SANG SEKRETARIS (2016)

17 komentar
Setelah sepanjang karirnya menjalin keakraban dengan produser Shankar RS, rupanya Nayato Fio Nuala punya sahabat baru. Beliau adalah Sys NS. Tahun ini keduanya telah berkolaborasi sebanyak tiga kali. Pada "Triangle: The Dark Side", Sys NS menjadi produser, sedangkan Nayato menjabat produser eksekutif. Ketika Sys NS menyutradarai "Pacarku Anak Koruptor", Nayato adalah produsernya. Lewat "Sang Sekretaris", gantian Nayato menyutradarai dan Sys NS memproduseri. Isn't that sweet? Sudah barang tentu saya takkan melewatkan film garapan kombinasi emas baru perfillman Indonesia ini. Apalagi terdapat nama Nikita Mirzani sebagai aktris utama.

Anda pikir film ini sampah kelas berat? Jangan berprasangka buruk terlebih dulu. Karena setidaknya selama setengah jalan, "Sang Sekretaris" masih tidak seberapa memusingkan diikuti. Nikita Mirzani berperan sebagai Tiara, sekretaris baru di kantor Reno (Rico Verald). Semenjak pertemuan pertama di lift langsung terasa benih-benih asmara (atau nafsu?) di antara mereka. Tapi sayang seribu sayang, Reno sudah menikah dengan Clara (Angel Karamoy) dan memutuskan berhenti menjadi playboy. Namun manusia identik dengan khilaf, apalagi dalam kondisi mabuk. Di tengah pesta ulang tahun temannya, Reno tanpa sengaja bertemu Tiara, berjoget bersama sebelum akhirnya berhubungan seks.

Semestinya saya berhenti menuliskan sinopsis sampai di sini, tapi berhubung telah banyak plot point diungkap trailer-nya, saya putuskan untuk lanjut. Ternyata Tiara diam-diam merekam tindak mesumnya dengan si bos. Secara mengejutkan Tiara bukan orang yang materialistis. Daripada memanfaatkannya untuk memeras Reno demi mendapat milyaran rupiah, ia mengancam bakal mengirim video tersebut pada Clara jika Reno enggan menceraikan sang istri dalam waktu sebulan. Seperti nampak di trailer, konflik berujung pada perkelahian maut Reno melawan Tiara (bersenjatakan pisau!!!). 
Seperti saya sebutkan di atas, separuh perjalanan "Sang Sekretaris" tidaklah merusak otak. Berlangsung datar nan predictable tanpa ketegangan maupun plus diisi paparan drama super dangkal, namun naskah garapan Aviv Elham tidak mencoba "aneh-aneh". Kualitasnya memang buruk. Ketimbang memacu ketegangan atau eksplorasi drama psikologis, penonton lebih banyak disuguhi pembicaraan berisi dialog dangkal antar karakter. Minimnya kreatifitas menjalin situasi pula terlihat ketika momen berikut diulang berkali-kali: 

Reno berjalan mendatangi Tiara.
Reno: Apa sih yang kamu mau?! Uang???
Tiara: (menggoda Reno dengan gestur sensual) Aku nggak butuh uang kamu
Reno: (semakin marah, lalu berteriak) Lalu mau kamu apa?!!!
Tiara: Aku mau kamu menceraikan istri kamu.

Tingkat repetisinya nyaris menandingi adegan Cynthiara Alona diantar pulang oleh bosnya di "Diperkosa Setan". Disebut erotic thriller pun, filmnya kurang trashy sekaligus terlalu malu mengumbar sensualitas hanya bermodal satu adegan foreplay dan baju-baju terbuka Nikita Mirzani yang tidak mungkin dikenakan sekretaris di dunia nyata. Tapi sekali lagi, ketiadaan usaha sok pintar membuat saya bisa bertahan menyaksikan paruh pertama "Sang Sekretaris". Sampai tiba paruh kedua.
Di sinilah kegilaan memuncak. Twist bodoh dipaksakan hadir guna menjabarkan motivasi tindakan Tiara. Keputusan menjadikan Tiara sebagai karakter dengan kelainan psikologis justru menggandakan dosis kebodohan akibat ketidakjelasan sebab-akibat serta disorder miliknya. Kita sekedar diperlihatkan sebuah obat dengan label bertuliskan "Obat Depresi"  mana ada label obat seperti itu? Karakterisasi dua tokoh lain sama buruknya. Reno adalah pria menyebalkan yang "play victim", enggan mengakui kesalahan, kerap berbohong pada sang istri dan gemar mabuk. Sedangkan Clara begitu bodoh alih-alih tampak sebagai seorang wanita baik sekaligus istri penyabar. How about the acting? Rico Verald melontarkan tiap kalimat begitu datar, Angel Karamoy terlihat bodoh ketimbang polos, dan Nikita Mirzany...well, there's a difference between a sensual performance and slutty. Kita tahu persis ia bakal memberi penampilan yang mana. But at least she's more entertaining than the other performers.

Masih banyak kebodohan lain termasuk setumpuk plot hole seperti saat salah satu tokoh mencoba bunuh diri, sudah berdarah-darah tapi tidak dibawa ke rumah sakit. Perjalanan menuju puncak juga terburu-buru, di mana Aviv Elham bak kehabisan ide cerita lalu memutuskan segera mengakhirinya. Klimaks yang semestinya menegangkan dan brutal tersaji tumpul, menggelikan dan terlalu cepat usai. Tapi jangan khawatir, bagi para fans Nayato, sederet trade mark Baginda semisal adegan diskotik, sudut kamera aneh, poster film klasik yang terpasang tanpa alasan jelas kecuali membuktikan bagusnya selera film Nayato  poster "Straw Dogs" di living room Reno dan Clara? Really?  masih muncul, just in case penonton lupa tengah menonton film karya siapa. Selamat bagi Nayato dan Sys NS! Kolaborasi kalian masih konsisten menghasilkan film buruk.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID

17 komentar :

  1. Emang tu poster nongol teruss d tiap film nya baginda mas rasyid?hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak kok varian poster film lain, coba cek aja :D

      Hapus
  2. Kenapa orang dengan selera film yang bagus bisa menghasilkan film yang busuk? Agak aneh sih...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nayato tahu film bagus kayak gimana dan dulu (2000-an) masih nggak busuk-busuk amat asal naskahnya kuat. Masalahnya makin ke sini makin nggak peduli

      Hapus
  3. ... dan si nikimir matinya dipukul jam weker.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin itu metafora cerdas Nayato yang artinya "waktu dia telah tiba" haha

      Hapus
  4. Bang coba lihat film baru swiss army man deh tahun 2016

    BalasHapus
  5. Cocoknya blog ini dikasih gambar emoticon ketawa, sungguh aku ngakak baca review nya. Ahahaha luar biasa . . .

    BalasHapus
    Balasan
    1. The worse the movie, the funnier its review *eh*

      Hapus
  6. Cocoknya blog ini dikasih gambar emoticon ketawa, sungguh aku ngakak baca review nya. Ahahaha luar biasa . . .

    BalasHapus
  7. Dulu ada film Indonesia yang temanya mirip kayak gini, judulnya SKANDAL yang main Uli Auliani. Tapi menurut gue kok itu bagus ya? Kirain ini film bakalan kayak gitu juga. Btw, Nayato masih belum insaf juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh, "Skandal" emang lumayan bagus sebagai erotic thriller/drama, at least Jose Purnomo (naskah+sutradara) mau kasih bobot di storytelling. Baginda satu ini mustahil insaf :D

      Hapus
  8. Ada adegan2 halu gak, mas? Kan biasanya Baginda selalu nyelipin adegan serem tapi ternyata cuma mimpi buruk yg bikin tokohnya kaget pas bangun. Hahaha.

    BalasHapus
  9. nanti review film athirah ya bang.. bagus kayaknya

    BalasHapus
  10. entah feeling atau apa,melihat dari Posternya saja sudah "UGH!!",dan ternyata Reviewnya benar lol

    BalasHapus
  11. Amat sangat bersyukur tidak nonton film ini di bioskop karena sudah berkali2 dikecewakan dengan karya horor sutradara yang alter-egonya buanyak, tapi untungnya karya drama sutradara satu ini tidak semuanya mengecewakan

    BalasHapus