OUIJA: ORIGIN OF EVIL (2016)

13 komentar
Berstatus prekuel bagi film yang pada 2014 lalu dibantai oleh kritikus (7% di Rotten Tomatoes) namun meraih kesuksesan finansial luar biasa (103 juta dari bujet 5 juta), wajar jika banyak pihak skeptis terhadap "Ouija: Origin of Evil", meyakini filmnya bakal berakhir sebagai satu lagi horor sampah yang diproduksi demi mengeruk pundi-pundi dollar semata. Tapi sutradara Mike Flanagan ("Hush", "Ocullus") mampu menghembuskan nafas baru, tak hanya membuat karya ketiganya di 2016 ini jauh melebihi film pertama secara kualitas pula jadi salah satu pameran kengerian paling memuaskan tahun ini.

Ber-setting tahun 1967, "Ouija: Origin of Evildibuka oleh lambang lama Universal Pictures dan retro title card selaku pembuktian totalitas Flanagan mengedepankan nuansa lawas filmnya sebelum memperkenalkan penonton pada tukang ramal bernama Alice Zander (Elizabeth Reaser). Dibantu kedua puterinya, Lina (Annalise Basso) dan Doris (Lulu Wilson), Alice menggunakan bermacam trik guna membuat kliennya percaya pada peristiwa-peristiwa gaib yang terjadi. Alice sendiri justru kurang mempercayai hal mistis, hingga ia membeli papan Ouija untuk properti bekerja dan mendatangkan keanehan-keanehan termasuk pada Doris. 
Seolah ingin menjauhkan "Ouija: Origin of Evil" dari pendahulunya, Mike Flanagan mengambil pendekatan berbeda melalui pembangunan atmosfer ketimbang jump scare murahan dan suara bising. Usaha mengageti tetap ada, tapi dalam porsi secukupnya serta timing sempurna sehingga efektif, tidak melelahkan. The creepiest  also scariest  part of this movie is when we can't see the ghost. Flanagan bermain-main dengan ketakutan dan kecemasan alami manusia yang terletak di alam pikiran. Imajinasi kita diajak melayang menuju mimpi buruk seperti saat Doris (or the spirit inside her) mendeskripsikan bagaimana rasanya dicekik sampai mati. Flanagan memiliki kreatifitas plus keberanian tinggi dalam upaya merangkai kengerian kasat mata yang unik, sayang CGI murah kerap menjadikannya menggelikan. Untung Lulu Wilson sang demonic child konsisten memunculkan aura mencekam.

"Ouija: Origin of Evil" berjalan cukup lambat sampai paruh pertengahan, namun naskah yang ditulis Mike Flanagan bersama Jeff Howard (kolaborasi ketiga mereka) piawai menyusun penceritaan kuat, menghalangi rasa bosan menyeruak masuk. Flanagan dan Howard memahami esensi papan ouija selaku media komunikasi dengan arwah, kemudian memposisikan hubungan antara manusia hidup dengan yang telah mati sebagai pondasi konflik batin tokohnya. Bagaimana seseorang enggan merelakan kematian sosok tercinta lalu diam-diam rela berkorban apapun demi menghabiskan waktu bersama lagi meski hanya sejenak. Alice pun demikian, dan itu perlahan menggiringnya terjebak bujuk rayu iblis.
Mengambil inspirasi dari "The Exorcist" Flanagan dan Howard bukan sekedar menempatkan hantu (iblis) sebagai villain menyeramkan, melainkan sosok licik nan kejam yang gemar menggoda, menarik manusia menuju akhir tragis. Muncul tema mengenai "keyakinan" yang diimplementasikan dalam dua kisah. Pertama Alice yang "menghubungi arwah" guna membahagiakan kliennya. Kedua adalah Tom (Henry Thomas), pendeta dari sekolah Lina dan Doris (kemunculannya juga mengingatkan pada "The Exorcist"). Mereka memegang dua keyakinan berbeda yang pada akhirnya sama-sama tergoyahkan oleh kehadiran iblis. 

Namun penceritaan tersebut urung mencapai potensi terbaik akibat konklusi convulted tatkala Flanagan dan Howard dipaksa menghadirkan keterikatan kisah dengan film pertama. Sentuhan drama personal hilang, berganti poin-poin cerita  ditambah twist  berbelit yang hadir tiba-tiba. Mendadak "Ouija: Origin of Evil" dipenuhi banyak hal dipadatkan menjadi satu setelah menghabiskan dua per tiga durasi didominasi kesederhanaan efektif. Pada akhirnya walaupun memiliki cacat baik di presentasi drama maupun horror, "Ouija: Origin of Evil" masih perjalanan yang amat mencekam. 

13 komentar :

  1. Tapi kalau dibandingkan dgn conjuring 2 film horor ini masih jauh berada di bawah nya...
    Krn baik plot maupun cara menakuti nya film ini terlalu biasa menurut saya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih suka Conjuring 2, Wan lebih oke kasih penampakan daripada Flanagan. Plot sama-sama kuat sih, cuma Conjuring 2 menang di romance & akting oke

      Hapus
  2. Tahun ini film horror banyak yang bagus-bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes! Belum termasuk "Under the Shadow"

      Hapus
  3. Bang, gk review ahs lagi nih??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak sempet, besok sekalian satu season :)

      Hapus
  4. Review The Wailing dan The Handmaiden dong Min.

    BalasHapus
  5. Review Lake Mungo dong Bang.
    Itu film horor Australia TH 2009. ngeri bgt soalnya keliatan realistis. Tipikalnya dia pake gaya mockumentary dan bener - bener keliatan kayak kejadian beneran. Scorenya di rotten juga tinggi bgt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah nonton dari lama tapi nggak di-review, and yes, it's scary as hell!

      Hapus
  6. Btw saya melihatnya seperti film Mike Flanagan yg dulu yaitu 'Oculus' krn twist-nya memang agak ribet plus memakai plot dmn si Lina menceritakan kejadian masa lalunya hingga berujung di rumah sakt jiwa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan dua film ini sama-sama "kejam"

      Hapus
  7. Hantunya cupu, lebih mirip alien

    BalasHapus