MISS PEREGRINE'S HOME FOR PECULIAR CHILDREN (2016)

5 komentar
Menyebut Tim Burton telah sepenuhnya kehilangan sentuhannya saya rasa agak berlebihan. Tengok saja dua film terakhirnya. "Frankenweenie" adalah stop-motion bernuansa gothic memikat, sedangkan "Big Eyes" jadi biopic dengan cukup hati dalam presentasinya. Tapi harus diakui, Burton tak lagi visioner tatkala bagai membuat parodi untuk visual trade mark-nya dalam "Alice in Wonderland" dan "Dark Shadows". Burton bak terkekang oleh paksaan industri yang menganggap visinya kurang universal (bukan konsumsi semua umur). Alhasil ia lupa cara menuangkan visi tersebut, selain hanya berupa style over substance tanpa daya untuk menyokong penceritaan. 

"Miss Peregrine's Home for Peculiar Children" yang diangkat dari novel berjudul sama karangan Ransom Riggs berkisah mengenai anak-anak dengan kemampuan aneh yang tinggal di bawah asuhan Miss Peregrine (Eva Green). Terdengar seperti materi sempurna bagi sang sutradara bukan? Saya pun menanti-nanti bakal seperti apa Burton menghidupkan dunia berisikan anak-anak "aneh" tersebut. Kesabaran saya diuji tatkala filmnya menghabiskan durasi cukup lama di "dunia normal", memperkenalkan penonton pada Jake (Asa Butterfield), remaja 16 tahun dengan kehidupan biasa cenderung membosankan yang karakterisasinya nihil perbedaan dibanding banyak protagonis dari kisah young adult bertemakan from zero to hero.

Jake menjalin kedekatan dengan sang kakek, Abe (Terence Stamp) yang saat Jake kecil kerap menceritakan kisah pertemuannya dengan monster dan anak-anak asuh Miss Peregrine. Suatu malam, Jake menemukan kakeknya terbaring sekarat di hutan belakang rumah dengan kondisi tanpa mata. Sebelum meninggal, Abe mengucapkan beberapa pesan yang akhirnya menggiring Jake mendatangi sebuah pulau di dekat Wales yang ditengarai merupakan letak rumah Miss Peregrine. Sampai titik ini daya tarik film belum nampak, terlebih setting dunia normal membatasi eksplorasi Burton. Namun antisipasi akan kemunculan para peculiar children masih menjaga antusiasme saya.
Sewaktu akhirnya kita sampai di rumah Miss Peregrine, penyegaran pun seketika terasa, sebagaimana Jake dibuat terperangah oleh Emma (Ella Purnell) yang begitu ringan hingga mampu melayang, Olive (Lauren McCrostie) dengan kemampuan pyrokinetic, Enoch (Finlay MacMillan) yang sanggup menghidupkan orang atau benda mati, serta masih banyak lagi kemampuan aneh, termasuk Miss Peregrine sendiri yang bisa bertransofrmasi menjadi seekor burung. Ketiadaan nuansa gothic maupun surealisme visual selaku dekorasi nyatanya bukan permasalahan ketika sense of wonder tetap hadir melalui keunikan anak-anak. They're unique, likeable, and fun to watch even though their interaction lack of bonding.

Lemahnya ikatan diakibatkan lemahnya pula naskah garapan Jane Goldman. Saat tidak ada kekuatan atau visual unik dipamerkan, film kehilangan magnet. Naskahnya turut kelabakan menangani aspek time looping selaku satu lagi kelebihan Miss Peregrine. Demi menghindari terjangan bom pesawat Jerman, tiap harinya Miss Peregrine memutar ulang waktu, sehingga ia dan anak-anak selalu hidup di hari yang sama tanpa pernah bertambah tua. Ada banyak aturan mengenai siapa, kapan, bagaimana atau di mana loop itu terjadi. Goldman berusaha keras memaparkannya, namun susunannya tidak rapi merangkai hal-hal yang (terlalu) banyak terjadi. 

Sejatinya "Miss Peregrine's Home for Peculiar Children" menyimpan esensi tentang discovery, baik berupa tempat baru, hal baru, pula self-discovery. Sayang, naskahnya gagal menangkap semua itu dan berujung sebagai petualangan generik belaka. Kekurangan ini sifatnya fatal, sebab kegagalan menangkap lalu mempresentasikan esensi sebuah cerita adalah bentuk kegagalan naskah. 
Kita belum mendapat totalitas idealisme Burton, tapi paling tidak absurditas sempat muncul semisal dalam memanfaatkan stop-motion untuk memunculkan benda-benda yang dihidupkan oleh Enoch. Puncaknya adalah pertempuran antara pasukan tengkorak melawan monster hollow  makhluk abadi pemburu peculiars yang memakan mata mereka supaya kembali berwujud manusia  di taman bermain yang sedikit mengingatkan pada salah satu adegan "Jason and the Argonauts" (1963). Burton kentara bersenang-senang menciptakan pertempuran tersebut, dan saya pun tersenyum bahkan tertawa puas menikmatinya. 

Soal performa cast, Eva Green  masih dengan mata tajamnya  paling menarik perhatian, mengedepankan weird mannerism kesukaan Burton dalam takaran pas, eksentrik tapi tidak annoying (I'm looking at you, Depp). Tiap tatapan maupun baris kalimat pendek selalu kuat menarik fokus. Sayang, ia lebih banyak absen di third act. Samuel L. Jackson sebagai Mr. Barron sang villain tampil over the top, dan di situ daya pikatnya. Sukses menghidupkan scene bahkan mengundang tawa. Sebaliknya, justru Asa Butterfield sang main protagonist gagal memancing kepedulian saya saat mayoritas kemunculan diisi kekosongan emosi tanpa pesona. Apalagi tak sekalipun Jake melakukan tindakan heroik atau useful demi memancing simpati (satu ini kesalahan naskah).

"Miss Peregrine's Home for Peculiar Children" mengandung banyak unsur kelam mulai kematian, keterasingan, hingga kekerasan. Cukup mengejutkan sekaligus menghibur tatkala filmnya bersedia mendorong batas kekerasan untuk PG-13, tapi itu saja belum cukup sewaktu tata cerita enggan melakukan keputusan serupa. Bayangkan apabila film ini digarap oleh Tim Burton era sebelum 90-an yang bebas menyalurkan kegilaan visi tanpa peduli walau hasilnya kurang memihak pasar. That version of  "Miss Peregrine's Home for Peculiar Children" could be one of the best movie of the year

5 komentar :

Comment Page:
free mengatakan...

Yg paling kurang bagiku itu si tokoh utama, Jake, kok tiba2 disukai tanpa ada sebabnya. Aku pikir nanti si Jake ini jadi semacam penghubung antara masa depan dan masa lalu. Kan si anak2 ini bosan hidup terus-menerus di tempat itu, terus si Jake membawa bermacam mainan dan teknologi dari masanya yg membuat anak2 terhibur dan akhirnya mereka menyukai Jake. Lha di film ini si Jake malah cuman plonga-longo aja, eh tiba2 disukai.

Rasyidharry mengatakan...

Yes, setuju. Tambah lagi aktingnya Asa flat

Dana Saidana mengatakan...

Satu lagi yang masih menjadi misteri buat saya Mas.

Bagaimana proses terciptanya Loops atau circle waktu itu kok gak dijelaskan ya.
Hanya dengan masuk ke sebuah gua terus tiba-tiba kita sudah berada di waktu yang berbeda.
Bikin sakit kepala saya kalau terus memikirkan caranya spt apa Mas.
Saya jadi berasa nonton Doraemon dengan pintu kemana ajanya.

angga riawan mengatakan...

saya sangat suka bgt sama karya tim burton, tapi di film ini, benar2 membuat saya merasa "Weird" bgt sm karakter, dan akhirnya di 20 mnt terakhir saya pun ngantuk dan hampir tertidur...
meski dalam keadaan ngantuk2 ayam, saya pun masih bisa memahami ceritanya daaann...masih bertanya kenapa circle itu bisa terbentuk...haha

Rasyidharry mengatakan...

Yea, better to think that way, kayak pintunya Doraemon. Lebih dari itu nanti pusing sendiri :D