RUDY HABIBIE (2016)

13 komentar
Suatu ketika saya mendengar celetukan seorang teman. Dia berujar, "kapan ya film Indonesia bisa bikin blockbuster?", menimbulkan tanya mengenai makna blockbuster itu sendiri. Dalam perfilman, istilah tersebut umum diartikan sebagai film dengan bujet besar yang sukses meraup keuntungan besar pula. Tanpa melupakan banyak blockbuster punya kualitas penceritaan mumpuni, tujuan utamanya jelas memberikan hiburan bagi penonton. Mari sambut Rudy Habibie, film dengan DNA blockbuster kental mengalir di dalamnya. Mengapa Rudy Habibie layak masuk kategori tersebut? Mari kupas beberapa unsur yang ia miliki.

Pertama, ini merupakan sekuel untuk Habibie & Ainun yang pada 2012 lalu diserbu lebih dari 4,5 juta penonton, menjadikannya film Indonesia terlaris kedua sepanjang masa di bawah Laskar Pelangi. Jika liburan musim panas jadi momen terbaik mengeruk pendapatan di Hollywood, lebaran serta akhir tahun (November-Desember) adalah momentum bagi industri tanah air, dan seperti kita tahu Rudy Habibie dirilis menjelang lebaran (Habibie & Ainun pada akhir tahun). Keberadaan Reza Rahadian dan Chelsea Islan  bankable actor and actress  di jajaran cast turut memberi sokongan. Last but not least, Hanung Bramantyo berperan selaku sutradara. Tahukah anda bahwa selama medio 2007-2015, total ada sembilan karya Hanung bertengger di 10 besar film terlaris selama setahun?

Bertindak sebagai prekuel Habibie & Ainun, Rudy Habibie bertutur mengenai kehidupan sang titular character (Reza Rahadian) kala tinggal di Jerman guna berkuliah di RWTH Aachen. Sesekali pula kita diajak menengok masa Rudy kecil, saat obsesinya akan pesawat terbang bermula termasuk bagaimana sang ayah, Alwi Abdul Jalil Habibie (Donny Damara) setia memupuk impiannya. Filmnya sendiri membuka narasi ketika Rudy sekeluarga harus kabur dari serangan pesawat pembom milik Jepang. Opening sequence itu saja cukup menggambarkan pendekatan yang diinginkan Hanung terhadap karyanya ini. Deretan bom menghujam, kehancuran penuh ledakan, jelas Hanung berniat menciptakan suguhan dramatis bertempo tinggi.
Tatkala setting berpindah ke Jerman, menyoroti liku persahabatan Rudy bersama mahasiswa asal Indonesia lain sesama anggota PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) sampai kisah cinta beda agamanya dengan Illona (Chelsea Islan), Hanung setia mempertahankan pendekatan penuh aksi di atas, dalam arti selalu rutin menghadirkan kejadian signifikan bernuansa dramatis  kadang  nyaris berlebihan  dibalut pace cepat tanpa berlama-lama tinggal di satu titik tertentu. Scoring gubahan Tya Subiakto dan Krisna Purna senantiasa terhampar entah berupa orkestra mendayu megah mengiringi peristiwa dramatis atau dentuman ritmik intens sewaktu karakternya terancam. Alhasil momen pengeroyokan terhadap Rudy dan kawan-kawannya bak berasal dari film action/thriller, sedangkan deretan kesulitan batin Rudy ibarat setumpuk klimaks yang memuncak berulang kali. Tapi Hanung bukan sutradara murahan, membuat Rudy Habibie urung jatuh menjadi suguhan overly dramatic norak.

Naskah tulisan Hanung bersama Gina S. Noer mencakup begitu banyak persoalan, membentang dari konflik politis, agama, persahabatan, hingga percintaan. Those are still a little bit too much even with its 142 minutes running time. Eratnya persahabatan Rudy dan mahasiswa Indonesia lain sering terdistraksi oleh perseteruan internal dalam kubu PPI beserta intrik-intrik politik lain yang saat itu tengah bergejolak di Indonesia. Walau beberapa penampil khususnya Ernest Prakasa punya cukup pesona sebagai sidekick Rudy,  tipikal teman baik yang kita ingin miliki  mereka semua nampak sebatas rekan organisasi belaka daripada sekumpulan teman sebangsa yang mesti struggle bersama di tanah asing. Itulah sebabnya ketika satu konflik membawa pengkhianatan, dampak emosional tak seberapa terasa.
Untungnya setumpuk plot point tersebut bukan terpisah acak melainkan saling bertalian, sampai bermuara pada dua hal, yakni menyentuh isu persatuan sekaligus membentuk kepribadian seorang Bacharuddin Jusuf Habibie. Cinta, agama dan politik. Ketiganya ibarat segitiga tiada putus mempengaruhi satu sama lain. Persoalan agama tidaklah seberapa kontroversial, namun punya dampak terhadap percintaan Rudy dan Illona, pula bersinggungan dengan perpecahan PPI yang sempat menyinggung perbedaan status paspor (sama-sama perbedaan penghalang persatuan). Hanung pun masih sempat menyelipkan momen religi berkesan  cenderung berani  sewaktu Rudy solat di Gereja. 

Percintaan Rudy-Illona belum dan memang tidak diniati sekuat romantika abadi Habibie-Ainun. Penonton dengan harapan ingin mengharu biru lagi pasca membaca sub-judul Habibie & Ainun 2 bisa saja kecewa. Tapi seperti Ainun, kehadiran Illona berpengaruh pada berbagai tindakan Rudy, mencipta keselarasan tema pada perjalanan hidup Rudy Habibie, mengenai keberadaan sosok wanita kuat di balik seorang pria hebat. Akting Chelsea Islan sebagai Illona (lagi-lagi) kerap menyentuh batasan tipis antara kesuksesan menghidupkan wanita energetic dan overactingShould I mention how good Reza Rahadian is? Boleh saja banyak pihak melontarkan komentar miring berbunyi "Reza lagi Reza lagi", namun saya tidak keberatan andai sang aktor konsisten menghadirkan karakter variatif, mumpuni melakoni adegan komedik maupun dramatik, mampu menarik atensi penonton setiap menit.

Seusai pemutaran, saya mencuri dengar pembicaraan sepasang kekasih. Sang pria berkata "lumayan oke, tapi kurang greget nggak sih? Berapa jam ya ngomong-ngomong?" Si wanita menjawab sambil memperlihatkan jam tangannya "dua setengah jam kayaknya", yang direspon dengan keterkejutan oleh pacarnya, "Hah? Serius? Kok nggak berasa selama itu ya?" Begitulah Rudy Habibie. Mungkin tak sampai mengaduk-aduk emosi penonton layaknya film pertama, konklusi beberapa permasalahan pun terburu-buru tanpa menawarkan eksposisi memadahi, namun di saat durasi sekitar 142 menit terasa berlalu sejenak saja, itulah tanda keberhasilan suatu hiburan, blockbuster sejati menghanyutkan penontonnya. 



Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

13 komentar :

  1. Balasan
    1. Kemaren di Jogja udah premiere, tapi tanggal 30 besok reguler di bioskop kok

      Hapus
  2. Musim lebaran ini bakal banyak film baru yg akan tayang.film ini salah satu yg saya tunggu.dan syukurlah rating yg dikasih movfreak cukup lumayan..
    :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Rerata rating reviewer buat Rudy Habibie kayaknya bakal range 3.25-3.75, so it's worth watching. Jilbab Traveler juga (katanya) surprisingly good. Tinggal nunggu premiere Sabtu Bersama Bapak

      Hapus
  3. Haha. Ini pasti nontonnya sendiri. Alhasil nguping orang pacaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes haha. Seringan nonton sendiri emang

      Hapus
    2. Susah ngereview ya Bang kalau berduaan? :)

      Hapus
  4. Saya tidak memasang ekspektasi tinggi saat melihat trailer filmnya agak thriller, apalagi ada tokoh fiktif di dalamnya. Tetapi apapun itu, tiga juta penonton My Stupid Boss nampaknya bakal kembali memBoxOfficekan Rudy Habibie

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cukup yakin at least Rudy Habibie tembus 2 juta :)

      Hapus
  5. Rudi Habibie menurut saya memiliki beberapa kekurangan di antaranya perkenalan rudi dan ilona yg terlalu terburu-buru tanpa ada perkenalan dulu dan permasalahan yg di dialami rudi di saat menjadi mahasiswa terlalu bertumpuk sehingga penonton terlalu kurang fokus dibagian itu.
    Tapi disamping itu semua rudi habibie adalah film yg cukup membuat kita lebih kenal sosok dari seorang habibie atas masa lalu nya dan impian mulia nya tuk indonesia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. True! Di samping kekurangannya, RH melengkapi pengetahuan penonton untuk Habibie. Menarik nunggu rencana "Habibie Cinematic Universe"-nya MD

      Hapus
  6. Kak apa bener film ini ada post credit scene nya? Dan itu apa penasaran hehe soalny kmren keburu keluar bioskop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, teasae buat 'Habibie & Ainun 3', sayangnya saya juga kelupaan buat stay hehe

      Hapus