JOGJA-NETPAC ASIAN FILM FESTIVAL - HUSH (2016)

Tidak ada komentar
"Speak your silence. And make them listen!". Begitu usungan tagline film hasil kolaborasi Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume ini. Djenar memang selalu menggunakan karya-karyanya untuk menyuarakan secara jujur dan lantang keresahann soal hak perempuan. Harapannya, penonton dapat tertampar, sadar, lalu membuka mata akan isu tersebut. Karena sebagaimana narasi awal "hUSh" mengiringi setumpuk footage CCTV mengiris hati berisi tindak kekerasan, perkosaan, dan segala macam kebejatan laki-laki terhadap perempuan, sudah waktunya kita berbuat sesuatu demi perubahan, bukan hanya diam terkurung ketidakpedulian. 

Kali ini penolakan diam Djenar ia wujudkan dengan memberi wadah bagi penyanyi Cinta Ramlan (adik Olla Ramlan) untuk bercerita segamblang mungkin tentang sudut pandangnya akan nasib perempuan Indonesia serta gaya hidupnya yang oleh banyak pihak bakal disebut tak bermoral (seks bebas, narkoba, alkohol, tato di sekujur tubuh). Selama 90 menit, Cinta dibebaskan bertutur kata tanpa sedikitpun dibatasi, mengisahkan bagaimana ia jengah atas diskriminasi di mana perempuan bakal disebut pelacur bila bertingkah liar, sebaliknya laki-laki justru dipandang jantan. Sementara itu filmnya menangkap keseharian Cinta kala berada di Gili, pesta alkohol di siang hari sampai mencari pasangan acak di malam hari ketika hasrat seksual tak lagi tertahankan.
"hUSh" sama sekali tidak menahan diri menyuarakan opini dan itu sesuai dengan pesan yang diutarakan. Semangat kebebasan dicurahkan penuh letupan energi sebagai perlawanan keras atas kemunafikan. Masalahnya keliaran tersebut tak hanya berujung ekspresi nihil opresi melainkan turut memunculkan ketidakteraturan pada filmnya. Karena ketiadaan batasan bagi apa yang Cinta utarakan, seringkali terdapat repetisi kalimat. Kata demi kata terulang, bergulir hingga terlalu panjang, tak jarang menghadirkan kekacauan disengaja yang menghilangkan penekanan bagi poin utama. 
Djenar dan Kan Lume mengemas "hUSh" bak dokumentasi perjalanan, apa adanya tanpa bantuan efek visual yang kerap dimanfaatkan dokumenter guna membantu paparan data dan fakta plus mempercantik tampilan. Pilihan tepat, menguatkan kesan "mentah" catatan harian seorang perempuan yang jadi tujuan film. Di mayoritas durasi, Cinta bicara ke arah kamera yang statis, seolah tengah berinteraksi langsung dengan kita. Walau memungkinkan penonton memasuki sisi personal Cinta, begitu seringnya hal itu dilakukan kembali membuat "hUSh" terasa repetitif pula minim penekanan. Saya berharap lebih sering dibawa langsung melihat kegiatan yang Cinta bicarakan sambil sesekali mampir ke ruang pribadinya, mendengarkan hal-hal personal semisal curahan emosional mengenai aborsi. Dengan begitu dampak emosi bakal lebih kuat.

Bagi penonton berpikiran terbuka, "hUSh" dapat mudah dinikmati, tapi bagi mereka yang pola pikirnya sempit, film ini berpotensi dipandang sebagai justifikasi maupun glorifikasi terhadap gaya hidup bebas. Saya memandang ini suatu kekurangan, sebab seperti pernyataan di awal film, kini sudah waktunya berbuat sesuatu demi menyadarkan masyarakat perihal hak perempuan, dan untuk itu dibutuhkan proses bertahap termasuk membuka mata para ignorant dan hipokrit melalui berbagai cara termasuk media film. "hUSh" memang sukses menjadi curhatan lantang juga menarik di mana keberanian Cinta Ramlan amat perlu diapresiasi. Namun lebih dari itu semestinya Djenar Maesa Ayu dan Kan Lume mampu memancing pemikiran atau perenungan andai belum mampu mengubah perspektif banyak pihak.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar