PRENJAK (2016)

6 komentar
(THIS REVIEW CONTAINS SPOILER!)
"Apakah perlu?" merupakan pertanyaan yang harus kita lontarkan tatkala sebuah film hadir membawa kontroversi  apapun bentuknya, seberapa tingkatannya. Keperluan mempertanyakan keperluan dapat membawa penonton menemukan kesimpulan subjektif mengenai substansi pengemasan film tersebut. "Prenjak" karya Wregas Bhanuteja yang sukses meraih kemenangan di seksi International Critic's Week Festival Film Cannes tahun ini sempat memunculkan perdebatan mengenai itu. Perlukah mempertontonkan alat kelamin secara vulgar dalam satu karya seni? Perlukah  atau lebih tepatnya pantaskah  filmmaker menyodorkan the ugly truth bangsa ini pada orang asing (juri) di saat banyak sisi kultural "membanggakan" lain?

Wregas mengangkat fenomena "intip kelamin" yang bertempat di pinggiran rel stasiun Tugu, Yogyakarta, di mana para pelacur kelas bawah memfasilitasi konsumen dengan sebatang korek api yang dihargai sekian ribu rupiah untuk mengintip alat kelamin mereka. Tapi protagonis "Prenjak" bukanlah pelacur dan klien, melainkan dua pegawai sebuah rumah makan, Diah (Rosa Winenggar) dan Jarwo (Yohanes Budyambara). Memasuki istirahat makan siang, Diah yang menyatakan sedang butuh uang menawari Jarwo mengintip kelaminnya memakai korek api yang tiap batang dihargai 10.000 rupiah. 
Seingat saya belum ada film Indonesia baik panjang maupun pendek memperlihatkan kelamin segamblang "Prenjak". Kelamin dalam film ini bukan semata-mata alat reproduksi atau ekskresi. Sebagai alat vital yang sifatnya privat, kelamin bisa dipandang sebagai bentuk ketelanjangan. Ketelanjangan rasa pula jati diri. Muncul ketersiratan mengenai perasaan Jarwo pada Diah ketika ia membicarakan perlunya Diah bersuami layaknya "kode", bersedia memberi uang, hingga rasa cemburu saat Diah berniat menawarkan korek api bagi pegawai pria lain. Kemudian Diah pun melakukan hal serupa sewaktu Jarwo menawarinya 60.000 rupiah asal Diah bersedia gantian mengintip miliknya. 

Terdapat bentuk interaksi proses saling mengenal, ketertarikan, lalu pendekatan dalam kegiatan intip mengintip itu. Saat giliran Jarwo, ia bak tengah memulai usaha "mencapai" Diah. Korek api pun sempat secara tak sengaja menyentuh selangkangan Diah yang diresponnya dengan "ojo cedhak-cedhak" sebagaimana timbulnya rasa risih seorang wanita tatkala pria terlampau agresif terhadapnya. Ketika giliran Diah mengintip, awalnya ia menutup mata, namun begitu hitung mundur hampir berakhir (Jarwo memberi waktu 30 detik), ia membuka mata, bagai memilih membuka perasaannya, menolak melewatkan kesempatan.
Nyatanya bukan cuma hubungan pria dan wanita dalam konteks cinta-mencintai atau ketertarikan yang Wregas sajikan. Ada patriarkisme yang disimbolkan oleh kuasa Jarwo membuat Diah mengintip kelaminnya bermodalkan iming-iming 60.000 rupiah. Konklusi yang membuka alasan Diah menawarkan korek api turut menyinggung bentuk kuasa pria atas wanita. Tapi menengok karakterisasi Diah, jelas ia bukan wanita lemah. Mungkin ia tersudut oleh kekuatan pria-pria di sekitarnya, namun sesungguhnya itu dia lakukan sebagai bentuk pengorbanan penuh kekuatan serta kasih sayang teruntuk "seekor prenjak" berukuran kecil. 

Wregas piawai bernarasi, yang mana terlihat dari hidupnya dinamika sepanjang 13 menit durasi. Interaksi dua protagonis amat renyah hingga beberapa kali mengundang tawa. Adegan mengintip juga intens, membuat saya menahan nafas layaknya Diah dan Jarwo di bawah meja berkat nuansa klaustrofobik hasil pencahayaan yang hanya mengandalkan nyala korek api. Kurang tersaji justru dampak emosional akibat hadirnya distraksi dari kegamblangan sensualitas. Fokus (sebagian) penonton akan lebih banyak tersedot ke dalam usaha mengolah paparan metafora ketimbang sepenuhnya terseret aliran emosi kisahnya. Akhirnya, "Prenjak" meski kuat sebagai suguhan metaphorical, tak seberapa selaku paparan dramatik. Bagi mereka yang telah familiar akan praktek "intip kelamin" daya hentak film pun jadi terasa biasa.

Kembali lagi, perlukah kevulgaran? Tentu terdapat setumpuk jalan lain guna menuturkan tema-tema tadi, namun pilihan Wregas tidak keliru, hanya salah satu dari sekian opsi, walau tanpa sentuhan vulgar sekalipun pesan tetap dapat tersampaikan. Namun sentilan "semestinya ada cara lain" sama saja kita meminta Tarantino menghilangan kekerasan, Lynch menanggalkan surealitas, atau Weerasethakul mempercepat tempo film. Selalu ada pilihan lain yang berarti masing-masing pilihan tidak keliru. Soal layak atau tidak membawa sisi kelam ke publik luar jelas bukan urusan Wregas. Sebagai seniman dia sekedar mencurahkan kegelisahan teruntuk tekanan berlebih supaya tunduk pada moralitas semu. Jika output-nya dianggap ekstrim  oleh beberapa kalangan  wajar, sebab gunung berapi pun bakal menggila letusannya semakin lama ia tidur. 

6 komentar :

  1. nonton dimana?

    BalasHapus
  2. Kemaren ada screening film-film pendeknya Wregas di Jogja

    BalasHapus
  3. How lucky you are can watch this movie.
    Bisa ditonton dimana, nih?

    BalasHapus
  4. wah ketinggalan, ada even serupa lagi kapan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pastinya kurang tahu, tapi bisa lihat-lihat di akun twitter filmmaker-nya. Pasti bakal di-update

      Hapus