KOALA KUMAL (2016)

15 komentar
Cukup sering saya mendengar publik salah mengartikan "stagnansi" sebagai "signature". Metode akting beserta karakter peranan Johnny Depp bisa dijadikan contoh nyata. Sedangkan untuk perfilman dalam negeri karya-karya Raditya Dika berpotensi menjurus ke arah sana. Mendengar namanya, apa yang terlintas di pikiran orang tentu tak jauh dari lelucon lika-liku percintaan (baca: jomblo). Kita akan (selalu) menemukan sosok Dika sebagai protagonis yang sial soal urusan cinta, diejek karena tampang tidak ganteng serta postur tubuh pendek, sampai perpindahan mendadak menuju adegan absurd selaku visualisasi sebuah joke. Mengingat Koala Kumal juga merupakan adaptasi bukunya, apakah pasca peningkatan lewat Single Dika akan kembali jalan di tempat?

Seperti biasa, Dika berperan sebagai Dika sang penulis novel sukses namun tengah mengalami kebuntuan (sounds pretty much like "Manusia Setengah Salmon" right?) akibat hubungannya dengan Andrea (Acha Septriasa) kandas menjelang hari pernikahan setelah sang gadis berpaling pada James (Nino Fernandez). Setahun berselang, Dika belum juga bisa move on, hingga pertemuannya dengan gadis "aneh" bernama Trisna (Sheryl Sheinafia) yang memintanya menghadiri acara diskusi buku di book club-nya. Pertemanan mereka terus berlanjut tatkala Trisna memaksa ingin membantu Dika melupakan masa lalunya lewat rencana-rencana gila. Di sisi lain, Trisna turut menyimpan kenangan pahit akan kisah cintanya. 
Bicara soal lelucon, Koala Kumal nihil penyegaran dibanding karya-karya Dika lainnya. Mayoritas bukan humor buruk apalagi murahan, hanya saja semakin predictable akibat rasa familiar terhadap gaya Dika: absurd. That's the problem, because comedy is all about timing. Sewaktu penonton sudah dapat menebak kapan apalagi bentuk pasti sebuah humor, "daya bunuhnya" dipastikan berkurang. Belum tentu tidak lucu, namun butuh effort lebih besar guna memancing tawa. Senyuman hadir, tapi diiringi ujaran "I saw that one coming". Tidak bisa dipungkiri beberapa adegan semisal "lemas otot" di penghujung film sanggup membuat saya tergelak, tapi mayoritas humor akan terlupakan begitu keluar dari bioskop walau pada momen kemunculannya terasa menghibur.
Perubahan justru nampak pada gaya bercerita. Jelas berlebihan menyebut Koala Kumal sebagai sajian dewasa apalagi kelam, tapi untuk standar Raditya Dika, ini adalah bentuk pendewasaan. Mengusung tema "merelakan", konflik karakternya bukan sekedar kegalauan mencari pacar. Pergumulan rasa mereka lebih kompleks akibat kesulitan takdir yang juga lebih berat. Perumpamaan (terlalu) gamblang teruntuk pesan utama melalui subplot maupun dialog khas Dika tetap dipertahankan, dan hadir sedikit kedalaman emosi. Memang sedikit, tapi ada. Pemilihan konklusi untuk masing-masing karakter pun sempurna mewakili pendewasaan tutur pula pesan yang coba disampaikan. 

Pendewasaan berarti pula timbul usaha menguatkan sisi dramatik yang mana membutuhkan akting kuat. Keberadaan Acha Septriasa menunjang kebutuhan tersebut. Baik karakter maupun performanya mungkin terkesan ringan bila dibanding beberapa output dramatic-nya belakangan, namun tak berarti dangkal. Still a solid performance, but Sheryl Sheinafia definitely stole the spotlight. Sosok eksentriknya bahkan sedari menit pertama selalu memiliki magnet yang begitu kuat menggaet perhatian untuk kemudian memancing tawa sekaligus kecintaan saya terhadap karakter Trisna. Pada akhirnya penonton turut bisa memahami alasan di balik tingkah laku unik Trisna ketika rahasia mengenai dirinya terungkap. Sheryl Sheinafia feels like a giant meteorid flying at the speed of light through the atmosphere called "Indonesian movie industry". Tapi bagi Raditya Dika, Koala Kumal merupakan batas dan keengganan berkembang setelah ini dapat berpotensi kemunduran teratur. 

15 komentar :

  1. Balasan
    1. Akhir koala kumal udah bisa didownload disini koala kumal

      Hapus
  2. Entah kenapa Dika enggan "mengambil lebih banyak" dari karya-karya idolanya (Woody Allen). Btw, ini salah satu review di blog ini yang paling enak dibaca :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, influence itu terasa tapi dikit banget.
      Wah makasih ya :)

      Hapus
  3. Grafik karya Dika memang naik turun ya. Belum stabil.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berani eksplorasi, potensinya gede :)

      Hapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Jilbab Traveler sama ILY 38K feet bakal direview juga gak bang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pasti. Semoga weekend ini :)

      Hapus
  6. Coba nonton film sing street bang, keluaran terbaru kok 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, filmnya John Carney jelas wajib tonton

      Hapus
  7. Sheryl Sheinafia feels like a giant meteorid flying at the speed of light through the atmosphere called "Indonesian movie industry" itu maksudnya apa ya? q bingung mengartikan maknanya. hehehhe salam buat penulis karena review2 bagus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksudnya Sheryl lagi melaju kencang, potensial buat jadi salah satu aktris oke di film Indonesia, apalagi dia mau jadi Ratna di "Galih & Ratna".
      Makasih ya hehe

      Hapus
  8. klo dibandingin film sebelumnya yg Single masih banyak tawa di single, tapi koala kumal jg oke lah buat ngocok perut versi galau~
    #susahmoveon

    Download Allegiant (2016) Bluray

    BalasHapus
  9. Bagian paling lucu nih film, ketika radit pake baju hobit, berakibat fatal.
    Yg mau download kesini aja :

    download koala kumal

    BalasHapus