HUNT FOR THE WILDERPEOPLE (2016)

6 komentar
"Hunt for the Wilderpeople" bukan tipikal film yang membuat penonton terpingkal-pingkal sepanjang film menikmati komedinya, terkoyak emosi oleh jalinan dramanya, atau terpukau karena kecerdasan alurnya. Faktanya, cerita buatan Taika Waititi pun tidak sepenuhnya orisinal, menggabungkan unsur kisah coming-of-age, survive-in-the-wilderness, dan fugitive-on-the-run. Sekilas filmnya berjalan biasa saja, sampai secara tidak sadar durasi sekitar 100 menit telah usai berkat kejelian Waititi mengatur dinamika alur, meletakkan kejutan berupa "wow moment" bermodal ketepatan timing, pula membuat penonton menyukai karakternya dengan keunikan tingkah masing-masing. 

Diangkat dari novel "Wild Pork and Watercress" karya Barry Crump, film ini berkisah mengenai Ricky (Julian Dennison), bocah berusia 12 tahun yang berada di bawah pengawasan Paula (Rachle House) dari child welfare akibat berbagai tindak kenakalan bahkan kriminalitas (stealing, spitting, running away, throwing rocks, kicking stuff, defacing stuff, burning stuff, loitering and graffiti). Paula membawa Ricky untuk diasuh oleh Bella (Rima Te Wiata) dan suaminya, Hec (Sam Neill). Awalnya Ricky merasa tidak betah lalu mencoba kabur, tapi kebaikan Bella membuatnya bertahan. Kita pun mudah menyukai Bella berkat senyum lebarnya, ketenangan menyikapi usaha Ricky melarikan diri, sampai lagu ulang tahun aneh (yet adorable) buatannya untuk Ricky.
Karenanya, bukan Ricky saja yang terkejut mendapati kematian Bella, saya pun begitu. Kondisi tersebut membuat child welfare berniat mengambil Ricky yang mana tidak sang bocah inginkan meski selama ini tak pernah akur dengan Hec, vice versa. Sekali lagi Ricky kabur dari rumah setelah memalsukan kematiannya  membakar boneka berpakaian dirinya dengan muka yang digambar di sebuah piring  lalu pergi ke tengah hutan. Demi menjemput Ricky, Hec menyusul ke tengah hutan, namun sebelum berhasil kembali, terjadi kecelakaan yang melukai kakinya, membuatnya dan Ricky harus tinggal sementara waktu di hutan. Dari sini, situasi berkembang ke arah tak terduga ketika pihak child welfare menganggap Hec mengalami gangguan psikis pasca kematian Bella, menculik Ricky, lalu melakukan pelecehan seksual.
Eskalasi situasi dua orang terjebak di hutan menjadi national manhunt memang konyol. Kekonyolan unpredictable itulah motor penggerak alurnya. Waititi rutin melontarkan kejadian mengejutkan yang akan membuat penonton terus betah menikmati cerita, menanti kejenakaan macam apa yang menanti. Kreativitas Waititi nampak tatkala ia menghadirkan komedi melalui berbagai media mulai sederet dialog one-liner ("He's giving that pig a piggyback!" for an example) sampai visual gags  mayoritas berupa quick cuts yang kerap jadi andalan Edgar Wright. Penceritaannya pun diselipi satir terhadap child welfare yang selalu menggemborkan kepedulian terhadap anak. Paula kerap meneriakkan slogan "no child left behind". Ketimbang kepedulian, kalimat itu terdengar seperti pemburu yang enggan melepaskan hewan buruan. Saat pengejaran, Paula sering bertingkah layaknya tokoh penting, memerintah polisi dan FBI, tapi akhirnya ia bak orang bodoh yang bukan siapa-siapa.

"Hunt for the Wilder People" isn't overly done yet very effective. Komedi hanya sesekali menyelinap namun sukses memancing tawa, begitu pula sentuhan drama lewat momen-momen kecil seperti bed talk antara Ricky dan Hec. Perbincangan singkat itu cukup membangun hangatnya hubungan interpersonal mereka  Sam Neill dan Julian Dennison menjalin chemistry solid untuk hubungan love/hate lalu love/loveWaititi bahkan sanggup merangkai car chase sequence seru sebagai klimaks. Menengok faktor-faktor itu, saya memahami alasan Marvel memilihnya menyutradarai "Thor: Ragnarok". Weird buddy movie with strong interaction between its lead characters, offbeat comedy and entertaining action. Sounds like a perfect Marvel movie. Diiringi score atmosferik yang didominasi pemakaian synth, turut terbangun suasana dreamy dalam petualangan likeable milik "Hunt for the Wilderpeople".

6 komentar :

  1. Car Chase ala Mad Max. haha

    BalasHapus
  2. Bang, klo sempet tolong review film film terkenalnya Ingmar Bergman.

    BalasHapus
  3. Great to see that someone still understand how to create an awesome blog.
    The blog is genuinely impressive in all aspects.
    Good blog.
    judi poker

    BalasHapus
  4. yee direview :-), sekarang coba lihat film jadul tahun 1993 yang judulnya the sandlot bang, serasa nonton film to kill a mockingbird sama stand by me(bukan yg doraemon)

    BalasHapus
  5. gile pelm ini di kasi rank lumayan??

    BalasHapus