JUARA (2016)

5 komentar
Setelah bernostalgia lewat Finding Srimulat serta menjauhkan Nada Untuk Asa dari disease porn murahan, bisakah sutradara Charles Gozali membawa Juara yang di atas kertas meragukan berujung kepuasan? Banyak unsur film ini mengundang kekhawatiran. Mulai unsur formulaik from zero to hero, kehadiran Bisma Karisma sebagai lead actor, sampai trailer penuh kesan cheesy. Di antara ketiganya, trailer-nya memang paling mencuatkan ragu. Mayoritas cuplikan adegan bak diangkat dari sinetron-sinetron layar kaca termasuk dialog berikut ini: 

"Hai, ada yang lo suka?"
"Ada"
"Yang mana?"
"Yang kamu..."

Alurnya berkisah mengenai Bisma (Bisma Karisma), mahasiswa baru yang semenjak hari pertama MOS telah jadi korban bully Attar (Ciccio Manassero) beserta gengnya setelah Bisma secara tidak sengaja mencium Bella (Anjani Dina), kekasih Attar. Bukannya menjauh, Bisma justru terus mendekati Bella, memancing kecemburuan Attar yang lanjut mem-bully-nya tiap hari. Kesulitan melawan karena saingannya itu adalah seorang juara karate, Bisma meminta ibunya, Sarah (Cut Mini Theo) memperbolehkannya belajar silat. Sayang permintaan itu selalu ditampik oleh sang ibu. Hingga akhirnya tindakan Attar makin kelewatan, Bisma pun mendapat bantuan dari pria misterius bernama Karisma (Tora Sudiro). 
Rentetan dialog menggelitik (in a negative way) sesungguhnya bertebaran khususnya pada paparan romansa, begitupun pola penceritaan klise, namun di sinilah kecermatan Charles Gozali berperan besar memutarbalikkan pesimisme saya. Charles memahami cara pengemasan supaya line seperti di atas cukup berakhir sebagai bumbu, tidak sampai overload. Poinnya terletak pada sensitifitas guna mengetahui kapan dan seberapa banyak momen tersebut layak dimunculkan. Takaran tepat tak berlebihan memberi dampak besar menciptakan cute romance pembawa histeria ABG tapi tetap bisa dinikmati penonton dewasa. Pendekatan serupa turut berjasa menghantarkan drama keluarga hangat nan emosional kala Charles menyajikan tingkatan emosi secara bertahap lalu memuncak secukupnya.

Naskahnya (ditulis Charles Gozali, Hilman Hariwijaya dan Thjai Edwin) harus diakui lemah, terlihat dari dialog cringeworthy, atau beberapa penggampangan yang mengiringi keklisean alur. Contoh penggampangan terbesar ada pada klimaks ketika Bisma mendadak mampu menguasai jurus Karisma sewaktu berhadapan dengan Kobar (Cecep Arif Rahman). Untung Charles merupakan storyteller handal. Perjalanan alur meski predictable berujung nyaman dinikmati berkatnya. Sisi penyutradaraan bukannya tanpa cela, khususnya mengenai pembangunan suasana berisikan respon tokoh terhadap situasi tertentu. Mengapa Bella seolah "biasa saja" saat Bisma menciumnya? Mengapa Bisma terlampau santai ketika Kobar menculik wanita pujaannya itu? Kedua situasi tersebut patut jadi contoh. 
Kembali membicarakan unsur romance dan family drama, jasa besar bukan hanya di penyutradaraan tapi akting pemain ikut berpengaruh. Awalnya sulit membiasakan diri dengan gaya akting Bisma atau tepatnya keharusan sang aktor memerankan karakter cheerful sekaligus jahil bak seorang Jackie Chan, namun seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa, bahkan Bisma menjadi likeable protagonist penuh energi. Bersama Anjani Dina, keduanya menjalin chemistry kuat mencipta percintaan "imut" remaja tanpa terasa menjijikkan. Tora Sudiro menghadirkan salah satu akting terbaiknya di beberapa tahun terakhir lewat kesempurnaan karisma (no pun intended) seorang mentor. Sedangkan Cut Mini Theo sukses menyeimbangkan sisi dramatik dan komikal dalam karakternya. Sebagaimana Bisma-Anjani, kombinasi Tora-Cut Mini berjasa mengaduk-aduk perasaan pada momen menjelang klimaks. Air mata saya hampir menetes saat itu.

Koreografi adegan aksinya juga solid, ditambah keputusan Charles untuk tidak asal mengemasnya dengan tempo cepat, melainkan coba menangkap detail tiap unsur gerakan. Di sinilah Bisma makin membuktikan kapasitasnya selaku action hero, memanfaatkan kelebihan fisik plus dance skill miliknya, tercipta rentetan aksi menghibur. Bisma bahkan mampu mencuri spotlight walaupun harus beradu pukulan melawan Cecep Arif Rahman. Juara tanpa harus diragukan lagi adalah pembuktian Bisma Karisma teruntuk potensinya sebagai aktor muda Indonesia, juga Charles Gozali beserta kemampuannya menyulap kisah sederhana cenderung cheesy menjadi enjoyable sekaligus memiliki hati. Mengesampingkan lemahnya naskah, Juara adalah film pemenang berisikan cute romance, heartful family drama, solid action sequences, strong performance pula throwback menarik teruntuk film-film silat masa lalu.

5 komentar :

  1. Mas bro tolong ripiew son of saul donk hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belom sempet nonton, tapi segera :)

      Hapus
  2. melihat trailer jujur sih pesimis banget, tp setelah baca review mas rasyid, jd tertarik untuk nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobalah, walaupun mungkin beberapa part tetep terasa cheesy, aspek drama & aksinya bakal memuaskan :)

      Hapus
  3. bro,,, coba review filmnya soul surfer.. udh lumayan lama sih filmnya tapi aku suka aja.. inspiring

    BalasHapus