YOUR NAME (2016)

18 komentar
Cinta adalah misteri. Ketika semesta merestui maka takdir mempertemukan dua insan, meleburkan keduanya menjadi satu, menghilangkan identitas "aku" dan "kamu", berganti dengan "kita". Setidaknya itulah yang disuarakan Makoto Shinkai ("5 Centimeters Per Second", "The Garden of Words") dalam "Your Name" a.k.a. "Kimi no Na Wa" yang ia sutradarai dan tulis naskahnya selaku adaptasi novel berjudul sama karyanya sendiri. Berhasil memuncaki Box Office Jepang selama 12 minggu (sembilan di antaranya diraih berturut-turut), "Your Name" merupakan suguhan langka tatkala otak dan hati penonton sama-sama dipacu.

Sebuah benda yang nantinya  lewat twist mengejutkan sekaligus meremukkan hati  diketahui sebagai komet yang melintas 1.200 tahun sekali jatuh menembus awan di adegan pembuka. Lalu bergantian kita diperkenalkan pada dua protagonis, Mitsuha dan Taki. Mitsuha tinggal di kota kecil nan sunyi bernama Itomori, hidup menjalankan tradisi setempat. Sedangkan Taki adalah remaja Tokyo yang gemar nongkrong di cafe bersama teman sekolahnya serta bekerja paruh waktu di sebuah restoran Italia. Secara misterius, keduanya kerap bertukar tubuh selepas bangun tidur, terpaksa menjalani keseharian masing-masing, berkomunikasi melalui catatan di handphone, sampai timbul ketertarikan dan keinginan untuk saling bertemu.
Konsep percintaan menembus ruang dan waktu sejatinya bukan hal baru, namun kepintaran Makoto Shinkai menjalin cerita jadi pembeda. Ketimbang fiksi ilmiah, "Your Name" condong ke arah fantasi, membuat penjelasan berdasarkan logika sains tentang fenomena pertukaran tubuh tersebut takkan kita temui. Tapi kepintaran Shinkai mengawinkan imajinasi dengan mitos (keajaiban komet, kemistisan senja) telah cukup sebagai pondasi, memberi jawaban yang meski kurang masuk akal tetapi memuaskan (this is fantasy afterall). Cermat pula cara Shinkai menebar petunjuk di berbagai sudut narasi yang strukturnya ia bolak-balik, memancing penonton memutar otak mengarungi kegiatan memecahkan teka-teki.
Namun "Your Name" bukan sajian high concept "dingin" yang berusaha sok pintar. Seperti manusia yang dianugerahi akal dan perasaan, Makoto Shinkai turut menekankan penggalian rasa lewat balutan metafora mengenai pemaknaan cinta. Berbagai fenomena aneh di sekitar Mitsuha dan Taki punya kaitan mendalam akan dinamika drama romantika. Ada pencarian cinta, proses saling mengenal untuk kemudian mengisi, sampai sisi bawah sadar yang kerap mengundang tanya dalam batin tiap orang: "Siapa dia? Kenapa aku mencintainya?", dan lain-lain. Timbul kehangatan saat bersamaan dengan tertukarnya tubuh Mitsuha dan Taki, mereka sama-sama menyokong, membantu kehidupan satu sama lain, membawa ke arah lebih baik. Ya, sebagaimana semestinya esensi dari ekspresi rasa cinta.

Seiring kedua protagonis makin mengenal, makin terikat kuat, saya pun terbuai, bersimpati, mencintai mereka berdua. Alhasil begitu twist di pertengahan menghentak, hati rasanya ikut teriris-iris. Setelahnya, Shinkai tanpa henti mengaduk-aduk emosi berkat perpaduan tepat antara drama dan komedi. Sewaktu dramanya mencuatkan keindahan mengharukan soal cinta, humor berbasis body swap-nya konsisten memancing tawa (that boobs-grabbing-joke is the best one). Alih-alih inkonsistensi tone, ketepatan timing Shinkai justru menghasilkan keseimbangan berujung kehangatan. Walau tidak sepuitis "The Garden of Words", animasinya tetap solid meramu romantisme senja atau keindahan magis hujan komet. Because love is indeed magical. 

18 komentar :

  1. Wiiw gak nyangka bakal direview ~
    Nasib di bioskop lokal nggak nayangin :'v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada mas di bioskop2 cgv blitz

      Hapus
    2. Yap, ada di CGV :)

      Hapus
  2. Mantap! Oscar worth kah,mas?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang peluangnya masuk nominasi makin besar

      Hapus
    2. Wah kalo gitu bisa jadi nominator prtama perwakilan Jepang slain karya Ghibli nih 😁

      Hapus
    3. Sangat bisa. Mungkin sisa satu slot bakal diperebutin ini & "The Red Turtle"

      Hapus
  3. oalaah ini tuh ada novelnya toh ternyataa x))
    suka suka, sampe sesengukan aku nontonnya, manis2 getir :'D

    BalasHapus
    Balasan
    1. See? Tapi jangan dibandingin Spirited ya haha

      Hapus
    2. hehehe yups, paham paham xDD

      Hapus
  4. *speechless*
    Mau nangis di bioskop, ditahan-tahan biar gag malu. Sampe luar ambyar :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mending ditangisin di dalem, gelap haha

      Hapus
  5. walau banyak pertanyaan demi pertanyaan, (ex. momen revival nya Mitsuha) tapi tetap ini karya pertama dr Shinkai yg saya sukai. momen fenomena senja serta momen detik2 komet terbelah, itu indah sekaligus ironis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo revival Mitsuha sih intinya berkaitan sama teori time-travel gitu

      Hapus
  6. Sejak masuk tahun 2000an Jepang itu kok justru lebih ngehe film animasinya gini ya bang? Film orangnya yg bikin gw puas cuma buatan Hirokazu Koreeda. Sisanya gw nganggepnya aneh masa, gw gak suka banget sama gaya Takashi Miike dan Sion Sono. Jd kangen Akira Kurosawa, coba film2nya gak hitam putih hhe
    Punya rekomendasi film Jepang tahun 2000an kesini yg bagus gak bang? Jgn animasi yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti nggak suka yang sureal sinting kan? Mungkin bisa coba Like Father Like Son, Departures, Like Someone in Love, Nobody Knows. 13 Assassins juga oke, Miike "normal" di situ

      Hapus
    2. Iya gak suka Bang, gw berusaha menikmati Love Exposure tp gak bisa wkwk
      13 Assassin udah nonton, iya itu film Miike yg paling normal, tp waktu secene 13 pembunuh lawan 200 orang itu gak masuk akal, mereka udah ngebunuh banyak tp musuhnya segitu2 aja wkwk
      Like Someone in Love suka banget, tp itu buatan sutradara Iran kan? Si Abbas wkwk
      Departures nih yg belom nonton, penasaran.
      Thanks rekomendasinya bang

      Hapus
  7. tetap tidak akan mengalahkan spirited away..

    BalasHapus