ATHIRAH (2016): KEKUATAN DI BALIK KELEMBUTAN

13 komentar
Film biografi terbaik Indonesia dalam beberapa tahun terakhir  kalau bukan sepanjang masa  telah hadir. Digarap oleh Riri Riza (AADC 2, Laskar Pelangi) dengan naskah juga ditulis oleh Riri bersama Salman Aristo (Mencari Hilal, Sang Penari), "Athirah" membuktikan bahwa biopic bisa bercerita tidak secara episodik dan mengkultuskan tokohnya, dua penyakit yang kerap menjangkiti biopic tanah air. Kita semua mengenal Jusuf Kalla, tapi bagaimana dengan sang ibunda? Jika belum, adakah urgensi untuk mengangkat kisah hidupnya ke layar lebar? Menengok kondisi sosial masyarakat tatkala isu seputar agama serta wanita tengah banyak mewarnai, kehadiran "Athirah" menjadi relevan.

Cerita dimulai pada awal 1950-an ketika Athirah (Cut Mini) beserta sang suami, Puang Ajji (Arman Dewarti) pindah dari Bone ke Makassar untuk membuka usaha di sana. Semua berjalan lancar: usaha dagang Puang Ajji sukses besar, Athirah hamil, dan mereka sekeluarga hidup bahagia, selalu menghabiskan makan malam bersama. Kemudian Riri Riza mulai menyibak tabir konflik mengenai ketertarikan Puang Ajji akan wanita lain. Tidak secara gamblang, melainkan amat subtil, sekedar cuplikan momen-momen pendek seperti saat Puang Ajji berada di sebuah pesta, tersenyum ke arah wanita yang bahkan tak pernah nampak wajahnya. 
"Athirah" dikemas bak film arthouse berhiaskan tempo alur lambat, steady shot guna meng-capture alam atau barang milik karakternya, juga pengungkapan poin-poin cerita sebatas melalui visual tanpa penuturan verbal nan gamblang. "Athira" enggan menyuapi penonton, memaksa kita sepenuhnya fokus memperhatikan detail pengadeganan. Namun itu bukan hal sulit, sebab Riri merangkai tiap momen dengan perasaan, mengalunkan secara perlahan keindahan lembut seperti kasih sayang Athirah terhadap keluarganya. Apalagi scoring garapan Juang Manyala yang memadukan petikan gitar post rock dengan musik tradisional Sulawesi jadi pengiring syahdu penopang suasana. Beberapa kali editing-nya kasar saat harus menyelipkan sepotong adegan pendek, namun tidak sampai mengacaukan flow penceritaan.

Riri Riza dan Salman Aristo jeli mengambil titik esensial dalam hidup Athirah, merangkumnya ke dalam naskah sebagai satu kesatuan utuh ketimbang penyatuan segmen demi segmen. Menonton "Athirah" pun jauh dari kesan membaca visualisasi buku pelajaran sejarah. Tentu sosok Jusuf Kalla atau yang sering dipanggil Ucu (diperankan Christoffer Nelwan saat remaja, Nino Prabowo saat dewasa) terlalu "besar" untuk dikesampingkan, tapi bukan berarti fokus film terenggut olehnya. "Athirah" membagi porsi penceritaan ibu dan anak itu secukupnya, menunjukkan dengan efektif bahwa Ucu adalah anak yang kuat. Tidak pula filmnya berlebihan memberi foreshadowing mengenai masa depannya, sekedar satu momen singkat (muncul di trailer) sewaktu Athirah memasangkan kopiah di kepala puteranya.
Serupa tokoh Athirah, filmnya berjalan lembut dan pelan, namun pasti, juga tegas dalam berpesan. Terlihat dari caranya mengkritisi Puan Ajji selaku pemuka agama terhormat dan selalu memimpin solat berjamaah namun justru berselingkuh, mengkhianati sang istri yang tengah hamil. "Athirah" tidak serta merta menyudutkan Puan Ajji (atau agamawan lain dengan tingkah serupa), tapi membiarkan penonton mengobservasi lalu terhanyut dengan sendirinya. Kritikan itu terasa lembut tapi menusuk tajam, seperti Athirah sendiri. Tidak pula film ini berurai air mata, mengeksploitasi kegetiran perjuangan wanita menghadapi poligami. Bukti bahwa Riri Riza dan Salman Aristo sungguh memahami, juga menghormati tokoh yang mereka angkat. 

Tapi bukan berarti Athirah digambarkan sebagai sosok sempurna. Dia pernah merasa putus asa akibat sikap sang suami, kemudian mendatangi dukun untuk meminta pelet (lagi-lagi situasi ini hanya dituturkan lewat visual, non-verbal) walau berujung kegagalan. Athirah tetap ditampilkan selaku manusia biasa, karena mengagumi berbeda dengan pemujaan buta dan mengkultuskan. 

Athirah adalah wanita lembut namun kuat sekaligus pintar, yang terlihat dari keberhasilannya menyokong finansial keluarga  menjual sarung lalu keuntungannya dipakai membeli emas  walau kondisi perekonomian masyarakat tengah carut marut termasuk sang suami. Cut Mini memberi performa solid yang bersinergi dengan kesubtilan tutur filmnya. Sang aktris tak banyak "meneriakkan" emosi, melainkan bermain lewat bermacam tatapan yang masing-masing menyiratkan perbedaan rasa. Tanpa sadar saya turut merasakan cinta dan respect pada Athirah. Begitu senyumnya menutup cerita, ada kepuasaan telah mengarungi 80 menit, mengamati perjuangan berskala kecil namun bermakna besar seorang wanita tegar.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

13 komentar :

Comment Page:
Rina A mengatakan...

Jadi ga sabar pengen nonton.

Angga Saputra mengatakan...

mantap rating nya..hari senin rencana nya baru mau nonton..

hilpans mengatakan...

Bg rasyid, apakah Akting ny cutmini rada rada mirip buk mus waktu d laskar pelangi

Rasyidharry mengatakan...

Beda kok :)

Anna B mengatakan...

Keknya filmnya seru nih, jadi penasaran. Btw udah pernah nonton The Exorcist TV series sama Scream Queens belom?

Amatir dalam Hidup mengatakan...

Baru baca paragraf pertama udah jadi yakin yups mesti nonton film inii. Thankyouu reviewnyaaa x))

Rasyidharry mengatakan...

Duh, skeptis sama series-nya Exorist

Rasyidharry mengatakan...

Joss!

yazuli al amin mengatakan...

Pertama lihat trailernya disutradarai oleh Riri Riza dan ditulis oleh Salman aristo dan ditambah ada Jajang c Noer gak bakalan terlewatkan
Dan ternyata ga sia sia ,memang minim dialog tapi sangat mengaduk-aduk perasaan , sedikit sekali dialog christoffer nelwan terdengar sampai part menceritakan pertemuannya dengan indah Permatasari .
Note: saking sukanya sama Jajang c Noer saya sampai meneteskan air mata saat dia nyanyi/nembang ( gak tau apa bahasa makasarnya) saya suka banget sampai film hantu kuburan tua saya tonton gara2 ada dia

Anna B mengatakan...

Walau gk sebagus AHS tapi teteplumayan seru kok

lailatur rohmah mengatakan...

Jadi penasaran mas apalagi dgn kalimat film biografi terbaik. Btw review nya mas Rasyid sampe ada di ig nya Dian Sastro ni. Mantap mas

Rasyidharry mengatakan...

Sempatin tonton ya sebelum turun dari bioskop :)
Haha iya tuh, kebetulan Mbak Dian posting gambar yang dibikin Miles dari review ini

lailatur rohmah mengatakan...

Iya mas. Disempetin nanti soalnya bioskop terdekat g nayangin film ini. Nasib film sendiri di negeri tercinta