ROGUE ONE: A STAR WARS STORY (2016)

14 komentar
Sebelum dimulai, seperti biasa logo Lucasfilm muncul, diikuti kalimat "A long time ago in a galaxy far, far away....". Tapi kemudian "Rogue One" langsung menampilkan pemandangan luar angkasa plus efek suara menghentak, seolah menyadarkan lamunan penonton yang menunggu opening crawl beriringkan lagu tema ikonik buatan John Williams. Begitu kentara memang usaha membedakan film pertama dari (rencana) tiga antologi "Star Wars" ini dengan installment regulernya. Bahkan format judul yang tanpa embel-embel "Episode", desain poster, hingga nyaris tiadanya lightsaber pun menyiratkan kesan serupa. Sehingga menjadi ironis tatkala momen-momen terbaik "Rogue One" justru berasal dari referensi serta kaitan langsung dengan kisah film pendahulu.

Karakter sentralnya adalah Jyn Erso (Felicity Jones), puteri Galen Erso (Mads Mikkelsen), ilmuwan yang dipaksa oleh Empire untuk membangun Death Star. Ketika pihak pemberontak mendengar kabar pembuatan senjata pemusnah tersebut, mereka merekrut Jyn, supaya memudahkan akses mendekati Galen, guna mencari cara menghancurkan senjata tersebut. Dalam pelaksanaan misi, Jyn turut dibantu orang: Cassian Andor (Diego Luna) anggota pemberontak, K-2SO (Alan Tudyk), droid milik Imperial yang telah diprogram ulang, Bodhi (Riz Ahmed), pilot Imperial yang membelot, Chirrut Imwe (Donnie Yen) sang ksatria buta dan rekannya, Baze Malbus (Jiang Wen). 
Jika sinopsis di atas lebih banyak menuliskan nama tokoh daripada ringkasan alur, itu dikarenakan naskah garapan Chris Weitz dan Tony Gilroy memang menyimpan banyak karakter namun ceritanya setipis kertas. Jyn meneruskan jejak Leia dan Rey sebagai protagonis wanita kuat, Chirrut dan Baze begitu badass menghajar Stormtroopers, sedangkan K-2SO paling mencuri hati (salah satu momen kehadirannya terasa menyentuh) ketika dia selalu bisa diandalkan sembari melontarkan lelucon menggelitik. Semuanya menarik, namun tidak demikian kisah di sekitar mereka. Jangankan memorable, beberapa poin alur tidaklah substansial, seperti pencarian terhadap Saw Gerrera (Forest Whitaker) sang pemberontak ekstrimis yang bertujuan untuk memamerkan serangan Death Star semata.

Dua per tiga paruh awal "Rogue One" memang mudah dilupakan, sebab Weitz dan Gilroy seperti lebih memfokuskan penulisan pada membangun hubungan dengan kisah "Star Wars" secara menyeluruh. Meski pengembangannya lemah, "Rogue One" membuktikan betapa kayanya mitologi franchise ini, di mana tiap sisi berpotensi memunculkan cerita baru yang menarik, materi sempurna bagi shared universe. Sekumpulan referensi sekaligus kembalinya beberapa karakter lama pun bakal membuat para penggemar kegirangan. Walau tak sampai 10 menit  termasuk momen pure badass kala klimaks yang dikemas luar biasa oleh Gareth Edwards  kemunculan Darth Vader (disuarakan James Earl Jones) cukup menegaskan alasan dirinya layak disebut sebagai salah satu villain terbaik dalam film. 
"Rogue One" adalah film yang memanjakan para penggemar tetapi cukup mengalienasi penonton awam. Sewaktu para fans atau mereka yang memahami mitologinya dibuat terpana, bersorak mendapati kemunculan mengejutkan satu lagi tokoh klasik pada scene terakhir yang turut menegaskan letak film ini dalam timeline "Star Wars", casual audience takkan terpengaruh, bahkan bisa jadi kebingungan. Tapi bukan masalah, karena Gareth Edwards berhasil menyuguhkan third act bombastis yang tersusun atas adu tembak, perang laser antar pesawat di angkasa, dan tentunya Darth Vader. Pasca dua babak awal yang berlangsung datar, 40 menit terakhirnya merupakan obat mujarab, penutup sempurna bagi film yang berhiaskan "perang bintang" di judulnya.

Sinematografi Greig Fraser sukses menjadikan nuansa tropis Planet Scarif panggung memikat mata bagi peperangan puncak. Begitu pula kedigdayaan CGI, di mana serbuan ratusan pesawat, Death Star yang nampak samar di kejauhan, sampai serangan AT-AT dirangkum dalam suatu kemegahan visual. Sayang, scoring gubahan Michael Giacchino  termasuk rekonstruksi "Imperial March"  gagal menandingi buatan John Williams, meninggalkan kehampaan di tengah tidak adanya "Star Wars Theme". "Rogue One: A Star Wars Story" tetaplah blockbuster yang sangat menghibur, meski terasa lebih dikhususkan bagi para penggemar. 

14 komentar :

  1. Kok aku lebih seneng sama scoringnya Giacchino ya. Setidaknya kalau dibandingin sama scoringnya John Williams di TFA, Giacchino di sini lebih konsisten aja. dan aku agak terganggu sama editing yang rasanya kok kasar gitu dibeberapa scene. selebihnya oke sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. John Williams di TFA emang cuma rearrange score lama dia, tapi at least berasa unsur nostalgia. Giacchino not bad, just flat.
      Ya, editing sering kasar, termasuk opening yang gonta-ganti setting

      Hapus
    2. Fyi, awalnya Desplat yang bikin score tapi diganti ama Giacchino entah kenapa.

      Hapus
    3. Karena ada reshoot, Desplat jadwalnya bentrok karena itu

      Hapus
  2. Endingnya juga tuh...
    As a star wars fan. Well, i'm shocked :D

    BalasHapus
  3. buat saya, lebih menghibur Rogue One ketimbang TFA, scoring nostalgianya malah bikin ngantuk.

    BalasHapus
  4. It is a sequel to the prequels of the sequels of the prequels that are the original in which this is a perquel of , but not a sequel to the sequel of the originals

    BalasHapus
    Balasan
    1. Buset, puyeng amat dah.. wakkakaaka

      Hapus
  5. Kalo aku sih nganggepnya ini Star Wars Episode 3.5
    Setiap ada film tentang luar angkasa ini aku selalu bertanya film ini setting waktunya berapa ribu tahun ke depan. Tapi kalo di Star Wars selalu dengan titel "Galaxy far far away...." yg berarti ini film terjadinya saat ini. Jadi nunggu kapan Star Wars mengambil setting di Bumi.
    Aku kira TFA akan melakukan hal itu, ngambil setting di Bumi saat ini, tapi ternyata TFA cuma soft remake aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah jangan ditunggu, nggak akan ada film Star Wars ambil setting di Bumi :)

      Hapus
    2. Padahal keren kalo ngambil setting di bumi. Bisa merasa ikut terlibat.

      Hapus
    3. Basically semua setting Star Wars planet fiktif, tujuannya buat hiburan, penjelajahan luar angkasa, kalau balik ke Bumi bakal berlawanan sama tujuan itu sih :)

      Hapus
  6. that darth vader scene tho.....

    BalasHapus