SAUSAGE PARTY (2016)

7 komentar
Jika mengira bahwa "The Interview", komedi tentang usaha pembunuhan terhadap Kim Jong-un merupakan kulminasi kegilaan Seth Rogen dan Evan Goldberg, anda keliru. Bagai anak kecil yang mendapat mainan favorit baru, keduanya nampak kegirangan menemukan animasi sebagai lahan di mana batasan rating R dapat didorong sejauh mungkin. "Sausage Party" adalah film mengenai ateisme berisikan sumpah serapah, pemakaian drugs, pemenggalan kepala, pembantaian massal makanan, paparan politically incorrect nan ofensif atas konflik Palestina-Israel, serta pesta orgy para makanan. Yes, this is not your ordinary kid-friendly animation.

Dibuka oleh musical sequence dengan tebaran kata "fuck" pada liriknya, "Sausage Party" membawa penonton mengarungi supermarket bernama "Shopwell" di mana makanan dapat berbicara, bergerak, memiliki tangan dan kaki. Para makanan ini menyebut manusia sebagai Tuhan, pula percaya ketika dibeli, mereka akan dibawa menuju Great Beyond untuk dirawat penuh kasih sayang sebagaimana tercetak di bungkus kardus sereal. Mudah ditebak Great Beyond merupakan alegori atas surga, dan sepanjang filmnya menyoroti usaha sebuah (atau seorang) sosis bernama Frank (Seth Rogen) menemukan fakta jika manusia itu kejam dan Great Beyond tak lebih dari sekedar omong kosong. Ateisme.
Jangan berburuk sangka dulu, karena walaupun jorok dan kasar, "Sausage Party" tidak dibuat berdasarkan semangat kebencian. Rogen dan Goldberg  bersama Kyle Hunter dan Ariel Shaffir selaku penulis naskah  berusaha memancing pemikiran penonton sambil mengkritisi kepercayaan "buta" masyarakat terhadap religiuisitas tanpa berusaha mencari kebenaran yang hakiki. Serupa tokoh Frank, "Sausage Party" hanya mengajak berpikir kritis, bukan memaksa menanggalkan kepercayaan. Di luar dugaan film ini kaya akan subteks seperti beberapa paparan isu sosial yang mana baik konflik, visualisasi tokoh beserta karakterisasinya kental akan stereotip. Keberadaan subteks tersebut efektif memberi bobot lebih pada cerita, menjadikannya tidak berakhir sekedar tempelan.

Beberapa pertanyaan sempat mengganggu pikiran saya. Jika gerakan makanan tak bisa dilihat oleh manusia, kenapa tidak demikian di beberapa bagian (sosis menggelinding, dan tentunya klimaks)? Andai bisa, mengapa pula seringkali manusia tidak menyadari gerakan tersebut? Lalu, benda apa saja yang (diam-diam) hidup? Tentu bukan sekedar makanan mengingat ada tisu toilet, kondom, dan douche sang villain. Namun kenapa benda-benda seperti tas belanjaan tidak? Pentingkah pertanyaan berkaitan inkonsistensi itu diutarakan mengingat absurditas "Sausage Party"? Tentu, sebab di balik semua kebodohannya, film ini kerap berusaha tampil selaku kritik sosial.
Seperti telah saya singgung, Rogen dan Goldberg bak menemukan jalan menyalurkan kegilaan, lalu memasukkan sebanyak mungkin seks, umpatan, dan kekerasan. Mendengar makanan mengucapkan "fuck" cepat menjadi repetitif dan kehilangan kelucuan, untungnya duo sutradara Conrad Vernon dan Greg Tiernan punya visi sejalan dengan Rogen-Goldberg dalam pengadeganan. Alhasil "Sausage Party" seolah tak pernah kehabisan momen mengejutkan yang pula terasa cerdas. Momen kala beberapa makanan jatuh dari troli mencuatkan kengerian war movie, sedangkan adegan memasak dikemas brutal layaknya torture porn horror. Food orgy sequence-nya pun memberikan definisi baru kepada istilah "food porn movie". 

Jangan harapkan kualitas animasi sekelas Pixar atau DreamWorks, karena film ini hanya dibuat dengan bujet $19 juta, tapi keterbatasannya mampu disulap menjadi parade visual mencengangkan nan kreatif yang memburamkan batasan jenius dan bodoh. Some wordplays are pretty hilarious, but "Sausage Party" is more shocking and thought-provoking than funny. Belum pernah sebelum ini saya membayangkan kegiatan mengupas kentang dan mengiris sosis dapat terasa sadis dan mengerikan. Oh, and how could a bum (voiced by Kristen Wiig) be that seducing?

7 komentar :

Comment Page:
Alvi Fadhollah mengatakan...

karya terbaik Evan-Rogen setelah Superbad kah?

Rasyidharry mengatakan...

Personally lebih suka ini daripada Superbad. Lebih fresh, lebih sinting

jonatan lumbantoruan mengatakan...

salah satu film terbaik yang sata tonton tahun ini xD

Iftikar Mukti mengatakan...

Film sinting... endingnya ga tahan...

Btw, mas movfreak boleh tanya personal g?
Saya punya blog review film seperti ini,
Dan kebetulan mw ikut jd bagian IDFC..
Kira2 keuntungannya gabung disana apa y?

Rasyidharry mengatakan...

IDFC salah satu syaratnya minimal 2 tahun ngeblog.
Keuntungannya jelas nambah link baik sesama reviewer/critics dan orang industri film, karena review kita jadi lebih bisa menjangkau mereka. Tambah perspektif juga dari ngebaca review orang lain. Bisa dapat gratisan nonton, tapi kalo ini tergantung yang ditugasin adminnya hehe

Iftikar Mukti mengatakan...

oh gitu ya... mantab...

makasih banyak mas atas penjelasannya ... (y)

Sam Quarteryu mengatakan...

Film yang sinting tapi bagus XD . Beberapa adegan WTF banget, dan entah kenapa beberapa anak nyasar nonton ini XD