ONE WAY TRIP (2016)

9 komentar
Sekilas One Way Trip karya sutradara Choi Jung-yeol (juga merangkap penulis naskah) ini tak memiliki perbedaan berarti dibanding sajian coming-of-age bertemakan persahabatan lainnya. Ditambah aspek road movie, mudah membayangkan para protagonis melakoni perjalanan yang membawa mereka menuju kejadian-kejadian mengejutkan penuh konflik hingga akhirnya masing-masing mendapat pengalaman berharga mengenai hidup serta pertemanan. Another lighthearted and cliche movie with good loking actor  Kim Jun-myeon a.k.a. Suho is a member of South Korean boyband EXO  as a magnet for female audience. Saya pun tidak menyangka saat One Way Trip punya banyak cerita untuk dituturkan dengan tone cukup kelam menyelimutinya. 

Film dibuka oleh adegan kejar-kejaran antara polisi dan empat orang pemuda; Yong-Bi (Ji Soo), Sang-Woo (Kim Jun-myeon), Ji-Gong (Ryu Jun-yeol) dan Doo-Man (Kim Hee-chan). Belum dijelaskan alasan dibalik pengejaran tersebut kecuali mereka terlibat sebuah kasus penyerangan. Kemudian alurnya mundur, mengungkap bahwa keempat sahabat itu melakukan perjalanan bersama sebagai acara perpisahan karena Sang-Woo akan berangkat wajib militer. Perjalanan menyenangkan itu serentak berubah 180 derajat tatkala suatu insiden menggiring keempatnya menuju serangkaian kesulitan. 
Ada ambisi besar tersimpan di balik cerita film ini. Choi Jung-yeol bukan hanya ingin menuturkan kisah persahabatan, melainkan juga kekacauan sistem hukum  beserta penegaknya  sampai penggalian akan bangkitnya sisi kelam manusia saat tengah tersudutkan posisinya. Guna mengakali tumpukan poin tersebut, Jung-yeol memanfaatkan alur nonlinier, melompat maju mundur antara sebelum dan sesudah insiden. Paparan persahabatan tokoh utama memang jadi kurang maksimal akibat kerap terpotongnya momentum serta perbedaan tone kedua timeline, sehingga saya urung sepenuhnya terikat pula terpikat dengan hubungan keempat protagonis. Tapi ibarat pengorbanan kecil sebab eksplorasi terhadap isu-isu lain mampu tergali mendalam, membawa One Way Trip jauh lebih kompleks dari kelihatannya.

Emosi penonton akan dibawa bergejolak mendapati aparat kepolisian dalam film ini hanya mementingkan terselesaikannya kasus tanpa peduli kebenaran sesungguhnya, bahkan berat sebelah kala dihadapkan pada pihak pemilik kekuatan. Cara memantik emosi itu sejatinya formula lama namun belumlah usang mengingat kejadian serupa masih jamak terjadi. Tapi aspek terbaik One Way Trip adalah kala beberapa tokoh "terpaksa" menampakkan sisi gelap mereka demi kepentingan personal entah karir, masa depan, dan lain-lain. Poin itu tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan erat dengan persahabatan, bagaimana ikatan kebersamaan terbentur hasrat menyelamatkan diri sendiri. Benturan di atas membangun dilema dalam batin saya. One Way Trip mampu membuat penonton menempatkan diri di posisi karakternya, berandai-andai bakal bersikap seperti apa jika mengalami situasi serupa. 
Ketiga lead actors  tanpa menghitung Jun-myeon mengingat minim kesempatan baginya berbuat banyak  menampilkan performa cukup apik menghantarkan tiap-tiap karakter gampang disukai berkat hadirnya beberapa tawa, sehingga ketika porsi menghabiskan waktu bersama tak begitu banyak, tidak sulit merasakan ikatan di antara mereka. Persahabatan yang believable berdampak pada kuatnya impact emosional sewaktu hubungan mereka tergoncang luar biasa. 

One Way Trip sebenarnya tetap tergolong melodrama, hanya saja Choi Jung-yeol menolak berlebihan mendramatisir. Adegan menampilkan air mata masih dipertahankan, namun dalam kadar secukupnya meski sempat beberapa kali hadir berlarut-larut semisal tangisan Yong-Bi mendekati akhir film. Ada setumpuk kesedihan  bahkan tragedi  mengiringi hidup karakternya, tapi penonton bukan sekedar diajak mengasihani, melainkan merenungi sambil mungkin sesekali mengintip sisi gelap di balik topeng normatif kita sehari-hari. Bagi saya momen paling emosional sekaligus heartbreaking adalah tatkala tiga dari tokoh utama terlibat pertengkaran, ibarat kulminasi perjalanan menuju "the dark side of human being" yang sepanjang durasi konsisten dituturkan. 'One Way Trip' isn't a fairy tale about friendship, it's a bitter truth that'll makes you question the existence of true frienship

9 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

gan, boleh review filmnya Sacha Baron Cohen "The Brothers Grimsby". Pengen tahu gimana reviewnya. sumpah lucu banget. Agannya kan suka band Oasis nih, mungkin juga agak offensive sama ini film :v

Rabian Bulan mengatakan...

Pertama kali saya lihat trailer film ini di Blitz, saya sudah jatuh hati. Bukan saya pecinta drama korea, melainkan tema yang diusung pasti menarik. Kalau tidak berhalangan, 20 Juni nanti saya akan menontonnya.

Rasyidharry mengatakan...

Haha ya, udah berniat nonton itu, dan dari tampilan karakternya aja si Cohen kayak Liam Gallagher

Rasyidharry mengatakan...

Yep, film ini jauh lebih deep & dark dibanding drama mainstream Korea lain yang temanya persahabatan :)

Rifqi SR mengatakan...

Bang ada rencana ngereview The Wailing sama The Handmaiden ga ..? Pengen tau aja gimana responnya ..

Rasyidharry mengatakan...

Oh jelas bakal nonton dua itu :)

Rifqi SR mengatakan...

Tinggal nunggu satu lagi The Age of Shadows. Lengkap dah tahun ini ;)

Rasyidharry mengatakan...

Oh film Kim Jee-woon jelas wajib tonton

Trie Kurnia waldini mengatakan...

entah kenapa waktu nonton film ini terasa sangat singkat, tiba2 udah ending aja, dan memang endingnya warbyasah...Pahit rasanya. dan memang salah satu yang terbaik tahun ini. :D