemerkosaan bahkan aborsi sering dijadikan sentral. Dan itu bukan hanya shocking factor, melainkan aspek substansial bagi pengembangan cerita serta karakter, sama halnya dengan sajian kekerasan pula karakter utama yang depresif. Seperti "Daredevil", ambiguitas moral juga hadir. Pada satu titik saya bersimpati pada Jessica tapi di titik berikutnya giliran Kilgrave yang menarik perhatian. Tidak ada kebenaran hakiki, karena masing-masing karakter memiliki motivasi kuat atas perbuatan mereka.
Semenjak episode pertama yang berjudul "AKA Ladies Night", saya sudah jatuh cinta, baik pada eksplorasi tema, penulisan dialog, hingga karakter. Saya mencintai Jessica dengan segala sarkasmenya. Saya peduli padanya, karena seperti yang telah saya ungkapkan, meski kuat secara fisik namun psikisnya rapuh. Bahkan saat pertama kali mendengar kabar bahwa Kilgrave masih hidup, hal pertama yang terlintas di pikiran Jessica adalah lari sejauh mungkin. Saya khawatir padanya, karena percaya bahwa dibalik kekuatan super itu Jessica tidak jauh beda dengan manusia pada umumnya. Krysten Ritter punya segalanya untuk menghidupkan seorang Jessica Jones. Tatapan mata, caranya melontarkan dialog (khususnya pada sarkasme), bahkan emosi terpendam sekalipun. Sebagai karakter, perlahan masa lalu Jessica bakal diungkap lewat beberapa flashback selaku pondasi kokoh, membuat penonton memahami bagaimana ia bisa menjadi Jessica Jones yang sekarang.

Hal sama bisa dialamatkan untuk David Tennant. Kilgrave ada pada level yang sama dengan Wilson Fisk; mengerikan sekaligus kompleks. Pada paruh awal mudah membenci Kligrave yang tak lebih dari penjahat sadis juga pervert. Tapi memasuki episode kedelapan, "AKA WWJD?" terungkap bahwa ia lebih dari itu. Dia jahat, tapi ia pun tak ubahnya korban dari peristiwa masa lalu. Kilgrave adalah pria kesepian yang terobsesi akan seorang wanita, dan karena tak pernah melakoni proper social interaction, cara melampiaskan obsesinya pun keliru. David Tennant merealisasikan kompleksitas karakternya secara nyata, disaat interpretasi yang kurang tepat dari seorang aktor berpotensi membuat Kilgrave jatuh sebagai over the top villain. Dia gila, dia mengerikan, tapi seringkali amarah dan ekspresi kesedihan yang terpancar membuat saya menaruh iba pada karakternya. Kilgrave mampu mengendalikan pikiran, tapi yang sosoknya makin intimidatif adalah, tanpa kekuatan itupun ia telah memiliki kemampuan persuasi yang sulit untuk ditolak. Oh, and he's also charming as hell. Behold girls, this is your new Loki!

Baik Kilgrave maupun Jessica tak lebih dari dua orang yang terluka luar dalam. Ada sisi gelap dalam diri Jessica, Kilgrave pun memiliki sisi terang. Terdapat momen menarik saat keduanya bekerja sama menghentikan sebuah aksi kejahatan. Saya mulai menonton serial ini dengan kebencian terhadap Kilgrave, selalu berharap suatu saat Luke Cage (Mike Colter) akan menghajarnya. Tapi semakin jauh kisah berjalan, saya tak tahu lagi harus memihak pada siapa. Tak hanya Jessica dan Kilgrave, supporting character macam Luke, Trish, Simpson (Will Traval) hingga Malcolm (Eka Darville) punya momen untuk bersinar dan menjadi kepingan penting.
"Jessica Jones" juga sukses dalam membangun intensitas ketegangan serta dinamika emosi. Pada episode-episode awal, rasa takut selalu menggelayuti saya, khawatir akan nasib Jessica yang selalu mendapat teror dari Kilgrave. Siksaan psikis yang ia alami terasa menyakitkan untuk dilihat. Kemudian semakin rumit konflik, makin banyak karakter yang dieksplorasi, makan sering pula terjadi permainan emosi. Saya dibuat sedih, marah, cemas, bahkan bahagia oleh selipan humor dalam dialog. Banyak barter kalimat menggelitik antar-karakter yang sanggup memancing tawa, khususnya saat melibatkan sarkasme Jessica. Melalui serial ini, Marvel membuktikan bahwa perpaduan tone kelam dengan komedi segar tidaklah mustahil. Dengan penuturan yang tepat, tidak pernah terjadi pergantian tone kasar yang mengganggu. 

Tiap episode pun selalu meninggalkan pertanyaan atau cliffhanger sehingga antusiasme penonton untuk mengikuti kisahnya terus terjaga. Sayang intensitas itu tak bertahan hingga akhir. Episode sembilan, "AKA Sin Bin" adalah puncak. Saya tercengang dan menahan nafas pada klimaksnya. Setelah itu, empat episode terakhir sedikit mengalami penurunan karena semua misteri telah terjawab, eksplorasi karakter telah lengkap, konflik utama pun usai. Yang tersisa tinggal konfrontasi terakhir antara Kilgrave dan Jessica, serta pertanyaan "apakah Kilgrave mampu meningkatkan kekuatannya?", yang mana tak terlalu menarik karena kita tahu apapun jawabannya, Jessica akan menjadi pemenang di akhir.

Eksplorasi tema yang berani, konflik penuh misteri dan twist menarik, eksplorasi karakter mendalam, sampai dua hal yang tidak dipunyai versi film MCU pun dimiliki "Jessica Jones", yakni kisah cinta menarik (Jessica-Luke is a sweet love story, while Jessica-Kilgrave is a very twisted love story) dan memorable villain menjadi beberapa poin keberhasilan utama. Adanya beberapa koneksi serta referensi untuk dunia MCU secara lebih luas pun menjadi hiburan tersendiri, termasuk kehadiran salah satu karakter dalam serial "Daredevil". Melissa Rosenberg menghadirkan para wanita kuat dalam kisahnya tanpa segan memberi gambaran mereka sebagai korban keliaran seksual. Karena menjadi korban bukan ukuran kekuatan, tapi bagaimana mereka mampu bangkit untuk melawan adalah kuncinya. Saya menyukai cara Rosenberg mengeksplorasi kekuatan para wanita, dan perjalanan untuk bangkit itu memang mendominasi "Jessica Jones". Sajian terbaik yang pernah diproduksi oleh Marvel sejauh ini. 

14 komentar :

Comment Page:
Andika Daffa mengatakan...

Kayaknya Marvel mulai bersinar di serial tv sekarang, dan berani mengambil tema yang dark :))

Rasyidharry mengatakan...

Yap, series mereka yang di Netflix punya kelebihan itu. Kalau "Agent Carter" mah biasa aja

myPorn Leech mengatakan...

kalau agent carter belum nonton sih, kebetulan DD sama JJ udah selesai jadi sekarang sambil ngisi waktu luang coba marathon Agent of S.H.I.E.L.D , udah pernah nonton min? menurut lu AoS gimana min?

Rasyidharry mengatakan...

Pernah nonton beberapa eps season 1 tapi nyerah karena jelek, walaupun katanya udah makin oke tapi terlanjur udah males :)

Saktian mengatakan...

Setuju bgt sama reviewnya min termasuk pendapat "the new loki" he's hot ­čśé

Rasyidharry mengatakan...

Nah kan. para gadis pasti kesengsem

nadia dwi larasati mengatakan...

Tingkat kekerasannya di atas Daredevil. Marvel semakin gilaaaa lewat Jessica Jones. Sekarang malah DC yg kelihatan tontonan untuk anak-anak (TV Shows).

Elsa Utami mengatakan...

kehabisan gotham, aku jadi nonton jessica jones mas sid..
keren reviewnya

-ELSA_

Rasyidharry mengatakan...

Haha kerenan ini jauh daripada Gotham

Unknown mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Reza Ramadhana Tahta mengatakan...

Agent of shield keren juga kok. Sekarang season 3 nya bahas ttg inhuman. Mungkin bisa nyambung ke film inhuman yg marvel juga garap kan min

Unknown mengatakan...

Serial The Defender akan juga rilis. Sepertinya, di serial ini Daredevil, Jessica Jones, Luke Cage, Iron Fist, yang masing masing punya serialnya sendiri, akan menyatu di film tersebut. Siapa pemimpinnya? Ya Spiderman (gabungan superhero New York). Kabarnya, sih, pasukan The Defender ini akan mengganti Avenger yang bakal kalah sama Thanos. Hehehe

Rasyidharry mengatakan...

The Defender itu cuma bakal diisi 4 kok (Daredevil, Iron Fist, Luke, Jessica), sama paling ketambahan Punisher, dan nggak ada Spider-Man. Dan pasti ceritanya bakal berkaitan sama Thanos & Infinity War, cuma (sepertinya) nggak akan secara langsung mengingat perpecahan kubu Marvel Studios & Marvel TV

Official mengatakan...

AoS season 2 jadi season terbaiknya loh min