ME BEFORE YOU (2016)

8 komentar
Diangkat dari novel berjudul sama karya Jojo Moyes  juga menulis naskah filmnya "Me Before You" adalah satu lagi romansa tearjerker yang mengeksploitasi penyakit sebagai pengganjal kisah kasih dua protagonisnya. Di atas kertas terdengar sappy dan dangkal layaknya film-film Nicholas Sparks, debut penyutradaraan Thea Sharrock ini berada di kelas berbeda berkat performa cast serta pondasi kuat sumber adaptasinya. Tentu rasa klise masih mendominasi penceritaan seperti berkembangnya benci jadi cinta dua manusia beda kasta atau pria egois yang disibukkan oleh kegiatan tanpa kepekaan pada keinginan sang kekasih. 

Will Traynor (Sam Claflin) punya hidup sempurna: kaya, tampan, doyan melakukan aktivitas pemacu adrenalin yang identik dengan maskulinitas (baca: olahraga ekstrim). Hingga sebuah kecelakaan merenggut semua itu, membuatnya mengalami quadriplegic alias kelumpuhan kedua kaki dan tangan. Seketika Will berubah menjadi pemurung, sinis, selalu mengurung diri dalam kamar. Sementara itu, gadis ceria bernama Louisa Clark (Emilia Clark) tengah mencari pekerjaan demi menghidupi keluarganya. Mendesaknya kebutuhan ekonomi membuat Louisa nekat melamar pekerjaan sebagai caregiver bagi Will meski nihil pengalaman.
Mengenakan pakaian norak berwarna cerah, Emilia Clark bergerak lincah, memasang senyum lebar dengan mata berbinar sebagai Louisa. Her cheerful nature is likeable, menimbulkan pertanyaan apakah itu semata alasannya diterima bekerja. Tapi pesonanya memang sulit ditolak, mudah disukai sehingga terasa believable jika gadis ini mampu mengubah sikap Will. Setiap kemunculan Clark memancarkan energi penarik atensi yang setidaknya bakal membuat penonton tersenyum. Chemistry-nya bersama Claflin yang penuh charm tanpa berusaha keras terlihat keren terjalin kuat sekaligus natural, mencipta interaksi manis kala keduanya bertukar komentar bernada sarkas daripada paparan overly dramatic romantic sequence
Mengangkat konten sensitif mengenai penderita disabilitas, nyatanya film ini bukan eksplorasi serius nan mendalam. "Me Before You" memposisikan diri sebagai film pop berisikan lagu-lagu Ed Sheeran yang berfokus menghantarkan romantika ringan. Keputusan tersebut dapat dipahami namun tetap patut disayangkan mengingat tema disabilitas layak diberi bobot treatment lebih. Padahal menilik pemilihan ending-nya, tersimpan potensi eksplorasi terhadap tendensi suicidal yang jauh lebih kelam pula kompleks ketimbang sekedar tragedi percintaan. "Cinta bukan segalanya, cinta tidak selalu mampu menyelesaikan setiap persoalan". Pemaparan anti-love menarik ini sayangnya urung mendapat sorotan.

What a waste indeed, tapi setidaknya "Me Before You" bukanlah tearjerker yang berlebihan mengemis tangisan penonton. Konflik dihadirkan dalam takaran seperlunya, tidak dipaksa muncul sebanyak mungkin. Sebagai contoh, kedua orang tua Will tak bertugas menambah rumit keadaan. Sekali saja tersulut pertengkaran  sekedar perbedaan pendapat mengenai ekspresi rasa sayang kepada anak  setelahnya mereka setia memberi dukungan. Everything in this movie is about supporting each other. Sederhana, tanpa gesekan-gesekan tak perlu. Beautifully filmed, "Me Before You" merupakan drama romantika sederhana namun nyaman diikuti.

8 komentar :

  1. Serasa The Intouchables versi wanita & pria..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Versi romance lebih tepatnya :)

      Hapus
  2. kang rasyid, ga tertarik review the BFG ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah nonton cuman belum sempet review aja

      Hapus
  3. Bang review film thriller judulnya HUSH dong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah masuk daftar tonton kok, tunggu aja :)

      Hapus
  4. Bang rekomendasiin film persahabatan dewasa kayak intouchables, dan rekomendasiin film thriller comedy, kyak shaun of dead, dead snow, tucker n dile,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horror/Comedy bisa coba Zombieland, Bad Taste, Evil Dead klasik. Kalo friendship coba Frances Ha, 50/50, Withnail and I

      Hapus