CEK TOKO SEBELAH (2016)

25 komentar
Seniman (apapun medianya) harus peka terhadap kondisi sekitarnya dalam berkarya, sebab tak perlulah berpikir terlampau jauh, kehidupan sehari-hari telah menyediakan materi yang lebih dari cukup. "Cek Toko Sebelah" kembali mempertemukan kita dengan kejelian seorang Ernest Prakasa menangkap konflik keseharian sederhana namun sejatinya bermakna, membuktikan bahwa ia bukanlah one-hit wonder pasca kesuksesan "Ngenest" baik secara komersil (mengumpulkan lebih dari 785.000 penonton) maupun kualitas. Di samping memancing tawa, "Cek Toko Sebelah" mengundang haru kala menyinggung betapa berartinya kenangan yang didasari kasih sayang keluarga tercinta.

Tentu saja dalam naskah hasil tulisannya bersama sang istri, Meira Anastasia, Ernest tetap menyertakan lika-liku kehidupannya sebagai etnis Cina. Kali ini kultur "jaga toko" yang diangkatnya. Hidup Erwin (Ernest Prakasa) terlihat sempurna. Karirnya gemilang, berpeluang meraih posisi brand director cabang Asia Tenggara di Singapura, dan ia pun bahagia berpacaran dengan wanita cantik yang tak kalah sukses, Nathalie (Gisella Anastasia). Berkebalikan dengan sang kakak, Yohan (Dion Wiyoko) yang masih tersendat sebagai fotografer pre-wedding, belum mampu mewujudkan mimpi istrinya, Ayu (Adinia Wirasti) membuka toko kue. Perselisihan timbul saat ayah mereka, Koh Afuk (Chew Kin Wah) memutuskan pensiun menjaga toko lalu mewariskannya pada Erwin.
Kecemburuan terhadap saudara kandung karena menganggap orang tua pilih kasih mungkin terdengar klise, tapi faktanya hal serupa memang kerap terjadi di sekitar kita. Kisah tersebut jadi lebih bermakna dan universal (apapun ras anda, bagaimanapun kondisi keluarga anda), sebab segala konfliknya ditautkan oleh satu hal, yakni memori. Rasa iri Yohan, kegamangan Erwin, bahkan toko sendiri adalah representasi memorabilia yang dibangun atas nama cinta. Mudah terkoneksi dengan kisahnya berkat sensitivitas Ernest merangkum adegan dramatis. Entah lewat penggunaan close-up agar ekspresi aktor utuh tertangkap sampai kesempurnaan timing musik selaku penyokong emosi. Penulisan dialog pun tepat guna, tanpa panjang lebar atau sok filosofis. Adegan akhir di kuburan menjadi contoh bagaimana gabungan aspek-aspek di atas efektif mengaduk perasaan. 

Permasalahan timbul pada pacing khususnya sewaktu komedi mengambil alih. Ketimbang lelucon berbasis kultural (masih ada) seperti "Ngenest", "Cek Toko Sebelah" didominasi laku absurd tokoh di mana Dodit Mulyanto dan Asri Welas paling mencuri perhatian. Masalahnya gelontoran absurditas  walau lebih mudah dikonsumsi  bakal melemah apabila dilakukan berulang secara berkepanjangan. Gelaran kejenakaan film ini berujung hit-and-miss akibat kerap berlama-lama di sebuah sequence, berujung kehilangan momentum. Kelemahan turut mencuat di departemen penyuntingan ketika seringkali perpindahan adegan berlangsung kasar termasuk transisi komedi menuju drama. Alhasil tonal jump sempat terasa, padahal tidak ada masalah terkait porsi kedua genre. 
Di antara jajaran ensemble cast yang mayoritas diisi komika, Dion Wiyoko, Chew Kin Wah dan Adinia Wirasti merupakan penampil paling berkesan. Dion Wiyoko memberi akting terbaik sepanjang karirnya, meluapkan emosi baik melalui ungkapan meledak-ledak atau kegetiran yang terpancar dalam tutur kata. Tatkala Chew Kin Wah akan berulang kali memancing kerinduan anda akan sosok ayah, Adinia Wirasti hadir sebagai pendukung memikat, baik bagi Yohan maupun filmnya secara menyeluruh. Pembawaannya menyejukkan sekaligus menghangatkan di saat bersamaan selaku representasi sosok wanita kuat nan tegar yang setia menyokong orang-orang tercintanya. Porsi yang tak seberapa pun bukan masalah tatkala tiap pengucapan kalimat bak mengandung magnet. Such a great actress.

"Cek Toko Sebelah" melemparkan ingatan saya ke tiap keping momen bersama keluarga yang tentu terdiri atas manis dan pahit. Momen-momen tersebut pada akhirnya berlalu, namun bukan berarti menghilang, melainkan bertransformasi menjadi wujud baru bernama kenangan. Kenangan yang bakal selalu tersimpan rapat di hati, memunculkan alasan untuk selalu merindukan kepulangan tanpa ingin "mengecek toko sebelah". Sebuah sophomore movie dari Ernest Prakasa selaku pembuktian bahwa visi penyutradaraannya makin matang dan cerdik, yang turut ditunjukkan oleh diperhatikannya detail merk barang-barang di toko Koh Afuk. Faktor kecil tapi menggelitik, berperan besar menguatkan nuansa komedik. 

25 komentar :

  1. Gak nyesel saya tiap Desember nungguin 2 film karya Raditya Dika dan juga The Newcomer, Ernest Prakasa.

    Apa mungkin ya Mas, Koh Ernest di kemudian hari bisa mengangkangi hasil jumlah penonton dari sang mentor (Raditya Dika) dalam dunia film ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selama Ernest konsisten secara kualitas, kemungkinan itu besar banget

      Hapus
    2. Untuk tahun ini sih, yakin bisa lah CTS mengangkangi Hangout, Hangout di nomor satu (utk rilisan desember) dan dibawahnya CTS, moga CTS dapat satu juta penonton

      Hapus
    3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    4. Mantap Bang Rasyid, ketika para komika2 yg pada dasarnya gak ada background di dunia akting, tapi mereka bermain tanpa beban. Jadinya tampil all out gitu ya.

      Hapus
    5. Kalo buat taun ini kayaknya belum bisa deh Bro Indra, soalnya sampe kemaren aja H+7 Hangout udah tembus 1 juta penonton. Maybe next time buat Koh Ernest.

      Hapus
    6. Ngalahin Hangout belum bisa, tapi tembus sejuta masih mungkin

      Hapus
  2. Oh adinia wirasti....syukaaaaaa...meski cma pendukung, tapi kuuuuuuuat dan memikaaaaatttt...... Nunggu doi main film sebagai pemeran utama .. Semoga tahun ada lah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada adaptasi novel Critical Eleven bareng Reza Rahadian

      Hapus
  3. Baru nonton semalem.... Asri Welas bikin ngakak... Gak nyangka dion wiyoko akting nya bisa sekeren ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, Dion surprisingly good

      Hapus
  4. Terpuaskan banget apalagi liat Adinia Wirasti kelihatan banget kelasnya ,buat Chew kin wah agak janggal dialog Indonesianya
    Penutup tahun yg manis tahun depan mungkin cuma bisa baca review-nya kk Rasyid aja soal ya mau pindah kerja ke kota yg ngak ada bioskopnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Good luck ya, semoga tetep sesekali bisa mampir bioskop :)

      Hapus
    2. Iya pasti disempatin terutama film2 yang sudah gue tunggu sejak lama seperti Kartini,SYTD2 ,critical even,keluarga tak kasat mata, dan film2 yg kk recomended

      Hapus
    3. Iya pasti disempatin terutama film2 yang sudah gue tunggu sejak lama seperti Kartini,SYTD2 ,critical even,keluarga tak kasat mata, dan film2 yg kk recomended

      Hapus
  5. Optimis untuk karya Ernest yang satu ini akan tembus angka 1.000.000 penonton :)

    BalasHapus
  6. Gw ngerasa banyak yang salah sama akting pemain di film ini bang huhu
    Chew Kin Wah sebagai bapak yang gak lancar bahasa Indonesia padahal kedua anaknya super lancar. Akting Ernest yang jadi sok keren dan aneh disini, para Komika yang lucu di awal munculnya doank dan sisa kemunculan mereka ganggu. sampe Gisel yang .... Ah sudah lah.

    Seandainya ini film lebih banyak make aktor, dan ngurangin komedinya, bisa bagus banget ini film.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak lho di realita yang bapaknya gitu karena pengaruh kultur asalnya yang masih kental. Ernest masih perlu asah akting drama, but at least dia kasih porsi lebih banyak ke Dion which is a better dramatic actor. Gisel? Well, itu urusannya udah "beda" lagi hehe

      Hapus
  7. Dua jempol buat Ernest..
    Setelah dibikin ngakak sama NGENEST dan saya pikir cuma iseng2 bikin film. Ternyata dia serius melebarkan sayap di dunia perfilman dan CTS menjadi bukti keseriusan Ernest meramaikan khasanah perfilman negeri ini. Saya rasa bukan ga mungkin suatu saat Ernest bakal melampaui seniornya RD. Yang saya rasa film2 nya sebelum hangout selalu berkutat di tema seputar spesies Jomblo. Belum sempet nonton hangout siih tapi saya rasa RD udah mulai berani meninggalkan Zona nyamannya dalam memilih tema film. Semoga Kedepannya RD dan Ernest khususnya konsisten melahirkan film2 berkualitas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kita bakal beruntung kalau mereka bersaing, menggila di urusan menghasilkan karya sebaik mungkin :)

      Hapus
  8. Ernest salah satu rising star di balik layar perfilman Indonesia saat ini.. Indonesia butuh banyak sutradara dan pe ulis naskah berbakat kaya Ernest..
    Dan Raditya Dika sdh mulai mencoba keluar dri zona nyaman krn rekannya Ernest mulai menunjukkan kualitas yg ngga kalah dlm penggarapan film.. Ahhh berharap makin banyak anak muda Indonesia yg kayak mereka,ngga cuma ngomong dan kasih banyak komentar,tapi bisa bersaing sehat dan membuktikan dengan karya...
    Sukses terus buat perfilman Indonesia! :)

    BalasHapus
  9. Jum'at, 6 Januari 2017, akhirnya menyambangi bioskop untuk menonton film ini karena reaksi masyarakat di lini masa sosial media ramai membahas film ini.

    Sempat bingung di awal karena ada trailer film lain yang muncul, tanpa embel2, saat scene buka toko, saya pikir itu trailer film lain -_-

    yang saya suka dari film ini adalah aspek realita. toko di kawasan perumahan, persaingan antara toko yang berdekatan (sayang kurang banyak sih ditampilkan persaingan antara pemilik toko, kebanyakan pegawainya), pewarisan toko kepada anak2nya, konflik internal keluarga yg sebenarnya klise tapi memang benar2 nyentuh karena pasti terjadi disemua keluarga, kegamangan memilih berbakti pada orangtua atau mengejar karir. banyak deh

    memang ada beberapa porsi komedi yang kadang nge-bom (istilah gak lucu di dunia komika), porsi scene yang kadang terlalu monoton (lucu-serius-lucu-serius) namun semua kekurangan itu tertutup dengan jalan cerita yang memang mampu membuat penonton seketika lupa ada yang kurang di adegan sebelumnya.

    dialog yang ditampilkan juuga oke punya, kadang terasa gak kaku sih, kayak improvisasi sepertinya.

    salah satu film indonesia yang saya tonton di bioskop dan mampu bikin terpikat setelah laskar pelangi.

    good job koh ernest, ditunggu karya yg lain. dengan tema berbeda, hati2 terjebak dengan konsep yang mirip ya :D

    BalasHapus
  10. G rugi liat film ini. Baru kali ini bisa ketawa dan menangis dalam satu film. Cerita sederhana tp mengena bgt di kita.
    Jadi penasaran menantu karya Ernest berikutnya

    BalasHapus