ARRIVAL (2016)

11 komentar
Tidak, "Arrival" karya Denis Villeneuve ("Prisoners", "Enemy", "Sicario") selaku adaptasi cerita pendek "Story of Your Life" milik Ted Chiang tidak menyajikan invasi alien dengan peperangan global sebagai sentral. "Arrival" bukan hanya mengenai invasi alien. Sebaliknya ini merupakan kisah tentang kita, manusia, dengan semua aspek kehidupan termasuk cinta dan momen yang kehadirannya dalam hidup dihanyutkan oleh waktu. Sebagaimana usaha sang protagonis, Louise Banks (Amy Adams) menerjemahkan bahasa alien, penonton pun diajak menyaring intisari di balik bahasa sinematik Villeneuve. Keduanya serupa, suatu bentuk pencarian makna melalui proses komunikasi. 

Louise, seorang ahli bahasa, direkrut militer Amerika Serikat guna mencari tahu maksud kedatangan 12 pesawat luar angkasa misterius (disebut shell). Di saat bersamaan terjadi kerusuhan, bahkan beberapa negara menyatakan perang terhadap alien. Apa yang makhluk extraterrestrial tersebut lakukan hingga memancing semua itu? Tidak ada, yang mana menunjukkan ketakutan manusia akan ketidaktahuan yang disebabkan buruknya komunikasi. Sebaliknya, meski selalu ditekan untuk mencari jawaban, Louise bersabar, membangun interaksi berdasarkan rasa, bak tengah mengenalkan dunia pada sang buah hati. Sementara, potongan-potongan flashback ikut menampakkan progres hubungan Louise dengan sang puteri. 
"Arrival" is the showcase of everything. Semenjak momen pendaratan alien yang berkat penanganan Villeneuve sanggup merealisasikan nuansa mencekam hasil ketakutan yang berkecamuk di kepala, kita diperlihatkan betapa piawai Amy Adams berakting secara subtil, memamerkan ekspresi yang nampak serupa namun menyimpan beragam arti yang dipersatukan oleh benang merah berupa "wondering". She's wondering about the landing, the language, the alien's purpose, and finally her own life. Layar bioskop bagai cermin raksasa yang memantulkan keheranan maupun rasa takjub penonton dalam bentuk penampilan Adams. 

Naskah Eric Heisserer ("Final Destination 5", "Lights Out") tampil cerdas tanpa perlu pretensius lewat segala kerumitan dialog scientific mumbo jumbo. Tiada kalimat terlontar percuma, baik selaku comic relief penyegar suasana atau baris kata yang walau awalnya terdengar remeh tapi berujung menyimpan makna mendalam (even something like "ask your father") tatkala satu demi satu tabir misteri mulai terjawab. Cerdik pula Heisserer memanfaatkan keliaran tanpa batas dalam perpaduan imaji fiksi dengan sains guna mempresentasikan visi tentang proses komunikasi dan waktu, seraya akhirnya menyatakan, "embrace every moment in your life". 
Sinematografi Bradford Young sempurna menyajikan kesan masif, intimidatif, namun puitis bagi pesawat raksasa alien. Pemandangan saat barisan awan mengelilingi pesawat menyuguhkan keindahan di antara kesan misterius. Menyenangkan pula mendapati CGI dan practical effect saling mengisi, bergantian menampilkan pesawat dari jarak jauh sekaligus dekat sehingga keberadaannya terasa nyata, pun visualisasi menarik soal perbedaan gravitasi di dalam UFO. Aspek visual turut disokong audio, di mana scoring garapan J√≥hann J√≥hannsson setia membangun atmosfer, piawai menghadirkan antisipasi dan rasa mencekam mengiringi eksplorasi menegangkan terhadap ketidakpastian. 

Seluruh aspek di atas kemudian Villeneuve rangkum bermodalkan pemahaman tinggi atas suasana serta rasa yang terkandung pada tiap adegan. Pergerakan alurnya lambat tapi seperlunya alias tak memaksakan diri berdiam terlalu lama di satu titik. Bukan wujud penegasan diri sebagai arthouse, melainkan kehati-hatian. Serupa kecermatan Louise membangun komunikasi antar-spesies, Villeneuve pelan tapi pasti mencoba berkomunikasi, memastikan penonton paham sekaligus merasakan segalanya. Alur non-liniernya mengalir rapi menuju twist yang bukan saja membelokkan alur, pula mengungkap bahwa "Arrival" punya lebih dari kisah pertemuan manusia dan alien. Puncaknya bertempat di konklusi penghanyut emosi, mengajak penonton merenungi keping-keping fase kehidupan yang sesekali terlintas, mensyukurinya. 

11 komentar :

  1. (SPOILER ALERT)
    Saya penasaran sama kalimat apa yang Louise kasih ke Jenderal Shang, soalnya waktu saya nonton di bioskop enggak ada subtitlenya. Ini emang dari filmnya enggak ada atau emang di bioskop yang saya tontong doang ya? :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. Kayaknya kalimat itu bukan jadi masalah penting lagi deh broo. Kenapa sampe 12 bagian kode yg terpisah juga gak dijelasin artinya. Kayaknya yg perlu diperdebatkan adalah: kepan Louise punya kemampuan lihat masa depan? Sebeelum ketemu alien apa sesudah? Mgkn maksud penulisnya mau nunjukin time travel paradox? Ah tauklah. Heuheu

      Hapus
    3. Ya itu juga saya pertanyakan kenapa Louise bisa dapat kemampuan itu, habis itu saya searching di google dan kayaknya artikel ini bisa bantu jawab bro hehe http://screenrant.com/arrival-movie-2016-ending-time-explained/

      Hapus
    4. Saya penasaran bro, soalnya kalimat apa sih sampai bisa buat seorang jenderal batalin keputusannya hahaha x))

      Hapus
    5. "In war there are no winners, only widows"

      Itu terjemahan bahasa Mandarinnya :)

      Hapus
  2. Dari review di atas, apa faktor selera yang membuat penilaian urung bintang lima? Lebih emosional mana dengan Contact (1997)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Angka 5 itu buat yang konsisten selama durasi nggak ada turunnya (intensitas, emosi, etc tergantung jenis pelm) barang cuman 3 menit. Beda sih emosionalnya, Arrival lebih karena "damn, ceritanya bisa mewakili aspek kehidupan ini?!"

      Hapus
  3. Film ini menceritakan tentang penerimaan,walau engkau tahu endingnya bakal bagaimana tapi engkau menerima semua takdir itu

    BalasHapus
  4. Banyak yg ganjil dari film ini, masih banyak pilihan film yg lebih bagus

    BalasHapus
  5. jujur ya 1 jam prtama emg agak bosen, kesannya agak flat gitu, tp acting ttp bagus lah ya

    BalasHapus