FLUTTER ECHOES AND NOTES CONCERNING NATURE (2015)

14 komentar
Saya menyukai slow cinema. Sajian arthouse lambat yang bagi sebagian orang mungkin terasa membosankan kerap memberi kepuasan hasil dari kontemplasi mendalam sekaligus observasi mendetail. Untuk film Indonesia, "Another Trip to the Moon" karya Ismail Basbeth adalah contoh sempurna dan sampai saat ini masih menjadi film Indonesia favorit saya untuk tahun 2015. Tapi disaat suatu slow cinema gagal mencapai tujuannya, tak jarang justru kebosanan serta kesan pretensius yang hadir. "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" garapan Amir Pohan ini salah satunya. Selama 90 menit pemutarannya pada event JAFF, saya mendapati banyak penonton yang menguap bahkan bermain handphone entah karena bosan atau tak mengerti makna alur film yang tidak linier. Bahkan begitu credit bergulir ada keraguan dari audience untuk memberi applause. Mungkin karena memang tak terpuaskan atau tidak yakin film telah usai. Wajar saja, sebab sepanjang film (pasti) banyak yang tidak yakin filmnya bertutur tentang apa.

Gagasan dalam film ini sesungguhnya sederhana saja: kecintaan terhadap alam. Hanya saja cara bernarasi Amir Pohan yang begitu lambat dan sunyi serta alur penuh abstraksi tanpa kejelasan setting waktu bakal menghadirkan kebingungan untuk banyak penonton. Terdapat dua garis besar cerita. Pertama tentang perekam suara (Ladya Cheryl) yang berjalan menyusuri alam bebas untuk merekam ambience disana. Hasil rekaman itu ia gunakan untuk "terapi" bagi tumbuhan yang ia tanam di rumahnya. Kedua, adalah mengenai empat orang Guerrilla Gardeners (Tara Basro, Ismail Basbeth, Putri Ayudya & Ralmond Karundeng) yang menanam tumbuhan di berbagai sudut kota yang sudah "tenggelam" oleh beton dan semen. Untuk mengemas dua kisah itu, Amir Pohan bereksperimen dengan berfokus pada audiovisual. Kamera lebih sering menyoroti landscape pemandangan diiringi voice over Ladya Cheryl sedangkan ambience alam menggantikan scoring musik yang biasanya mengiringi suatu film. 
Normally, saya menyukai film semacam ini dan akan menyebutnya tontonan kontemplatif, indah, puitis, dan sebagainya. Tapi "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" tak pernah berhasil mencapai tujuan yang diharapkan. Sebagai tontonan yang mengedepankan olah rasa daripada pergerakan alur, filmnya gagal membawa saya terhanyut kedalam keindahan alam negara agraris yang dimaksudkan. Sinematografi-nya tak pernah memukau untuk film yang ingin mengeksploitasi keindahan visual. Begitu pula efek suara yang bahkan nyaris tak terdengar. Mungkin saja kekurangan audio ini cukup dipengaruhi oleh suara AC yang begitu kencang di dalam ruangan, tapi faktanya saya tak mendengar ambience apapun yang sanggup menghipnotis. Disaat dua aspek "unggulan" ini sama sekali tidak unggul, jatuhlah filmnya. Dengan alur lambat nan sunyi (sering penonton hanya disuguhi adegan "artsy" saat karakter tak "melakukan apapun") juga sisi surealisme, perlu ada poin yang mengikat penonton supaya bersedia menemukan makna lebih dalam. Film ini tak punya poin tersebut, dan saya pun menyerah dalam kebosanan.
Pada sesi Q&A, sempat ada penonton mengutarakan statement bahwa film ini layak diapresiasi karena tidak meng-underestimate penontonnya. Saya justru ragu. Apakah filmnya memang tidak menganggap penonton bodoh hingga berani mengambil jalur artsy, ataukah filmnya sok pintar. Karena beberapa adegan seolah diselipkan hanya demi memberi absurditas alur. Sebagai contoh pada adegan pembuka (dan sedikit di tengah) ada subplot yang menyinggung ranah mistis tapi kemudian tak pernah dibahas lagi, sehingga terkesan random. Bukannya tanpa benang merah, karena mistis yang disinggung masih berkaitan dengan sisi lain dari alam, tapi dibandingkan momen lain, bagian ini terasa out-of-place. Bahkan Amir Pohan sendiri menuturkan bahwa adegan ini diambil dari dokumenter yang tengah ia garap sehingga "tidak etis" jika dimasukkan terlalu banyak dalam film ini. Pertanyaannya, "kalau begitu kenapa harus dimasukkan?" Karena toh bagian ini tidaklah signifikan. 

Banyak talenta berbakat mengisi jajaran cast, sebut saja Ladya Cheryl, Tara Basro dan Putri Ayudya. Ketiga aktris itu tersia-siakan potensinya. Tara dan Putri dengan kemampuan pendalaman karakter serta kesubtilan emosi yang dimiliki hanya ditugaskan menanam tumbuhan. Sedangkan Ladya Cheryl lebih "beruntung", ekspresi kedamaiannya sebagai mother nature yang menikmati nyanyian alam memang memberi keindahan. Adegan saat ia menyiram tumbuhan sambil mengajak mereka bicara pun menjadi spotlight film ini. Ya, saat adegan Ladya Cheryl menyiram tumbuhan adalah bagian terbaik, pastinya ada yang salah dalam film tersebut. Begitu ingin saya mencintai "Flutter Echoes and Notes Concerning Nature" dengan potensi keindahan kisah puitis serta eksperimen bertuturnya. Sungguh. Tapi apa daya, disaat mayoritas "senjata utama" tak bekerja dengan baik, filmnya pun hanya berakhir sebagai satu setengah jam yang melelahkan. Punya niatan yang baik dan berbeda dengan film-film lokal lainnya, tapi niat baik dan berbeda saja tidak cukup.

14 komentar :

  1. iyaaaa setujuuu bagian paling aku suka adalah waktu lagi nyiram 3 tanaman yang menggantung itu, pas daunnya basah itu keliatan banget segernya.. :D
    dan betul sangat suaranya yang gak terlalu jelas itu ganggu, untung ada teksnya jadi kebantu. tapi hmm overall lumayan lumayan. ehehe :3

    BalasHapus
  2. thanks atas reviewnya! saya sangat senang dan berterima kasih filmku direview panjang lebar. mau review jelek atau bagus saya terima semua inputnya supaya bisa bikin yang lebih baik untuk film berikutnya, jadi sekali lagi terima kasih! saya hanya mau menjelaskan soal sound, sebenarnya film saya ini di master untuk sound 5.1 tapi karena TBY tidak bisa putar DCP makanya terpaksa saya kasih film dengan suara stereo..daripada ngga diputar sama sekali lumayanlah bisa diputar di JAFF. Untuk selanjutnya Flutter Echoes terpilih masuk kompetisi di Vision Du Reel di Nyon, Swiss untuk tahun ini. saya juga lagi persiapkan 2 film lagi, tapi kali ini pure fiction jadi paling ngga ada naratifnya. thanks ya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paham sekali masalah sound di TBY, dan itu patut disayangkan. Karena menurut saya kekuatan/poin utama film ini memang eksplorasi sound buat atmosfer, tanpa itu narasinya hambar buat saya. Kalau film ini screening lagi di tempat dengan sound oke, bakal coba nonton lagi, karena saya sadar potensi filmnya. Saya tunggu 2 film berikutnya mas, semoga diputar di public screening. Terima kasih kembali :))

      Hapus
    2. film seperti ini memang ngga selera semua orang sih hehe, tapi reviewmu bagus, gw suka. filmnya itu sekarang durasi 80 menit. gw lupa di JAFF itu 80 menit atau 90 menit. ini linknya untuk Visions Du Reel https://www.visionsdureel.ch/en/film/film/show/flutter-echoes-and-notes-concerning-nature

      Hapus
    3. Yap, dan pastinya 2 bintang buat film ini beda dibanding 2 bintang buat film yang "beneran jelek".
      Good luck di Nyon mas :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. hey sigit https://www.visionsdureel.ch/en/film/film/show/flutter-echoes-and-notes-concerning-nature

      Hapus
    2. MR Bo lover green button yg kemaluannya bedarah darah "go international" juga loh udah di jepang,india,hongkong dan keliling jawa akan berlanjut lagi ke festival2 dan komunitas yg lain :)

      Hapus
  4. MR Bo lover finally make a movie ! XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. i've been making films since you were still in diapers boy

      Hapus
    2. elo bikin film tahun brapa? gw baru tahun 1998 kalo emang lo lebih tua dari itu berarti lo emang tua , tapi bukan berarti lo seenaknya ngebully orang seenaknya ya ..kena karma sendiri

      Hapus
  5. jelek banget revewnya! dari tahun berapa lo bikin film kok ngga ada perkembangan? lo nyinyir2 ke orang2 tapi lo sendiri direview jelek

    BalasHapus
  6. yang ngerview ini you are my hero.. orang ini ngebully online gw selama tahun 2013 dengan maksud ngga jelas ..katanya gw berusaha terkenal ? dia tau gw ketiban musibah laptop gw kemalingan terus dia ngatain kalo gw ngga mampu beli lap top lagi bener2 nih orang, terus dia muncul ke tempat screening gw cuma mau ngatai2n di internet ..kyk mau yg paling keren aja lo

    BalasHapus
  7. another Amir Pohan Buttonijo epic fail yang komen nyamar pake nama lighthousecrap production XD
    https://kritikpenonton.wordpress.com/2016/07/10/kurung-manuk/

    BalasHapus