SABTU BERSAMA BAPAK (2016)

17 komentar
Film merupakan produk kolektif yang tersusun atas berbagai unsur. Berangkat dari situ dapat terbentuk situasi di mana satu (atau beberapa) aspek tampil begitu baik sehingga mampu menutupi setumpuk kekurangan lainnya. Diadaptasi dari novel berjudul sama karya Adhitya Mulya (turut menjadi penulis naskah), Sabtu Bersama Bapak garapan sutradara Monty Tiwa ini merupakan contoh kesekian untuk situasi di atas. Bermodalkan penampilan memukau jajaran cast-nya pula ikatan personal penonton  termasuk saya  dengan kisahnya, this highly anticipated movie ended up as one of the most satisfying movie of the year so far even with some of its flaws.

Tanpa berbasa-basi, Monty langsung membuka filmnya dengan adegan emosional berbalut musik mendayu gubahan Andhika Triyadi, berharap penonton seketika mengharu biru saat Gunawan Gamida (Abimana Aryasatya) mendapati hidupnya takkan lama lagi akibat kanker. Menyadari dia tidak mendapat kesempatan melihat kedua puteranya, Satya dan Cakra tumbuh dewasa, Gunawan memutuskan merekam banyak video yang satu per satu bakal diputar bagi anak-anaknya tiap hari Sabtu. Awalnya saya bertanya-tanya, apa maksud tindakan dan konten video tersebut. Apakah sekedar demi mengobati rasa rindu atau memberikan pembekalan bagi Satya dan Cakra yang tak sempat Gunawan lakukan?
Seiring cerita bergulir, ternyata jawabannya adalah hal kedua. Satya (Arifin Putra) dan Cakra (Deva Mahenra) tumbuh dewasa berbekal wejangan-wejangan sang bapak yang mereka tonton setiap Sabtu, dan berusaha menerapkan ilmu ajaran Gunawan dalam segala permasalahan mereka. Satya kini telah menikah dengan Rissa (Acha Septriasa), memliki dua anak dan tinggal di Prancis. Sebagaimana sang bapak, Satya turut menyusun rencana jangka panjang terstruktur walau sayangnya ia tak pernah hadir untuk keluarganya akibat pekerjaan. Sedangkan Cakra walau karirnya juga sukses, mengalami kesulitan mencari pacar akibat kecanggungannya yang mana sering jadi bahan ejekan para anak buahnya di kantor. 

Bagaimana seorang anak melakukan mirroring terhadap bapaknya merupakan salah satu pembangun dinamika utama Sabtu Bersama Bapak. Normalnya, kondisi itu wajar terjadi, apalagi pada kondisi dalam film ini, ketika kerinduan atas sosok yang amat mereka cintai mendorong Satya dan Cakra menelan seutuhnya rangkaian pesan sang bapak. Pembangunan karakter jadi believable karena itu meski kurang dipaparkan mengapa Cakra berujung lebih bijak menyikapi pelajaran yang ia terima. Setidaknya kita memperoleh alasan di balik segala keputusan mereka berdua. Pesan mengenai tidak pernah hilangnya sosok bapak walau dia telah tiada pun mampu tersampaikan seutuhnya.
Sayang, sebagai film berjudul Sabtu Bersama Bapak, kuantitas penonton ikut menghabiskan hari Sabtu bersama sosok bapak terasa begitu minim akibat lompatan setting waktu antara masa Satya dan Cakra kecil menuju dewasa terlampau cepat. Kita sekedar diperlihatkan hasil, hasil dan hasil tanpa diajak mengamati prosesnya secara mendetail. Risikonya, penonton bakal berjarak dengan karakter, menghalangi terciptanya keterikatan emosi yang mana penting dimiliki oleh suguhan melodrama semacam ini. Sinematografinya yang berusaha terlalu keras supaya nampak cantik pun berujung kekurangan serupa. Pemakaian lens flare berlebihan tak pada tempatnya acapkali mengganggu hadirnya gejolak emosi. I was really annoyed, it often prevented me from being emotionally invested. 

Untungnya hadir penyelamat berupa kesuksesan akting para pemain menghantarkan rasa. Acha Septriasa kembali capable menghidupkan karakter likeable penggaet simpati sekaligus piawai menangani adegan emosional dengan kokoh tanpa berlebihan. Satu momen berisi pertengkaran Satya dan Rissa yang berkat luapan emosi Acha  dan Arifin Putra  akan membuat penonton tertegun membisu. Sabtu Bersama Bapak juga menghadirkan sentuhan komedi dalam story arc Cakra. Deva Mahenra sempurna menangani awkward-nya Carka kala mesti berhadapan dengan perempuan. Ekspresi, kecanggungan gerak, hingga lontaran kalimatnya konsisten memunculkan gelak tawa. Jennifer Arnelita pun sanggup mencuri perhatian lewat keabsurdan kocak sosoknya, hal yang sudah sering ia capai sebagai supporting actress di banyak film.

Kemudian ada Abimana Aryasatya yang meski dalam kapasitas terbatas (mostly bicara lewat video) berhasil mencuatkan kehangatan seorang bapak. Setiap tutur katanya terdengar penuh kasih sayang yang bahkan sedari awal sudah mengalirkan air mata saya. Kedekatan emosional itu memang lebih mudah dirasakan oleh penonton pemilik "story" dengan sosok bapak, entah pernah terlibat perselisihan atau telah ditinggal pergi untuk selamanya. Terdengar subjektif? Tentu saja, karena menonton film merupakan pengalaman spiritual personal yang akan meninggalkan dampak berbeda pada tiap penonton tergantung kisah hidup masing-masing. 

17 komentar :

  1. scane pertengkaran acha dan suami nya memang cukup membuat diri ini terdiam...porsi drama dan comedi nya pas menurut saya.memang ada beberapa kekurangan seperti alur yg terlalu terburu2 di awal tpi saya pribadi memberikan 4 bintang tuk film ini...menurut sya film ini yg paling bgus di antara 5 film indo yg lagi tayang..

    BalasHapus
  2. Kemungkinan besar bakal berpendapat sama. ILY from 38000 feet nggak menjanjikan. Tinggal Jilbab Traveler yang mungkin unggul.

    BalasHapus
  3. saya belum nonton, tapi sudah baca novelnya. Review di paragraf ke-5 ini (exc lens flare) memang sudah berasa ketika baca novelnya. Bagaimanapun saya nontonnya ntar sendirian aja kalo udah dapat donlodannya hahaha...khawatir ketauan orang kalo saya nangis.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan donlot dong kalau film Indonesia :))

      Hapus
    2. hahaha...ga nemu juga kan?...ada saran?

      Hapus
    3. Yupp setuju.. Jangan donlot gratisan film Indonesia.. Tapi kalo Hollywood masih 'diperbolehkan' :)

      Hapus
    4. Hollywood terserah soalnya nggak semua masuk sini :)

      Hapus
    5. Setuju Bang Rasyid. Menonton film Indonesia menambah pendapatan negara lewat pajak, menyelamatkan mata pencaharian aktor, sutradara, kameraman, make Up artist dan seluruh kru film.

      Hapus
    6. Betul. Ditambah industri film kita tahun ini lagi mulai jaya, 7 film sudah dapat 1 juta penonton lebih. Mari didukung :)

      Hapus
    7. Dan ini masih bulan Juli.. Optimis nih sampe akhir tahun bakal ada 10 film nasional yg tembus 1 juta lebih penonton (bahkan lebih?) :)

      Hapus
    8. Cukup yakin at least ada 10 judul. "Bangkit" dan "Warkop DKI Reborn" jadi yang potensial nyusul

      Hapus
  4. 1. Deva mahenra di sitkom TMG emang udah biasa meranin peran "awkward" kaya gini, jadi ga heran kalo dia gampang bisa bikin org ketawa
    2. setuju, kayanya judul "Sabtu Bersama Bapak" jadi kurang pas sama filmnya, kenapa engga "Pesan Dari Bapak" atau "Video Dari Bapak" ajaa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya karena filmnya diangkat dari judul novel yang sama, mz.

      Hapus
  5. Trailernya benar benar menipu :) Emosi yang dihasilkan oleh aksi Abimana bisa diimbangi aksi Deva cs. Galau dapat, fun nya dapat.

    BalasHapus
  6. Kalau buat gue, yang ganggu itu malah 2 anaknya si Satya. Emang sih masih anak-anak, tapi nggak bisa gitu nyari yang lebih luwes sedikit actingnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, mereka aktingnya kaku, dan dari cerita Acha, proses casting film ini secara keseluruhan emang mepet yang itu jadi alasan kurangnya akting pemeran bocahnya.

      Hapus
    2. Ooh... dicasting juga? Tadinya gue kira 2 bocah itu anaknya si produser atau siapa supaya 'dititipin' di film ini. Hehehe.

      Hapus