"RING" VERSUS "JU-ON"

19 komentar
Menyambut Sadako vs. Kayako yang (kemungkinan) bakal rilis di Indonesia bulan Agustus nanti, saya mencoba menonton seluruh installment dari franchise Ring dan Ju-On tanpa menyertakan remake buatan Hollywood. Memulai perjalanannya semenjak 1998, total ada enam film Ring (di luar Ring: Kanzenban selaku film televisi keluaran 1995), sedangkan Ju-On yang mengawali terornya pada tahun 2000 memiliki delapan film. Both are such a great example of what J-Horror did best. Maka, sebelum Sadako dan Kayako bertempur bulan depan, mari tengok, secara kualitas, franchise mana yang lebih unggul. 
Saya akan memulai dari Ring.

RING (1998)
Tidak perlu penjelasan panjang, film garapan Hideo Nakata ini adalah J-Horror terbaik sepanjang masa. Atmosfer terbangun kuat, paparan misteri menarik, plus kemunculan Sadako yang walau sekilas, sempat menghilangkan keberanian saya meneruskan filmnya. Scary as hell! (4.5/5)
RASEN (1998)
Rasen dirilis secara bersamaan dengan Ring dan hasilnya flop hingga kerap disebut sebagai "forgotten sequel". Pendekatannya jauh berbeda, berfokus pada creepy imageries yang kadang terasa sureal. It's not a good sequel to "Ring", but as a standalone, "Rasen" is a good one. Dreamy, disturbing, sensual. Hanya di sini Sadako digambarkan sebagai horny bitch. (4/5)
RING 2 (1999)
Dibuat guna "menyingkirkan" Rasen selaku sekuel, Ring 2 lebih setia dengan pendahulunya. Punya jalinan cerita berbalut misteri engaging, usaha klimaksnya mengaitkan kekuatan Sadako dan sentuhan sains yang konyol serta penampakan tak seberapa seram menjadikannya inferior dibanding Ring. (3/5)
RING 0: BIRTHDAY (2000)

Menjelaskan asal muasal Sadako menghilangkan sisi misterius serta kengerian sosoknya, terlebih kala film ini didominasi melodrama (literally) belakang panggung daripada dreadful feeling. Not a bad melodrama, but definitely a disappointing entry for this franchise. While "Rasen" gaves us a horny bitch Sadako, this movie has the cutest version of her.  (2.5/5)
SADAKO 3D (2012)
"Ringused to be a social criticism about society and technology, and what an irony when technology itself ruined the franchise. Tsutomu Hanabusa mengeksploitasi efek pop up 3D, menjadikan Sadako nampak menggelikan layaknya parodi-parodi mengenai sosoknya yang banyak bertebaran. Also, what the fuck is that spider-like version of "Sadako"(1/5)
SADAKO 3D 2 (2013)
Still glossy but far from being eerie, this one is a slight improvement. Visualnya memikat mata, dan momen lucu yang unintentional jauh berkurang. Tapi jejak kengerian masih tak bisa diketemukan. (1.5/5)

Mari berpindah menuju Ju-On. 

JU-ON: THE CURSE (2000)
Tanpa alur kuat dan lebih berbentuk vignette ketimbang pemaparan narasi, saya dibuat jatuh cinta oleh nuansa low budget-nya. Suasana lebih mencekam nan realistis, bak melihat penampakan hantu dalam family home video. (4/5)
JU-ON: THE CURSE 2 (2000)
Beberapa aspek film pendahulunya seperti slow building tension, teknis minimalis, sampai  deretan gambar mengerikan masih dipertahankan. Satu-satunya poin minus adalah fakta bahwa 30 menit pertama film ini adalah pengulangan dari ending film pertama. (3.5/5)
JU-ON: THE GRUDGE (2002)
Biaya lebih besar memberi Takashi Shimizu kesempatan menjauhkan kesan "amatiran" dari filmnya. Sayang, hal itu justru sedikit melucuti kekuatan atmosfer. Banyak memunculkan Kayako sebagai bayangan hitam pun menjadi poin negatif. (2.5/5)
JU-ON: THE GRUDGE 2 (2003)
Shimizu menyuntikkan modifikasi konsep dasar tanpa harus merusak. Beberapa segmen mencuatkan daya tarik lewat pembauran aspek ruang dan waktu. This one has enough mystery and scary imagery. (3.5/5)
JU-ON: WHITE GHOST (2009)
White Ghost mengembalikan nuansa low budget, which is a good thing. Beberapa segmen awal cukup mengerikan, bahkan terdapat salah satu jump scare terbaik dalam sejarah Ju-On. Sayang, makin mendekati akhir, "hantu nenek putih pembawa bola basket" makin menggelikan. It has enough gore and subtle yet interesting story about sexual abuse. (3/5)
JU-ON: BLACK GHOST (2009)
Berkebalikan dengan White Ghost, Black Ghost punya awal menggelikan sebelum ditutup oleh segmen-segmen mengerikan, shocking, dan tragis. Yuri Nakamura turut mencuri perhatian sebagai cenayang. Sayangnya itu agak terlambat pasca 40 menit membosankan. (2.5/5)
JU-ON: THE BEGINNING OF THE END (2014)
Reboot ini berusaha jalinan alur yang lebih terikat, menyatu satu sama lain. Bukan hal bijak, karena anachronistic order-nya terasa pointless. Keberadaan progresi alur tiga babak membuktikan itu. The killing moments are pretty good. (2/5)
JU-ON: THE FINAL CURSE (2015)
Titik nadir bagi Ju-On. Terlalu berusaha keras memunculkan cerita utuh, anachronistic order yang makin tak berguna, eksploitasi terhadap Toshio pun membuatnya makin tak menyeramkan. There are too many unintentionally funny moments. What a disappointing final. (1.5/5)

Conclusion:
Kedua seri sama-sama mengalami penurunan kualitas plus kehilangan identitas, namun Ring jauh lebih parah. Konsep video kutukan dan nuansa film berubah ke sisi negatif. Sosok Sadako pun inkonsisten. Asing rasanya menyejajarkan Ring dengan Sadako 3D 2. Nasib Ju-On nyaris serupa, untung saja nyawa franchise masih bertahan. Toshio masih Toshio yang sama meski tak lagi mengerikan. Kayako beberapa kali menggelikan namun tetap mampu menebar teror. Seburuk apa pun salah satu entry milik Ju-On, setidaknya rasa miris melihat gadis-gadis tak bersalah tewas mengenaskan selalu mengiringi. Pemenang dari pertarungan ini adalah JU-ON. 
"Ring" average rating: 2.75
"Ju-On" average rating: 2.81

19 komentar :

Comment Page:
Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

pantesan update nya lama, nonton semua film ring dan juon
niat sekali nih bang
hahahah

Angga Saputra mengatakan...

bang film sabtu bersama bapak,hijab traveler dan koala kumal di review dong..

Beritman mengatakan...

Kapan ni review film indonesia nya ? Sebelum nonton film indonesia kayaknya butuh pencerahan di sini dulu biar ga mubazir beli tiket bioskopnya ��

Rasyidharry mengatakan...

Haha yes, baca-baca review luar banyak homage buat film-film lama soalnya

Rasyidharry mengatakan...

Baru nonton kamis/jumat/sabtu besok nih

Rasyidharry mengatakan...

Hehe sabar ya, pertengahan minggu ini dan semoga plus "Prenjak"

hilpans mengatakan...

Idem bang film indonesia yah.. Review tokcerny dtunggu bgt..dag dig dug si abng bakalan kasi bintang brpa. Blom k bioskp sblum bc tuntas blog ini

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

sabtu bersama bapak punya modal cerita yg bagus dr novel, sekilas nonton trailer sih penggambaran tokoh dari novel tidak sesuai ekspetasi saya
semoga aja film tidak berakhir mengecewakan

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

hijab traveler baca baca sih katanya bagus
kalo kuala kumal ,tinggal bayangin film radit yg lain, paling ngga jauh kaya gitu

Angga Saputra mengatakan...

saya hanya nonton yg sabtu bersama bapak menurut sya film ini bermakna sekali...bagian drama dan comedinya pas

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

emang penuh makna sekali sabtu bersama bapak, punya motivasi yang jelas yang membuat saya juga merenung dan menjadi pribadi lebih baik setelah baca novelnya

Zulfikar Knight mengatakan...

Tarzan mana tarzan? Pingin lihat review jelek lagi :v

Billy Simamora mengatakan...

Yupp padahal udh ditunggu banget review film Indonesia-nya waktu lebaran inii.. Mungkin lagi mudik kalii yaa :D

Billy Simamora mengatakan...

Yess Sabtu Bersama Bapak pesannya dapet,akting para cast-nya juga keren.. Di awal film saya rasa berjalan begitu cepat sehingga kurang terikat dgn para tokohnya.. Tapi di pertengahan menarik untuk diikuti,porsi drama dan komedinya pas.. Well,film ini lumayan kokk.. Paling terasa sih kalo nontonnya bareng sama keluarga *itu yang saya rasakan* :)

Rasyidharry mengatakan...

Waha makasih makasih. Semoga sabar menunggu

Rasyidharry mengatakan...

Waduh kayaknya lewat deh, nunggu Mbak Margot di Suicide Squad aja

Rasyidharry mengatakan...

Yes, dari kemaren mudik di tempat tanpa bioskop :)

Rizal Faizin mengatakan...

Holy, itu semua download apa nonton di bioskop min ?

Rasyidharry mengatakan...

Haha ya nggak ada dong di bioskop film selawas ini