NOW YOU SEE ME 2 (2016)

9 komentar
Menyikapi suguhan blockbuster macam Now You See Me beserta sekuelnya ini, kadangkala perlulah kita sebagai penonton lupakan sejenak logika cerita dalam bentuk apa pun atas nama "hiburan". Menengok Now You See Me sebagai contoh, otak anda bisa rontok apabila berusaha terlalu keras mencari nalar di balik trik-trik sulap milik The Four Horsemen, karena sesungguhnya para pesulap tak ubahnya untouchable wizard jika mampu melakukan semua aksi tersebut di dunia nyata. Hal terpenting bagi film seperti ini adalah kemampuannya menyuguhkan hiburan menyenangkan. Kalau berhasil maka dengan senang hati, penonton  termasuk saya  bakal terbuai lalu melupakan setumpuk lubang logika. 

Setahun pasca film pertama, The Four Horsemen yang beranggotakan Danny Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), Jack Wilder (Dave Franco) dan seorang anggota baru bernama Lula (Lizzy Caplan) tengah bersiap melancarkan comeback mereka setelah The Eye dengan perantara Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) mengeluarkan perintah untuk mengekspos praktik ilegal seorang ahli teknologi. Namun aksi tersebut mendadak kacau akibat interupsi dari Walter Mabry (Daniel Radcliffe) yang berhasil menjebak The Four Horsemen guna memaksa mereka melakukan misi pencurian. Apabila sukses, Walter berjanji akan membersihkan nama sekaligus memberi kehidupan baru bagi keempatnya.
Memandang tatanan cerita, naskah karya Ed Solomon sangat unoriginal karena pada dasarnya sekuel ini sebatas pengulangan pendahulunya, mulai dari first hingga third act. Kemunculan tokoh-tokoh baru pun tak memberi perbedaan berarti di mana mereka hanya menggantikan peran karakter lain namun dalam kapasitas sama. Satu-satunya perubahan (kecil) adalah motivasi Horsemen beraksi, dan itu pun masih merupakan pattern familiar khas sekuel film heist sebutlah Ocean's Twelve (SPOILER: villain film pertama menjebak protagonis, memaksa mereka membantu mencuri sesuatu lalu berujung kembali ditipu oleh sang tokoh utama). Alih-alih menyuntikkan hal baru, Ed Solomon justru memaksa kisah klisenya hadir serumit mungkin lewat konspirasi berlapis penuh kejutan alur tanpa dasar yang bakal membuat mayoritas penonton tersesat kebingungan, termasuk twist menjelang akhir yang kentara sekali tidak direncanakan sedari penulisan cerita film sebelumnya.

Tapi seperti telah ditulis sebelumnya, kekurangan naskah layak dimaafkan saat kadar hiburannya mencukupi, dan sutradara John M. Chu piawai merangkai sequence demi sequence berintensitas tinggi nan memikat mata. Kreatifitas Chu mungkin belum setingkat apa yang disajikan Louis Leterrier pada Now You See Me, tapi paling tidak setiap Horsemen memamerkan trik sulap, kita selalu disuguhi pertunjukkan membius berkat pemahaman Chu akan cara menjaga intensitas sembari mempertahankan gaya supaya adegan terlihat stylish. Alhasil saya terpukau hingga melupakan pertanyaan-pertanyaan seperti "bagaimana Danny menghilang di tengah hujan?" atau "bagaimana para Horsemen punya ketepatan luar biasa melempar kartu ke sana kemari?" Scoring gubahan Brian Tyler turut menghadirkan kesan serupa, memacu adrenaline, menyunggingkan senyum ayaknya bocah pertama kali dihibur pertunjukkan sulap. 
You won't find an Oscar-worthy acting here, but the cast clearly knew how to deliver an entertaining performance. Karakter Merritt di sini lebih diarahkan sebagai comic relief ketimbang film pertamanya, dan Woody Harrelson memiliki charm, pula ketepatan timing penghantaran komedi. Sedangkan Walter Mabry meski bukan villain yang "menggigit", saya terhibur mendapati Daniel Radcliffe memberikan performa over the top. Namun pencuri perhatian terbesar tak lain Lizzy Caplan. Tampil menggantikan Isla Fisher yang harus absen karena hamil, sang aktris sukses menjadi likeable scene stealer berkat pembawaan quirky-nya, membuat penonton jatuh cinta dan menimbulkan kepedulian untuk protagonis tatkala Jesse Eisenberg menjadi "his usual annoying dick", sebagaimana Morgan Freeman tetaplah  Morgan Freeman. 

Overall, kekurangan Now You See Me 2 masih serupa pendahulunya, yakni memilih penggunaan CGI demi hiburan megah daripada penekanan terhadap penggunaan teknik sulap secara nyata. Akhirnya daya pikat film ini tergantung seberapa jauh toleransi masing-masing penonton kepada dipaksakannya kerumitan plot berlebih untuk kisah sederhana, serta pengemasan style over substance. For me, 'Now You See Me 2' is another illogical yet magical hollywood popcorn blockbuster. Entertaining enough

9 komentar :

  1. sepertinya harus punya niat senang2 ya mas buat nonton ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan nggak mungkin niatnya sedih-sedih :P

      Hapus
  2. Tapi Jesse makin ganteng hahaha :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, selera pria kita berbeda berarti *eh*

      Hapus
  3. Balasan
    1. Eh? Mananya film ini yang LGBT?

      Hapus
  4. Balasan
    1. Tunggu, ngantri sama 'Dubsmash' nulisnya haha

      Hapus
  5. Yeay udah nonton film ini dan cukup menghibur koook. Btw thank u review filmnyaa

    BalasHapus