COMIC KONG X KONG (2016)

13 komentar
"Comic Kong X Kong" adalah film Indonesia dengan nilai 0 (nol) keempat tahun ini. Tentu butuh lebih dari sekedar kualitas buruk supaya hati saya tergerak memberi angka tersebut, mengingat seburuk apapun suatu karya pasti ada satu sisi layak mendapat apresiasi. Film terbaru karya Yan Senjaya  pembuat masterpiece berjudul "Cin...Tetangga Gue Kuntilanak"  ini tak hanya hancur di setiap sisi, namun menyembunyikan segala kebusukan di balik sambul "film anti-korupsi". Karena yang lebih rendah dari film jelek adalah film jelek yang mengatasnamakan diri sebagai pembawa pesan moral. Ibaratnya ada seseorang kentut sembarangan di tengah keramaian dengan alasan supaya gas tidak mengendap menjadi racun dalam tubuh.

Biasanya butuh beberapa menit sampai tercium aroma sampah milik suatu film, tapi "Comic Kong X Kong" seolah ingin to the point, menolak mengulur waktu, langsung membuktikan kebusukannya. Sedari adegan pembuka saat kedua protagonis, Muslim (Tretan Muslim) dan Gitong (Denny Gitong) tiba di Jakarta guna mencari kerja, telinga saya sudah dibuat sakit akibat Okky Priharmoko sang penata suara malas menghilangkan noise. Hampir sepanjang film, dialog tenggelam di balik kebisingan, seperti berusaha mendengar seseorang bicara di landasan pesawat. Semakin ramai ketika scoring dipaksakan masuk, menambah gemuruh kekacauan perusak indera pendengaran penonton. 
Saya tidak naif mengharapkan "Comic Kong X Kong" memperhatikan logika penceritaan. Komedi berkualitas semisal "Anchorman: The Legend of Ron Burgundy" pun disusun oleh narasi tak masuk akal mengenai sosok-sosok bodoh sebagai pembaca berita. Lalu kenapa ketika Muslim dan Gitong, dua pengangguran tanpa skill mumpuni diminta Detektif Yenny (Nabila Putri) menjadi informan rahasia guna meringkus koruptor bernama Bos Belut (Mo Sidik), saya kesulitan menerima? Tidak lain akibat kegagalan film menciptakan karakter likeable dan lelucon lucu yang dipicu tingkah laku mereka. Sepanjang 87 menit durasi, keduanya selalu mengacaukan situasi, bertingkah bodoh, memasang ekspresi mesum.
This movie filled with some extreme absurdities (in a negative way). Absurditas muncul sejak Muslim dan Gitong kencing sembarangan lalu menyebabkan meledaknya sebuah patung berbalut CGI sekelas sinetron Indosiar  terjadi berulang kali, even worse  sampai film diakhiri oleh carut marut klimaks yang (entah bagaimana) diharapkan memancing tawa penonton. Saya sama sekali tidak tertawa sepanjang durasi, namun bukan soal perbedaan selera humor belaka, melainkan dipicu keengganan film menghargai penontonnya. "Comic Kong X Kong" dibuat dengan production value begitu rendah, komedi bodoh asal masuk, plus tambal sulam alur seenaknya. Jangan berharap filmnya memberi penjelasan memuaskan tentang perubahan drastis alur dari kisah dua pemuda mencari kerja menuju kekacauan investigasi korupsi melibatkan ketok magic bagi manusia hingga boneka teluh. 

Ditambah lagi, film ini masih berusaha menghantarkan pesan anti-korupsi di tengah berbagai kebusukan tadi. Padahal jujur saja, bagaimana cara pembuat "Comic Kong X Kong" mempresentasikan filmnya tidak jauh lebih baik dibanding aksi koruptor. Menyajikan karya asal-asalan dengan kualitas serendah ini tepat sewaktu industri perfilman tanah air tengah merangkak naik berpotensi menciptakan stigma negatif di kalangan masyarakat, menghalangi perbaikan kondisi film Indonesia. Atau mungkin Yan Sanjaya dan rekan sengaja menciptakan kebusukan selaku penyeimbang di antara rangkaian komedi mengesankan seperti "My Stupid Boss" atau "Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1" supaya kita tidak cepat puas. Sungguh niatan mulia. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

13 komentar :

  1. Tau The Blackcoat's Daughter gk?

    BalasHapus
  2. Jirrr ngerii bangett... Biasanya nilai review ditampilkan pada akhir review.. Ini gw belum buka artikelnya aja udh bisa liat nilainya nol... kayaknya masih ngga terima waktunya terbuang sia-sia utk nonton film kayak gini hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pengalaman yang menyakitkan!

      Hapus
  3. "Sungguh niatan mulia." Another words of wisdom by Bang Rasyid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emang gini kok efek kebanyakan nonton film jelek. Lebih bijak dan dewasa :D

      Hapus
  4. langsung ngomel2 dr awal, hahaha
    abis filmnya juga to the point ya, jelek dr awal

    BalasHapus
  5. Yah. Gak main di kota saya Bang .....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main pun nggak usah nonton kalau masih pengen sehat :D

      Hapus
  6. Ngeri ya bang nilainya. Hahaa

    BalasHapus
  7. Wkwkwk... berarti panggilan ibadah kaum vividism nih XD

    BalasHapus
  8. baru liat trailernnya aj udh mau muntah gw :v

    BalasHapus
  9. Anonim11:45 AM

    Ane berhasil lolos gak nonton ni film, tapi malah nonton film yang lebih "Joss" DPO

    BalasHapus