HEADSHOT (2016)

41 komentar
Seorang pria di sebuah rumah sakit terbangun dalam kondisi amnesia setelah koma selama dua bulan. Pria tersebut dirawat oleh dokter muda nan cantik sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta. Diisi rangkaian dialog cheesy, maka takkan aneh apabila premis di atas berbuah sinetron atau FTV berjudul "Amensia Pembawa Cinta", "Aku Padamu Dokter Cantik", "Hilang Ingatan Bikin Jatuh Cinta", dan lain-lain. Namun tambahkan adegan perkelahian brutal, berondongan peluru, parade tulang patah dan kepala pecah, maka jadilah "Headshot", film ketiga Mo Brothers yang meski belum setingkat "The Raid" beserta sekuelnya, kepulangan Gareth Evans tidak lagi mengkhawatirkan. 

Ceritanya sama seperti petikan di atas. Setelah ditemukan koma di bibir pantai, seorang pria tanpa nama (Iko Uwais) dirawat di rumah sakit dalam penjagaan dokter muda bernama Ailin (Chelsea Islan). Ailin memanggil pria itu Ishmael. Setelah bangun, Ishmael tidak bisa mengingat nama, pula penyebab luka tembak di kepalanya. Tanpa Ishmael ketahui, ia memiliki kaitan dengan Lee (Sunny Pang), bos gembong mafia paling ditakuti. Menyadari Ishmael masih hidup, Lee dan anak buahnya mulai melakukan perburuan, menyeret Ailin dalam sentral konflik. Demi menyelamatkan wanita pujaan hati dan mencari kebenaran atas masa lalunya, Ishmael harus bertarung sendirian melawan para pembunuh yang dikirim Lee.
Soal cerita, "Headshot" yang naskahnya ditulis oleh Timo Tjahjanto adalah yang paling tipis di antara karya Mo Brothers lain, bahkan dibanding "Rumah Dara" sekalipun. Pasca romantika opera sabun di awal, praktis alurnya sekedar berpindah dari satu action sequence menuju action sequence berikutnya. Beberapa flashback selaku keping ingatan Ishmael sesekali mengisi, bertindak selaku jembatan. Walau urung memberi eksplorasi karakter mendalam di mana hubungan Ishmael dengan seluruh karakter tetap dangkal dan tanpa emosi, keberadaannya cukup guna memuluskan transisi adegan aksi, meniadakan perasaan mendadak akibat perpindahan momen kasar. 

Selain tipis, naskahnya turut bermasalah soal penulisan dialog, khususnya terkait percintaan Ishmael-Ailin yang selalu terdengar cheesy. Apalagi Iko masih kesulitan menyuntikkan emosi dalam aktingnya, sedangkan Chelsea tampak miscast kala harus memerankan karakter tanpa pembawaan meledak-ledak. Alhasil romansa mereka gagal terasa romantis. Berbagai kelemahan naskah itu bakal berujung kehancuran bagi kebanyakan film, tapi ingat, kita tengah membicarakan Mo Brothers, duo sinting yang ahli merangkum kekerasan menghibur, dan itu pula titik tertinggi "Headshot" tatkala tiap perkelahian adalah kebrutalan penghasil sorak sorai penonton. 
Mo Brothers memastikan semua anggota tubuh yang patah, tulang menyembul keluar, hingga kepala  pecah tidak lewat begitu saja. Nampak jelas dan berhiaskan tata suara yang solid, membuat penonton meringis membayangkan rasa sakitnya. Walau skala kecil, karakter berjarak, serta ketiadaan suasana genting (karakternya tidak terjebak) meminimalisir hadirnya ketegangan, keseruannya tak menurun, terlebih ketika kamera Yunus Pasolang selalu bergerak dinamis, ikut jungkir balik mengikuti arah pergerakan karakter meski gaya tersebut kurang efektif membangun intensitas. Pace pun terjaga, nyaman diikuti berkat penyuntingan gambar yang meskipun berlangsung cepat tapi mulus. 

Melihat koreografi silat Iko Uwais, wajar bila timbul pertanyaan "apa bedanya dengan "The Raid"?". Jawabannya terletak pada keputusan Mo Brothers menyelipkan komedi hitam. Keduanya seperti menyadari tengah menggarap film berisikan kisah cinta opera sabun, dan biar bagaimanapun, sulit menganggap serius suatu opera sabun. Alhasil, mereka menolak memaksakan diri menyajikan nuansa gelap, memilih bersenang-senang menyuruh Iko susah payah meniup zippo, menyangkutkan parang di atap bus, menancapkan potongan besi di tangan Tano (Zack Lee) supaya ia bisa berlagak bak Wolverine, dan lain sebagainya. Timbul sedikit tonal inconsistency namun tak sampai melucuti kesenangan. 

Tatkala ada kekecewaan dikarenakan porsi Julie Estelle yang berhenti hanya sebatas eye candy ketimbang sosok badass berdarah dingin macam Hammer Girl, Sunny Pang mampu menjadi lawan setara Iko Uwais, menghadirkan boss battle penuh pertukaran jurus bela diri kelas wahid yang layak ditempatkan sebagai puncak. Sayang, sentuhan romansa dramatik selaku konklusi pertarungan tersebut membuatnya antiklimaks. Pada akhirnya "Headshot" memang belum memenuhi ekspektasi, namun sungguh satu soap opera brutal penghasil hiburan menyenangkan. 

41 komentar :

Comment Page:
yazuli al amin mengatakan...

Setidaknya mengobati saya dari bayang2 #66 yang masih menghantui saya. Hehehe

Terlepas dari dramanya utk actionya pokoknya an***g lah seperti kata yg banyak diucapkan dalam Film ini

agoesinema mengatakan...

Berarti masih layak nonton nih...
Syng blm masuk di kota gw

agoesinema mengatakan...

Baca review diawal hingga akhir, kupikir akan diberi bintang 2 atau 3 ternyata lebih... walaupun blm nonton, yg gw khawatirkan memang hanyalah aktingnya Iko yg lemah di drama.. mungkin sebaiknya dia harus ambil kelas akting seperti halnya Joe Taslim... iko jg harus berkaca pada bintang2 laga hongkong macam idolanya Jackie Chan, Sammo Hung, dan Jet Li yg jg piawai berlakon drama.. kalau hanya ngandalin akting bag big bug takutnya dia hanya setara dgn Tony Jaa dan Tiger Chen yg hanya dikenal jago berantem tp gak bisa akting.. sangat disayangkan kalau itu terjadi

Rasyidharry mengatakan...

Di bagian drama 2 film ini sama-sama "meh" pas action masuk baru seru. Kelasnya beda, tapi sebenernya mirip lho haha

Rasyidharry mengatakan...

Nyaris kasih 4, tapi setelah dikulik lagi, ketemu banyak permasalahan tambahan.
Sebenernya akting Iko ada potensi, tapi nggak ketolong gara-gara naskahnya.

Angga Saputra mengatakan...

Plot nya memang agak berantakan banyak hal terasa di luar nalar contoh nya pas adegan satu lawan satu itu tapi krn adegan perkelahianya edan banget saya sampe kasih bintang 4 sama film ini..

Dwi Rifai mengatakan...

Kirain bakal dikasih nilai 3. Btw bang, lho waktu nonton itu diperiksa ktp-nya nggak bang soalnya nih film kan ratingnya D21. gw sebenernya mau nonton tapi umur gw masih 18 tahun

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Saya 17thn mas, nonton pas midnight gak di periksa kok ktpnya,hehehe

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Saya masuk bioskop tanpa ekspektasi dan gambaran apapun mas, keluar dengan rasa senang tapi agak menyayangkan dramanya yg masih kurang. Di akhir film saya sempat nyeletuk "rumah produksinya kaya rumah dara euy" ternyata pas di cek bener dari Mo Brothers.


Setuju ttg mbak julie, seperti tidak di apa apakan dan mati agak konyol saya rasa. Kedekatan ismael dan ailin, abdi dgn lee juga kurang. Sy masih bingung mengapa lee sebegitu ingin membunuh abdi.

#CMIIW
Ini komen pertama saya di blog ini hehehe. Tapi selalu menyempatkan membaca review mas sejak 2015.

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Apa cuman saya yg risih denger kata "anj*ng" lebih suka diganti "b*ngsat". Sampai saya mikir di ending film bakal dikasih quis "berapa kata anj*ng yg terlontar di sepanjang film?" Wkwkw 😂

yazuli al amin mengatakan...

Dari genre iya tapi dari akting dll beda kelas

@mthoqirul hehehe mungkin ada maksud tertentu dengan pemilihan kata itu

Eko Jay mengatakan...

Oh, berarti yg mengganjal itu soal naskah ya mas? Hmm... Pantesberasa gimana gitu nontonnya. Tapi di kotasaya anak smA masih bisa nonton kok. Siang lagi.

Rasyidharry mengatakan...

Anjing lebih "membumi" sih, kayak refleks orang lebih sering anjing daripada bangsat :D

Rasyidharry mengatakan...

Macam jaman The Raid 2 dulu, emang ada bioskop yang periksa ada yang nggak. Untung-untungan lah

Rasyidharry mengatakan...

Rumah produksinya malah yang produksi film-film macam London Love Story, ILY From 38.000 ft sama Magic Hour loh haha
(SPOILER) Lee pengen bunuh Abdi kan karena dia dikhianati. Abdi itu mata-mata polisi.

Wah thanks ya :)

Rasyidharry mengatakan...

Paling mengganjal itu naskah (plot, dialog), kedua akting. Sisanya oke

Rasyidharry mengatakan...

Yep, tinggal sedikit lagi Mo Brothers bakal selevel Gareth Evans soal eksekusi action.

hilpans mengatakan...

Gegara liat iklan tv kopi * dimana ada iko uwais dan acha... Jdi pengen liat mereka akting bedua di film drama action.... Coba klo seandainya peran chelsea islan diberikan sama acha septriasa di fim headshoot ini hehe

yazuli al amin mengatakan...

Acha kayaknya banyak projek

Sekarang Acha mau nikah moga masih bisa main Film...

Uda Isan mengatakan...

Naskahnya dangkal banget, gw gak ngerasa ada perasaan cinta antara Ailin dan Ishmael. Dari penamaan karakter aja udah ngaco, nama orang Indonesia yg mukanya bule kok Ailin, dan bisa2nya dia namain dan manggil orang Ishmael? Orang Indonesia nama Ismail aja dipanggilnya Mail wkwk
Penyelamat film ini murni action dan setting tempatnya.
Gw gondok liat Tejo sama Tano yg hobi banget buang peluru cuma buat nembak 1 orang.
Yg patut dipuji itu Sunny Pang, aktingnya waktu ngomong bahasa Inggris sama kekuatannya di akhir film bener2 dah wkwk

Rasyidharry mengatakan...

Tertarik sama action-comedy yang gabungin Iko-Acha :)

Rasyidharry mengatakan...

Oh, masalah Tejo & Tano banyak yang komen sih, dan buatku nggak masalah. Toh seru ngeliat berondongan peluru gitu :D

Uda Isan mengatakan...

Iya, tp sebagai penjahat yg udah ditahap kelas kakap malah terlihat bodoh mereka wkwk
Kalau Ailin megang itu senjata terus nemu 1 penjahat lalu nembak kayak gitu mah wajar, kan panik hha
Udah nonton The Man From Nowhere dari Korea belom bang? Ceritanya hampir mirip sama ini, tentang orang yg mau jemput cewek yg diculik, itu contoh film perfect buat tema begini kata gw hha

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Mas ane 16 tahun dan pengen nonton headshot,nah kira kira boleh nggak?

Rasyidharry mengatakan...

Actually, itu cara Mo Brothers nunjukkin Tejo & Tano adalah penjahat sinting yang peduli setan.
Nah, itu beda kelas tuh. Naskahnya lumayan oke :D

Rasyidharry mengatakan...

Wah tergantung, di bioskopnya ngeberlakuin regulasi cek KTP nggak? Kalau nggak mah sikat aja :)

Bobby Arbie mengatakan...

Iya sih memang banyak kekurangan terutama naskah sama dialognya cheesy abis,tapi terbayarkan sama action brutalnya,ya film ni lumayanlah buat orang yang haus film action setelah the raid 2 khususnya saya

Uda Isan mengatakan...

Parah dibilang beda kelas, gw aduin Timo Kimo lu Bang wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Indeed. Kita butuh lebih banyak film fun macam gini

Ricky Ricky mengatakan...

Berawal dirumah sakit, dan berakhir dirumah sakit jg....hahaaa...

Unknown mengatakan...

Plot cerita memang kurang menarik, banyak kritikus menyoal hal itu, tpi kebrutalannya super crazy. Banyak hal yang mengagetkan. Sudah saya prediksi bakalan mirip macabre dlm hal kesukaan mo brothers mengejutkan atau mengagetkan penonton. Bila Anda suka film Hongkong th 90 an dibintangi jet lie saya jamin Anda akan suka film Headshot. Tpi patut diapresiasi garapan mo brothers ini. Sekelas sutradara n produser Indonesia mo brothers adlh my big idol.

Dwi Rifai mengatakan...

Bang, blh tkran link review nggak bang.
Ini review dri saya stlh kmrin bisa nntn.
http://muvibuster.blogspot.co.id/2016/12/headshot-2016.html?m=1

gogo mengatakan...

mengobati rasa kangen aksi fihting iko uwais..

"stlh ditemukan koma di bibir pantai, seorang pria tanpa nama (Iko Uwais) dirawat di rumah sakit dalam penjagaan dokter muda bernama Ailin (Chelsea Islan)", jd inget adegan awal kamen rider kuuga

Hendra Doank mengatakan...

Barusan nonton sama istri.
Iya sih..walaupun masih dibayangi The Raid tapi film ini blm setara dgn 2 proyek Gareth Evans Itu.

Cerita yg predictable dan akting yg pas2an (kecuali Chelsea islan dan Sunny Pang menurut saya) mnjadi nilai minus film ini.
Yap,Iko harus mulai belajar akting demi memuluskan langkahnya dimasa depan.

Wlwpun bagian Action mnjadi penyelamat,itupun sy rasa msh blm mngimbngi (lagi2..) The Raid krn tingkat sadisnya msh kurang greget dan terasa nanggung ditambah sedikit Shaky Cam dan kamera 360 derajat yg bikin agak puyeng.

My rating 6,5/10

Btw,lagu menjelang akhir itu enak..

Please join Channel film saya di Bbm MOVIES FOR LIFE

Thanks bro Rasyid

agoesinema mengatakan...

Setelah nonton. Kesimpulan sy :
1. Akting iko sdh ada peningkatan.
2. Chelsea dan Sunny memang aktingnya diatas rata2 pemain lain.
3. Carpe diem... salah satu dialog yg bikin gw ngakak.
4. Dark comedy nya sukses.
5. Penampilan singkat aktor2 terkenal indonesia jd salah satu poin plus film ini.
6. Yg bikin kecewa justru diadegan laganya, kameranya bikin pusing, kenapa harus silat? Gw berharap laganya seperti tarung jalanan, krn diceritanya pun iko gak ada asal usulnya belajar silat.

Javier Eriansyah mengatakan...

Rasa-rasa filmnya terinspirasi dari film Momento gitu ya bang?

agoesinema mengatakan...

Memento? Beda... lebih mirip premis Bourne Identity..

idha malik mengatakan...

Sayang bgt gua gaboleh nonton gara gara umur gua kurang 2 bulan doangan

johan wahyudi mengatakan...

Please agan2 semua, bagi link downloadnya donkk!!

hilman mengatakan...

masalahnya terletak pada naskah.

saya melihat perbedaan antara rama dan ismail/abdi, ismail terlihat lebih rapuh dan manusiawi dibanding rama. rama membabad habis musuh2nya dgn nyaris sempurna... sedangkan ismail ya gitu deh..

btw, the raid 3 bakal dibuat enggak sih?

Rasyidharry mengatakan...

Kalaupun dibuat paling cepat yang rilis 2019. Lagipula (karena suatu alasan) Gareth sudah pulang ke Wales & ada proyek lain