THE WAILING (2016)

5 komentar
Serupa "The Chaser" selaku karya perdananya, Na Hong-jin kembali mengusung jalinan investigasi kasus pembunuhan sebagai sentral cerita. Hanya saja kali ini berhiaskan supranatural, memfasilitasinya menumpahkan berbagai unsur sub-genre horor mulai zombie, demonic, possession, occult, hingga psikologis, yang tersusun rapi berkat solidnya penulisan naskah Na. Menjadikan sebuah area rural yang terasa dingin sebagai panggung dan memiliki protagonis seorang polisi inkompeten, inspirasi dari "Memories of Murder" begitu kentara, bedanya, "The Wailing" menyimpan kemungkinan akan keterlibatan entitas gaib dalam kasusnya.

Jong-Goo (Kwak Do-won) terbangun di pagi hari oleh panggilan tugas setelah terjadi kasus pembunuhan. Tapi ia memilih menyantap sarapan dulu sehingga terlambat tiba di TKP, suatu sikap yang beberapa kali dia ulangi, menegaskan ketakcakapannya. Jong-Goo memang kerap berbuat bodoh dan selalu ragu, hanya bisa ternganga kala dihadapkan pada situasi genting, tak tahu mesti berbuat apa. Karakterisasinya sesuai dengan usungan tema keraguan dan ketidakberdayaan yang diangkat. Inkompetensi Jong-Goo menguatkan kesan helplessness dan hopelessness kala kondisi semakin gawat. Kwak Do-won memberi transformasi halus dari sosok polisi unrelieable yang tak serius dan kebodohannya mengundang kejenakaan menjadi pria yang dikuasai amarah dan keputusasaan.  
Ternyata kasus di awal bukanlah yang terakhir. Lalu rentetan pembunuhan berlanjut dengan satu kesamaan, yakni pembunuhnya menjadi gila dan memiliki luka di tubuh. Media berasumsi telah terjadi wabah virus akibat jamur beracun, sedangkan warga yakin pria Jepang misterius (Jun Kunimura) yang tinggal menyendiri di hutan merupakan dalangnya, mengingat "wabah" tersebut mulai menjangkiti sejak kedatangannya. Warga memanggil pria ini "the Jap", menunjukkan adanya pengaruh memori kolonialisme masa lalu di balik tuduhan tersebut. Walau awalnya tidak percaya akan keterlibatan sang pria Jepang (ditengarai sebagai hantu), Jong-Goo mulai melakukan investigasi setelah mendapati berbagai keanehan, termasuk yang menimpa puterinya, Hyo-jin (Kim Hwan-hee). 

Selaras dengan kutipan kalimat pembuka yang mengambil dari ayat Alkitab, "The Wailing" kental nuansa spiritualitas. Iblis bukan sekedar menakut-nakuti di sini, melainkan menebar tipu daya, memfitnah, guna mencelakai makhluk penuh rasa ragu bernama manusia. Na turut menyatukan unsur shamanisme tradisional lewat kehadiran Il-Gwang (Hwang Jung-min) di pertengahan film serta simbolisme Kristen mengenai pertentangan sang messiah melawan iblis di babak akhir, menempatkan karakternya di tengah, menguji keimanannya saat diharuskan memilih sisi, menggambarkan bagaimana lemahnya hati seorang manusia.
Mengetengahkan topik supranatural, Na tidak lantas terjebak dalam penyajian jump scare klise  hanya ada satu adegan yang mendekati, itu pun tanpa hentakan musik mengejutkan atau kemunculan tiba-tiba. Na berfokus membangun atmosfer tak mengenakkan yang terdiri atas ruangan-ruangan sempit berisi foto mayat, kepala kambing dan alat ritual lain, serta kondisi mengenaskan para korban pembunuhan. Dibantu editing dinamis Kim Sun-min, Na juga mampu menciptakan ketegangan yang mencengkeram kuat seperti saat adegan berpindah konstan menyoroti ritual Il-Gwang dan si pria Jepang atau third act 30 menit yang menampilkan tiga karakter di tempat berbeda secara bergiliran.

Sayang, keputusan Na menumpuk twist dalam waktu berdekatan menjelang akhir menimbulkan perasaan dibohongi. Padahal sedari awal Na sudah sukses menebar potongan petunjuk subtil yang menyesatkan persepsi penonton. Selain cacat pada konklusi tersebut, "The Wailing" adalah satu perjalanan panjang (durasi mencapai 156 menit) yang bakal terus membenamkan penonton dalam misteri penuh tanya, membuat kita  seperti karakternya  tersesat, dikuasai oleh keraguan. 

5 komentar :

Comment Page:
Rifqi SR mengatakan...

Tinggal review The Handmaiden sama The Age of Shadows bang :)

Angga Saputra mengatakan...

Yup benar film ini membuat penonton terasa terganggu dan meragu.
Dan ending nya makin membuat keraguan itu makin tinggi.
Salah satu film terbaik tahun ini :)

Amatir dalam Hidup mengatakan...

hmm jadi tertarik nonton setelah baca reviewmu.. tapi ada adegan pembunuhannya yang diperlihatkan kah? dan darahnya sebanyak apa ya..? x((

Wahid Kurniawan mengatakan...

Saya sendiri masih menyisakan tanya hingga sekarang, Banyak sekali misteri yg masih belum terungkap dengan jelas.

Overall filmnya KEREN ��

Gilang Apsara mengatakan...

Pada bagian awal mirip "Memories of Murder", namun dengan nuansa yang lebih dark ala "I Saw the Devil", sementara nuansa kebingungan dan twist ending yang berlipat-lipat mengingatkan saya pada "The Others". Tak diragukan lagi, film ini adalah salah satu film terbaik untuk genre horor supernatural.