TRIANGLE: THE DARK SIDE (2016)

21 komentar
Saya ingat kerap menghabiskan masa kecil duduk di depan televisi, dibuat terperangah oleh aksi sulap Deddy Corbuzier. Fast forward sekitar lima belas tahun kemudian tepatnya saat ini, image sang mentalist telah berubah begitu banyak. Vakum dari dunia sulap dan lebih dikenal lewat tingkah sekaligus komentar arogan, he's basically the magician version of Ahmad Dhani. Mengundang atensi melalui tiga film pendek "Triangle" yang sempat mencuatkan konflik dengan Gareth Evans akibat ketiadaan honor sekaligus minimnya pengamanan dalam pengemasan adegan fighting, Deddy akhirnya merilis versi film panjang yang memiliki sub-judul "The Dark Side".

Film ini dibuka dengan credit sequence yang cukup stylish dan mengingatkan pada gaya Nayato Fio Nuala. Awalnya saya optimistis. Barangkali itu kebetulan dan Deddy selaku sutradara memang punya visi guna mempercantik tampilan filmnya. Sampai akhirnya nama director of photography terungkap, yang tak lain dan tak bukan adalah Nayato sendiri. Makin was-was ketika saya mendapati bahwa Deddy tidak menyutradarai "Triangle: The Dark Side" sendirian, melainkan berduet bersama Ian Nguyen Lampa, yang sebagaimana kita ketahui merupakan nama alias lain Nayato Fio Nuala. 
DNA Nayato mengalir kencang pada teknik pengadeganan khususnya tata visual dengan setumpuk gaya yang sejatinya tak perlu diaplikasikan  pencahayaan kelewat gelap, freeze transition antar adegan, beberapa camera angle "unik", dan lain sebagainya. Nayato memang selalu style over substance di mana rentetan gaya di atas tak memiliki signifikansi bahkan cenderung menurunkan kualitas film. Koreografi aksi sejatinya cukup baik khususnya kala Deddy memamerkan teknik wing chun. Tapi camerawork Nayato membunuh potensi terciptanya pertarungan memikat. Seolah ingin menjadi Paul Greengrass, shaky cam kerap digunakan. Kombinasikan teknik tersebut dengan gelapnya pencahayaan plus resolusi gambar yang rendah, anda harus siap pusing meski kepala tidak ikut terkena pukulan.

Paling mengecewakan tentunya kemunculan Chris John. Mungkin bermodal teknik bela diri miliknya dan gaya tinju Chris John, Deddy berniat menghadirkan pertarungan serupa Donnie Yen-Mike Tyson di "IP Man 3", namun pengemasannya medioker  terlalu cepat berakhir, tanpa usaha membangun intensitas, koreografi ala kadarnya. Ditambah lagi, bukan Chris "The Dragon" John sang juara tinju dunia dalam kondisi prima yang kita dapat, melainkan Chris John bertubuh tambun yang terlihat awkward baik saat memamerkan jurusnya maupun melontarkan baris kalimat.
Naskah yang ditulis Haqi Achmad, Deddy Corbuzier, Chika Jessica dan Volland Humonggio turut meramaikan parade keburukan "Triangle: The Dark Side". Pada aspek inilah kita bisa merasakan Deddy Corbuzier beserta ambisi besarnya menyuguhkan kompleksitas menjatuhkan kualitas penceritaan. Terlampau banyak karakter diperkenalkan sambil lalu semata-mata demi menggambarkan kacaunya kehidupan sang protagonis  Maya Muaya, Sys NS, Chris John  atau sebagai comic relief tak lucu  Asri Welas, Babe Cabita. Ketiadaan substansi jelas kentara, karena tanpa kehadiran mereka pun alur film takkan terganggu, bahkan besar kemungkinan lebih tertata pula tergali mendalam.

Karakter Deddy digambarkan mengalami trauma akibat kematian sang istri (Sandra Dewi). Itu pula yang mendorongnya ingin berhenti bekerja sebagai pembunuh. Maka dari itu ketika muncul Chika Jessica selaku love interest baru, penonton harus dibuat percaya bahwa sang wanita punya kelebihan sehingga Deddy mau beranjak dari masa lalunya. Tapi yang muncul hanya romansa cheesy penuh dialog dangkal "aku sayang kamu" khas FTV. Bertambah menggelikan melihat Deddy yang sepanjang film berusaha memasang ekspresi "tough guy" mendadak tersenyum, malu-malu kucing di depan Chika. Tidak perlulah terus menerus menekuk muka supaya terlihat macho. Tengok Vin Diesel dan Dwayne Johnson. Keduanya juga botak, kekar, dan tampak kuat tanpa harus memasang muka constipated. 

Twist di ahir memang dipaksakan kemunculannya, hanya memikirkan daya kejut tanpa memperhatikan keterkaitan dengan apa yang telah dibangun sepanjang durasi, namun ending-nya yang membuat saya menurunkan penilaian terhadap film ini. Itu bukan konklusi film, melainkan langkah marketing (a bad one) yang mengkhianati penonton. Bayangkan anda membayar puluhan ribu rupiah dan alih-alih diberikan proper ending malah dipaksa membeli buku karya "the one and only" Damien Dematra. "Triangle: The Dark Side" sebenarnya bisa menjadi sajian aksi menghibur andai dibuat oleh filmmaker yang paham cara mengeksekusi action yang baik.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

21 komentar :

  1. LOL gatau kenapa gue udah pesimis duluan gara2 ngeliat trailer nya di youtube yg mirip FTV

    BalasHapus
  2. Imej yg sudah dibangun Deddy bertahun-tahun lamanya rusak akibat sebuah film yg tak jelas.
    Aku lebih suka ketika ia memegang sebuah kartu, itu lebih bikin ku terkejut daripada film ini

    BalasHapus
  3. Wowww ratingnya rendah banget. Dan yeaah, sudah diduga bakal ada romansa cheesy dialog dangkal. :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah sering kasih lebih rendah kok :D

      Hapus
  4. Bagaikan menghadiri sebuah seminar membosankan dan diakhiri dengan narasumber jualan buku. Oopps, Baginda Nayato Did it Again .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nayato + Sys NS + Damien Dematra = COMBO!

      Hapus
  5. hahaha, liat trailernya aja udah ga nafsu saya :D

    BalasHapus
  6. review film Uang Panai dong, mas rasyid Harry

    BalasHapus
    Balasan
    1. Besok ya, lihat ditugasin film apa :)

      Hapus
  7. Awas loh mas, nanti dicari sm om Dedy. Lol

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serem juga dianggap pencemaran nama baik hhaha

      Hapus
  8. Singkat aja mas, apa Ekskul itu film terbaik pangeran nayato? *sorry OOT*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di luar scoring yang ngejiplak, yes, itu film terbaik Nayato. Sebenernya film-film lain kayak Butterfly nggak jelek sih, di pertengahan 2000-an at least Baginda masih "serius" garap filmnya.

      Hapus
  9. Menurut saya ini adalah hal yang paling keren dari seorang deddy corbuzier, Megaaah..!!.
    Eh tapi bercanda ding..

    BalasHapus
  10. Thkz bang udh d revieu. Wah mau nntn jd ragu2 neh ... hee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Simpen aja duitnya buat banyak film Indonesia bagus yang banyak rilis di September :)

      Hapus
  11. Film ini terlalu dipaksakan dibuat

    BalasHapus
  12. film ni ajang balas dendam deddy dengan gareth evans, tapi gagal , secara jauh lah dibandingkan film garapan gareth, ngeliat trailer aja kualitas suara pukulan kayak film laga indosi*r

    BalasHapus
  13. Movfreak....bahas film dont breath donk

    BalasHapus