DIA PASTI DATANG (2016)

26 komentar
Dia Pasti Datang sungguh telah menampar, menyadarkan bahwa selama ini persepsi saya akan standar film di bioskop sudah salah kaprah. Karena sebelum membicarakan tetek bengek kualitas, ada hal yang wajib diperhatikan. Hal ini amat mendasar, sehingga para filmmaker secara otomatis pasti melakukannya tidak peduli ia membuat sajian komersil, arthouse, religi dan lain-lain. Hal mendasar yang saya maksud adalah MENYELESAIKAN FILMNYA! Karena bukankah tidak mungkin sebuah film yang belum tuntas bakal dirilis di bioskop? Tidak mungkin kan? Iya kan? Ternyata Dia Pasti Datang mengajarkan saya satu lagi hal esensial dalam kehidupan, bahwa tidak ada yang tidak mungkin, termasuk merilis film yang belum selesai. 

Mari membahas soal plot dahulu, karena bicara tentang hal dasar, aspek satu ini termasuk basic utama pembuatan film. Masterpiece dari sutradara Steady Rimba ini berkisah tentang wanita baik hati bernama Larasati (Amel Alvie). Begitu baik wanita satu ini. Dia suka rela menghidupi, pula menjadi guru bagi anak-anak suatu panti asuhan. Larasati rutin menekankan kerajinan dan kemandirian, tapi nampaknya lupa bicara kesopanan. Saat mengajar, ia tak hanya memakai make-up super tebal, tapi juga baju ketat dengan kadangkala belahan dada terlihat. Dalam satu kesempatan ia mengajak anak-anak itu menonton pertunjukkan tari dimana ia ikut serta. Pertunjukkan itu menampilkan tiga wanita berpakaian terbuka, menarikan gerakan seksi yang disambut tepuk tangan meriah serta canda tawa anak-anak. Mungkin Larasati tengah mengajarkan pubertas? Saya hanya bisa mengira-ira.
Iya, ini lumayan ngeri
Singkatnya, Larasati dibunuh secara tidak sengaja oleh dua anak buah Daeng Karim (Guntur Triyoga), seorang camat muda sekaligus calon suaminya. Sungguh malang nasib wanita baik hati ini, setelah tewas, ia masih sempat diperkosa oleh dua orang tamu kehormatan Daeng Karim. Larasati tewas, menjadi hantu gentayangan yang berhasrat menuntut balas. Tapi hantu Larasati ternyata kurang cakap melakukan aksinya. Sebagai contoh, seorang pria sudah ia serang menggunakan sebuah bambu, tapi tidak mati. Beberapa saat kemudian serangan kembali terjadi. Pria itu terjatuh, muntah darah, lalu diseret di sepanjang lantai, tapi tidak mati. Hingga akhirnya pria itu merasa bersalah dan memilih bunuh diri padahal sepanjang film ia terus berujar ingin segera kabur karena takut mati. 

Jelas naskahnya buruk. Dialognya bagai ditulis oleh dua orang yang tidak pernah sekalipun bertemu selama penulisan. Alhasil perbincangan antar-karakter sering tidak sinkron. Jika ada yang bertanya "kamu udah makan?" saya yakin lawan bicaranya bakal menjawab "kebun binatang". Karakternya seperti berkepribadian ganda. Satu waktu mereka berkata "ayo ikuti dia! Cuma dia yang bisa kita percaya" tapi beberapa detik kemudian berujar "ngapain sih ngikutin orang ini?" Mungkin Steady Rimba yang merangkap penulis naskah ingin mengeksplorasi bagaimana rasa takut berpengaruh pada sisi psikis seseorang. Memang benar. Saat ketakutan mendominasi, otak kita menjadi kacau, tidak bisa berpikir jernih, plin plan, bodoh, idiot, bisa juga lebay. Mirip dengan tokoh-tokoh di sini.
Lalu menyoal filmnya yang belum selesai, suara dalam Dia Pasti Datang sering mendadak hilang. Sungguh. Tanpa musik, tanpa ambience, total bisu. Sebelum tiba-tiba dialog masuk secara paksa. Jadi semisal ada kalimat "siapa orang itu?" maka yang terdengar adalah "pa orang itu?" Bukan sekali dua kali, hal ini terjadi puluhan kali. Lebih ajaib lagi, dubbing-nya sering tidak pas dengan gerak bibir pemain. Bahkan satu kalimat sempat terdengar dua kali, padahal bibir pemain sudah tampak mengucapkan hal berbeda. Saya pun terbayang pembicaraan yang terjadi di ruang editing film ini:

Sutradara: Gimana? Kelar semua?
Editor: Kelar. Lagi render nih
(rendering selesai, film diputar)
Sutradara: Lho, kok ini musiknya belom masuk?
Editor: Lupa bos. File sound-nya keselip.
Sutradara: Terus ini kenapa dialognya keulang?
Editor: Ribet bos, ngegeser-gesernya lagi.
Sutradara: Gimana ya...
Editor: Kalo diulang ribet, render-nya lama. Laptop juga boleh minjem
Sutradara: Yaudahlah, kagak perlu. Pilem kan gambar, suara belom kelar mah bodo amat
Editor: Nah, bener bos!
(keduanya tertawa ngakak, menyadari bahwa toh penonton masih akan tetap menghamburkan uang menonton unfinished movie mereka ini.)

Akhirnya Dia Pasti Datang dirilis paksa, karena para pembuatnya tidak mempermasalahkan tata suara yang belum selesai, karena toh gambarnya sudah. Mereka tidak menyadari bahwa di beberapa bagian, kawat untuk menarik pintu supaya tampak tertutup dengan sendirinya masih bisa dilihat dengan mata telanjang. Bahkan ada adegan ibu hamil meminta diantar ke rumah sakit, padahal jelas dari pantulan kaca mobil, ia sedang berdiri di depan IGD.  

Masih banyak aspek lain yang belum saya bahas, tapi karena filmnya saja seperti belum selesai, review ini pun tidak saya tuntaskan. 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

26 komentar :

Comment Page:
kesuma wijaya mengatakan...

Hahahaha........ajebbb

kesuma wijaya mengatakan...

Asalkan waktu beli tiket nontonnya ikhlas dan ngeriviewnya sambil mukul sasak tinju.

Garin Prilaksmana mengatakan...

Dapet ilham dari mana mas nonton film begini?hahaha

jonatan lumbantoruan mengatakan...

okee akhirnya ada yg bisa ngalahin tausiyah cinta :v

Andika Daffa mengatakan...

Anjiir dalam pertamakalinya akhirnya ada film yang dapat nilai jeblog :v

Ed Morrison mengatakan...

Review Me and Earl and The Dying Girl dan Mustang donk

Rasyidharry mengatakan...

Ikhlas kok, cuma mendadak amnesia sesaat aja :D

Alvin Maulana mengatakan...

Kalau review seperti ini, jadi teringat review2 legendaris dari sinema-indonesia :D

Rasyidharry mengatakan...

Kalau nggak disuruh juga ogah haha

Rasyidharry mengatakan...

Kan sebelumnya ada KMGP :D

Rasyidharry mengatakan...

Semoga jadi yang pertama & terakhir haha

Rasyidharry mengatakan...

Me and Earl udah kok, Mustang belum sempet nonton aja :)

Rasyidharry mengatakan...

Haha emang ngefans banget sama SI

kesuma wijaya mengatakan...

Review sherlock holmes dong. Abdo... bride (lupa titlenya). Gw ntn ga ngerti terakhir2nya....

kesuma wijaya mengatakan...

Gw suka blog ini. Krn terbilang cepat updatenya. Gw jg ikutin rorypnm ama amirathemovies. Tp rorypnm agak lama update dan amiratthemovies dah lama ga aktif. Dengar2 ada yg ngehack.

so far movfreak reviewnya bagus. Tp ada beberapa film yg ratingnya bagus tp bobotnya berat buat di tonton. Kaya macbeth. Asli ngantuk nontonnya. Gw demen yg kaya Cop Car, dan sejenisnya yg pembawaan filmnya slow tp shocking.

Abay Abal Akbar mengatakan...

anjaay akhirnya jebol juga nilai kosong. hehehe
keep writing bro.

Rasyidharry mengatakan...

Oh, Mas Amir sekarang sibuk cari duit haha. Tapi masih nulis di flickmagazine kok, juga rutin setor rating ke IDFC.

Di situlah subjektifitas berperan di review. Personally saya emang suka film lambat gitu :)

Story Of Life mengatakan...

Masss review film deadpool, penasaran gue film segila itu dapet rating brp kalo direview masnya :-D

halumma mengatakan...

Karna banyak yg request review film,ane juga pengen request dunk mas. Sesekali review pelem-pelemnya uwe boll dong, atau imdb bottom 100..hehe

Rasyidharry mengatakan...

Loh, kan udah belom lama ini

Rasyidharry mengatakan...

Gile lu minta Uwe Boll hahaha

Fariz Akbar / JoniJtr mengatakan...

Mas, review film-filmnya Ingmar Bergman dong, lumayanlumayan Bisa mulihin otak habis Nonton Ginian *lol

Fariz Akbar / JoniJtr mengatakan...

*Lumayan

Rasyidharry mengatakan...

Segera kalau Bergman :)

Fariz Akbar / JoniJtr mengatakan...

Oke :) , kalau bisa film filmnya Truffaut & Fellini juga, penasaran sama filmographynya

Rasyidharry mengatakan...

Antonini & Kurosawa juga, tapi nggak dalam waktu dekat :)