JANGAN DENGERIN SENDIRI (2016)

8 komentar
Diangkat dari program Oz radio berjudul sama, Jangan Dengerin Sendiri (JDS) karya sutradara Dedy Syahputra mengusung premis yang cukup menjanjikan untuk diolah menjadi urban legend horror menarik. Sebagaimana tajuk programnya, konon jika seseorang mendengarkan JDS seorang diri teror hantu akan mendatanginya. Pertanyaan "bagaimana itu bisa terjadi" punya potensi menghadirkan misteri guna menyokong film di samping kemunculan mengerikan makhluk halus, sehingga tatkala teror tak sedang mengambil fokus, penonton tetap bisa dibuat betah mengikuti perjalanan alur. Ya, saya sempat menyimpan prasangka baik bahwa Jangan Dengerin Sendiri setidaknya bakal layak disimak, tapi ternyata saya terlalu berpikiran positif. 

Film ini diawali oleh dua kisah terpisah yang nantinya akan bertemu. Pertama adalah perjalanan kru JDS mendatangi tempat-tempat angker dan kedua mengenai ekspedisi tiga orang remaja ke Gunung Sadahurip guna menyelesaikan tugas kuliah. Sekembalinya dari gunung, mereka justru kerap diteror oleh hantu nenek-nenek. Dari situlah keterlibatan kru JDS bermula, setelah ketiga remaja tadi meminta bantuan Naomi (Naomi Angelia Sea), salah satu host JDS sekaligus seorang indigo. From this point, there must be an intense exploration of mystery full of puzzling things, right? Nope, there isn't any. Jangan Dengerin Sendiri hanya satu lagi horor buruk penuh kemalasan tutur namun nihil keseraman.
Konsep menarik itu sama sekali tidak dikembangkan oleh duo penulis naskah, Muhammad Abiyoso dan Ridho Saiful Amin. Kenapa jika mendengarkan siaran JDS sendirian dapat menghadirkan teror? Jangan harap menemukan jawabannya. Kalau bertanya langsung pada pembuatnya mungkin bakal dijawab "just because" atau "mystical shit". Seolah belum cukup, dimasukkan pula mitologi Gunung Sadahurip yang lagi-lagi urung dipaparkan secara tuntas. Apa sebenarnya kalung milik Alya (Adinda Rizkyana)? Benarkah di sana terdapat piramida? Jangankan jawaban dipaksakan, film ini seolah sama sekali tak berupaya mengolah segala plot point di atas, membiarkannya tersaji mentah sepanjang durasi tanpa ada tindak lanjut. Tumpukan. misteri tersebut jadi gambaran betapa Jangan Dengerin Sendiri ingin terlihat pintar tapi tidak dibarengi kemampuan plus usaha memadahi.
Semua konflik sekedar pembuka jalan guna memunculkan penampakan demi penampakan yang nyatanya tak jauh beda dengan mayoritas film horor busuk tanah air berisi desain hantu menggelikan hingga jump scare berisik minim kengerian. Akhir-akhir ini makin banyak horor Indonesia menggunakan CGI dalam pengemasan bentuk hantu  khususnya wajah  di mana Jangan Dengerin Sendiri termasuk salah satunya. Dikarenakan keterbatasan bujet serta kurangnya kreatifitas, alih-alih mengerikan, sang hantu justru seringkali menggelikan. Sampai di sini semestinya para horror filmmaker mulai introspeksi terhadap pemakaian CGI murahan lalu mempertimbangkan pemaksimalan make-up atau practical effect. Bicara soal penampakan, kenapa pula sosok wanita berpakaian hitam di poster muncul cuma sekali? Mungkinkah hanya sebagai bukti bahwa filmnya mampu meniru desain hantu Insidious dan The Woman in Black?

Menyia-nyiakan premis menarik, itulah kekurangan Jangan Dengerin Sendiri yang paling disayangkan. Dikemas begitu malas, di samping ketiadaan momen mencekam pula misteri asal masuk, klimaks pun sekedar sambil lalu. Saya tidak heran andai banyak penonton berujar "gitu doang?" tatkala film berakhir. Akting jajaran cast pun tidak memberi nilai lebih entah akibat pengucapan dialog kelewat datar atau pembawaan akting yang membuat seorang karakter terasa menyebalkan.  'Jangan Dengerin Sendiri' isn't the worst Indonesia horror of the year, but definitely not a better one either. Apakah masih sejauh ini harapan untuk mendapat kepuasan menyaksikan suguhan horor hantu lokal? 


Ticket Powered by: Bookmyshow ID

8 komentar :

Comment Page:
Gilang Apsara mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hanif Uke mengatakan...

ini pasti nonton d byarin...haha

Andika Daffa mengatakan...

Sabar lagi bang

Rasyidharry mengatakan...

Betul sekali. Suzanna makeup sederhana tapi atmosfernya luar biasa

Rasyidharry mengatakan...

Haha lha itu ada tulisannya

Rasyidharry mengatakan...

Mencoba :D

Zulfikar Knight mengatakan...

bang, review Hail Caesar dong, katanya salah satu film terbaiknya Coen bros

Rasyidharry mengatakan...

Oh pasti, tingga tunggu aja