TRAIN TO BUSAN (2016)

8 komentar
"The first South Korean zombie apocalypse movie". Status tersebut sudah cukup menarik atensi penonton terhadap film karya Yeon Sang-ho yang sempat diputar pada Festival Film Cannes tahun 2016 ini. "Train to Busan" merupakan contoh ketepatan suatu langkah awal. Para pembuatnya menolak muluk-muluk, memilih berfokus pada memaksimalkan formula standar: tempatkan sekelompok orang dalam zombie outbreak, soroti usaha mereka bertahan hidup, munculkan nuansa terperangkap dengan hanya memakai setting lokasi terbatas. Kalaupun ada perbedaan  sejatinya tak signifikan  mungkin terletak pada kentalnya unsur melodrama khas sinema mainstream Korea Selatan.

Sentuhan melodrama terpampang jelas dari fakta bahwa masing-masing survivor tengah bersama orang tercinta. Sebagai protagonis yaitu Seok-woo (Gong Yoo), pria egois minim kepedulian pada pihak lain yang tengah menuju rumah mantan istrinya di Busan guna mengantar sang puteri, Su-an (Kim Su-an). Sebagai fund manager, mudah bagi banyak orang memberi cap "penghisap darah" untuknya, dan mudah pula bagi penonton menebak jika perjalanan ini bakal mengubah Seok-woo, memantik sisi kemanusiaannya. Ada juga Ma Dong-seok  kembali menjadi pria kuat  sebagai Sang-hwa yang istrinya, Seong-kyeong (Jung Yu-mi) tengah hamil. Beberapa karakter lain pun serupa, sedang bersama orang terkasih.
Pada akhirnya hanya empat nama di atas saja yang mendapat eksplorasi, padahal tokoh lain turut menyimpan potensi berupa ciri selaku pembeda, dan apabila dimanfaatkan mampu menjalin interaksi dinamis sebuah kelompok. Mereka tak lebih dari cannon fodder, alhasil ketika terjadi kematian, emosi saya urung bergolak. Untung para tokoh utama sukses menggaet atensi, khususnya Sang-hwa tatkala Ma Dong-seok piawai mengkombinasikan senyum seorang suami hangat dan pria tangguh berkemampuan fisik tinggi yang sanggup menghajar puluhan zombie. Sedangkan Yong-suk (Kim Eui-sung) adalah pria menyebalkan yang dengan senang hati akan penonton benci. 

Sebagaimana telah saya singgung, "Train to Busan" bersenjatakan formula minim inovasi. Walau situasinya berbeda, teror para zombie masih menggunakan pola familiar  kejar-kejaran, usaha memblokade akses masuk zombie. Di sini kemampuan Yeon Sang-ho membangun intensitas mengambil peran. Sedari awal, saya dibuat harap-harap cemas mengantisipasi terjadinya serbuan di kereta melalui perpindahan adegan cepat menyoroti tiap sisi gerbong beserta kegiatan penumpangnya. Serangan pertama terasa mengerikan tanpa perlu menggebrak berkat tampilan serta gerak tubuh creepy para zombie. "Train to Busan" mengembalikan kengerian zombie yang bukan sekedar monster tanpa otak berwajah rusak. 
Sedikit mengecewakan saat kadar gore ternyata begitu minim, namun "Train to Busan" mengganti kebrutalan dengan konsistensi intensitas. Ketegangan senantiasa mengiringi karena deretan tokohnya hanya manusia biasa yang lemah nan rapuh, bukan action hero termasuk Sang-hwa yang sekedar pria terkuat di antara penumpang lain, bukan militer atau status lain yang kerap disematkan pada protagonis supaya penonton memaklumi kehebatannya beraksi. Meski mempunyai kadar aksi, "Train to Busan" tetap banyak berisi usaha menarik karakternya menyusun strategi untuk melewati hadangan zombie semisal memanfaatkan handphone atau bagasi.

Selipan dramanya juga serupa, minim inovasi dan terasa familiar namun berhasil dimaksimalkan. Bicara zombie apocalypse, tentu timbul pertanyaan tentang sisi kemanusian seorang manusia. Momen berisi ego karakter yang hanya memikirkan keselamatan diri sendiri bahkan rela mengorbankan nyawa orang lain masih dominan. Klise? Tentu. Apakah emosi saya tersulut? Nyatanya ya. Urung memunculkan eksplorasi lebih kompleks, tapi memang mudah membenci sebuah sikap egois berlebihan, dan film ini mengeksploitasi fakta tersebut, menghadirkan dinamika perasaan dalam alurnya. Ditambah konklusi bittersweet sempurna penutup kisah ayah-anak, "Train to Busan" adalah sajian zombie apocalypse yang well-crafted sekaligus memiliki hati. 

8 komentar :

Comment Page:
Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

kang, tertarik nonton dont breathe ga?

Feri Alfredo mengatakan...

banyak yg bilang bagus tuh

Rasyidharry mengatakan...

Baru sempet nge-review tuh :)

ri_O te mengatakan...

film" korea emang kebanyakan... karakternya punya ego yg berlebihan...!!

Harllie Davidson mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hilman Manchunian mengatakan...

Bagus mama sama dawn of the dead nya zack snyder?

Rasyidharry mengatakan...

Lebih piih DotD :)

Faisal Jabbar mengatakan...

Cobain The Wailing mas, jauh lebih baik dari ini..