SINGLE (2015)

11 komentar
Raditya Dika berperan sebagai pria quirky yang bermasalah dengan kehidupan percintaannya....lagi. Dika memang identik dengan karakter seperti itu, bahkan materi stand up comedy-nya pun tak jauh-jauh dari "kegalauan romantika remaja." Sebenarnya bukan pilihan buruk. Meski kemunculannya dalam medium apapun menjadi predictable, apa yang Dika lakukan adalah suatu bentuk branding, and a successful one as well. Sosoknya mungkin kurang berkembang, tapi dari kacamata industri sungguh merupakan strategi brilian. Ujungnya, masyarakat umum tahu ekspektasi apa yang harus dipasang begitu Dika merilis suatu film. Adanya "kepastian" tersebut mampu meminimalisir ketakutan calon penonton, menghindarkan pemikiran bahwa keputusan datang ke bioskop menonton filmnya adalah sebuah perjudian. Alhasil film-film yang dibintangi (dan disutradarai) oleh Dika minimal selalu terhindar dari kerugian komersil. Pertanyaannya sekarang, apakah dengan formula yang terus diulang ia masih mampu memberikan tontonan memuaskan?

Sekilas, "Single' tak ubahnya film-film Dika yang lain berisikan formula di atas. Tapi selain keterlibatan Soraya Intercine Films sebagai rumah produksi yang memberi garansi production value tinggi (biasanya film Dika adalah rom-com sederhana), terdapat pembeda tipis namun signifikan antara "Single" dengan karya Dika sebelumnya. Bisa dilihat dari judulnya yang tak mengandung kalimat aneh macam "Manusia Setengah Salmon" atau "Cinta Brontosaurus" misalkan. Sederhana tapi straight to the point. Pada kenyataannya memang benar, ini adalah kali pertama seorang Raditya Dika total mengutarakan "pencitraannya". Filmmya murni berkisah mengenai kehidupan pria single tanpa embel-embel gimmick apapun di dalamnya. Justru kesederhanaan itu yang menjadi kekuatan, disaat Dika dengan pemahaman luasnya mengenai "dunia pria jomblo" berhasil mentranslasikan tiap sisi serta rasa dari tema yang diangkat.
Kali ini Dika berperan sebagai Ebi, pria pengangguran yang masih tinggal di kos-kosan dan harus menghadapi tekanan ibu kos akibat seringnya ia terlambat membayar uang sewa. Tapi masalah yang selalu mengganggu pikiran Ebi bukan itu, namun fakta bahwa dirinya masih single dikarenakan ia tidak lancar berkomunikasi dengan wanita. Sudah banyak usaha menarik hati wanita yang gagal karena kekurangannya tersebut, bahkan meski telah mendapat bantuan dari dua sahabatnya, Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan Victor (Babe Cabita). Ditambah lagi ketika Ebi terus dikejar oleh sang ibu (Tinna Harahap) untuk memberikannya seorang cucu. Sampai akhirnya datang Angel (Annisa Rawles), penghuni kos baru yang langsung membuat Ebi jatuh hati. Namun halangan bukan saja datang dari diri Ebi sendiri, karena disaat bersamaan ada Joe (Chandra Liow) yang mengenal Angel sedari kecil dan sudah dianggap sebagai seorang kakak.

Pada hakikatnya, "Single" merupakan film komedi (dengan bumbu romansa), sehingga untuk bisa membuat saya mengapresiasi aspek lain, filmnya harus berhasil memancing tawa terlebih dulu. Paruh awalnya agak tersendat karena rentetan lelucon yang terlalu familiar misal ketika Dika mengolok-olok tinggi badannya. Kemudian perlahan tapi pasti, ritme berhasil ditemukan. Dari penampilan Dika sendiri sesungguhnya tak ada yang spesial. Seperti biasa ia memasang ekspresi canggung, senyum terpaksa dan beberapa ekspresi bodoh yang untuk saya pribadi tak efektif memberikan kelucuan (kecuali di adegan sakit perut itu). Justru tawa lebih banyak berasal dari karakter-karakter pendukung. Wawan dengan nasihat-nasihat cintanya, Victor yang takut hantu dan sering melontarkan celetukan pula tindakan absurd (juga kekuatan Babe Cabita saat ber-stand up comedy), hingga sosok Mama Ebi yang berusaha lebih modern dengan memanggil anaknya sebagai "coy" atau 'bro". Tokoh-tokoh itu mampu bersinar, konsisten memberikan gelak tawa. Untuk Annisa Rawles, ekspresinya masih lemah, tapi jelas sempurna menghidupkan wanita cantik yang mampu membuat tidak hanya Ebi namun juga penonton jatuh hati.
Untuk Dika sendiri, ia lebih menonjol dalam perannya sebagai sutradara. Berkat sense of comedy yang kuat, timing kemunculan leluconnya tepat. Mendapatkan bujet besar, Dika juga tidak tergoda memasukkan unsur lain yang dapat mendistraksi sentuhan komedi, seperti action yang acapkali jadi "penyakit" perfilman komedi tanah air. Dana lebih besar ia manfaatkan sebagai sarana memperbesar skala komedi, memberi jalan untuk mengemas adegan komikal yang tak mampu dilakukan dengan bujet minim, semisal adegan mobil meledak dan skydiving. Semuanya esensial untuk membuat filmnya lebih lucu, bukan sekedar lebih seru. Layaknya film-film produksi Soraya lainnya, "Single" turut berisikan sinematografi menawan yang memanjakan mata. Ketika setting berpindah ke Bali, itu tidak disia-siakan untuk mengeksplorasi keindahan alamnya. Salah satu adegan ketika sunset pun ikut menguatkan kesan romantis yang coba dimunculkan. Penggunaan berbagai teknik pengambilan gambar (ex: pemakaian drone) pun jadi dimungkinkan berkat bujet tinggi. Saya tidak selalu setuju dengan istilah "the bigger, the better", tapi untuk film ini memang harus diakui Raditya Dika mampu memanfaatkan kelebihan yang ia dapatkan itu.

Seperti yang telah saya ungkapkan, Dika telah berpengalaman dan amat memahami tema yang diangkat. Khususnya bagi penonton pria, kecuali anda memiliki tampang diatas rata-rata, uang berlimpah atau rayuan tingkat tinggi hingga tak pernah mengalami "masa suram" berupa kegagalan percintaan, cerita dalam "Single" bakal memunculkan kedekatan dengan kehidupan kita. Merasa kurang percaya diri saat mendekati wanita? Check. Jomblo disaat para sahabat sudah memiliki pasangan? Check. Jatuh cinta pada wanita yang begitu dekat tapi nyatanya terasa jauh dari jangkauan? Check. Cemburu melihat wanita itu lebih dekat dengan pria lain yang nampak jauh lebih mengenalnya? Check. Hati berbunga-bunga melihat wanita itu tersenyum karena kita? Chek. Saya bisa meneruskan list tersebut tapi rasanya akan terlalu panjang. Intinya, naskah hasil tulisan Raditya Dika bersama Sunil Soraya dan Donny Dhirgantoro mampu mewakili semua pengalaman juga perasaan pria yang sedang/pernah desperate akibat lika-liku dunia "perjombloan". Salah satu komedi terbaik Indonesia tahun ini.

11 komentar :

Comment Page:
Amatir dalam Hidup mengatakan...

wiiiw udah nonton single ajaaa xDD
di blitz udh ada blm pah? mau memanfaatkan tiketnya nih. ehehe x3

btw waktu liat di trailer yg scene sunset-an itu tiba2 langsung keinget salah satu scene di before midnight x))

Rasyidharry mengatakan...

Kayaknya cuma sehari, udah ilang dibantai Star Wars. Entah kalo minggu depan nongol lagi. Di jaringan 21 sih kayaknya masih ada.

Hoo setting adegan itu emang mirip sih, tempat mantengin sunset gitu

Rasyidharry mengatakan...

Ralat, ternyata masih ada haha

Angga Saputra mengatakan...

Dari beberapa review katanya film ini bagus jadi pengen nonton hari ini...

rozaaydara mengatakan...

Btw ada yang tau nama lokasi pas scene sunsetnya gak?

Angga Saputra mengatakan...

Baru sempat nonton tadi sore..
Serius ini film kocak banget.
seneng rasanya bela2in nonton bioskop dpt film yg semenyenangkan kayak gini...
Paling Suka sm teman nya dika yg keribo bikin ngakak hahahaha

Angga Saputra mengatakan...

itu di bali kan

Rasyidharry mengatakan...

Yap, Babe Cabita dan kancutnya emang mencuri perhatian

Angga Saputra mengatakan...

satu yg kurang min akting pemeran cwek nya berasa kaku gtu ya...

Rasyidharry mengatakan...

Oh itu nggak apa. Annisa yang penting cantik aja haha

Angga Saputra mengatakan...

iya emng cantik wajar si ebi mabuk kepayang di buat nya hahahaha