LIVE BY NIGHT (2016)

4 komentar
Keterlibatan Ben Affleck dalam "Batman v Superman: Dawn of Justice" plus proyek jangka panjang DC lain sempat memantik kekhawatiran saya. Benar tidaknya komitmen tersebut mengganggu proses kreatifnya di luar DCEU mungkin takkan mendapat jawaban pasti, tapi "Live by Night" jelas film setengah matang yang menodai winning streak karir penyutradaraan Affleck. Untuk pertama kalinya Affleck menulis naskah tanpa partner dan begitu kentara betapa kerepotan ia mengadaptasi novel berjudul sama karya Dennis Lehane yang ceritanya kaya akan subteks mengiringi proses panjang seorang pria menjadi gangster besar.

Ber-setting di tahun 1920-an hingga 1930-an, "Live by Night" berkisah tentang seorang veteran Perang Dunia I bernama Joe Coughlin (Ben Affleck). Pengalaman sebagai prajurit membuat Joe jengah pada kekangan, berhasrat hidup dengan semangat kebebasan. Didasari itu, Joe menjalani hari ke hari dengan merampok bank walau sang ayah (Brendan Gleeson) adalah petinggi kepolisian Boston. Di sisi lain, Joe diam-diam terlibat romansa dengan Emma Gould (Sienna Miller), kekasih gangster tersohor, Albert White (Robert Glenister). Menuruti perasaannya, Joe berniat kabur bersama Emma, keputusan yang justru membenamkannya jauh ke dalam kehidupan gangster.
Tema kebebasan sejatinya sesuai diselipkan di tengah drama gangster. Para pelakunya diharuskan mematuhi perintah bos, mendahulukan kepentingannya meski harus berkorban nyawa. Joe melalui perjalanan panjang. Berpindah ke Tampa menjalankan bisnis milik mafia Italia, Maso Pescatore (Remo Girone), berurusan dengan banyak pihak mulai Ku Klux Klan hingga gadis mantan pecandu narkoba yang menjadi penceramah bernama Loretta (Elle Fanning with short yet captivating performance). Affleck tampak kerepotan memadatkan setumpuk konflik dan karakter itu ke dalam kisah berdurasi 129 menit. Pergerakan alurnya kasar, bagai terbagi atas segmen yang berdiri sendiri-sendiri. Melompat, tidak mengalir.

This could be more than an ordinary gangster tale. Joe adalah pria abu-abu. Dia anak seorang polisi, seorang kriminal, tapi enggan menikmati pembunuhan demi keuntungan pribadi. Tapi lain cerita saat berurusan dengan Ku Klux Klan yang menindas kaum minoritas. Memang ada pengaruh kepentingan bisnis dalam perlawanan Joe, namun jelas hati kecilnya membenci kebiadaban tersebut. Terbukti ia menikahi Graciella (Zoe Saldana), seorang wanita kulit hitam. "Live by Night" banyak berisi subteks soal diversity serta paling menarik kala menempatkan Joe melawan penindasan sembari membicarakan (baca: mempertanyakan) tentang religiusitas lewat story arc Loretta. 
"Live by Night" kekurangan momen glorifikasi gangster yang penuh intrik, perencanaan licik dengan bumbu berupa pertumpahan darah. Momen serupa hanya hadir pada klimaks dan terbukti efektif meningkatkan intensitas. Sisanya, Affleck lebih banyak menyuguhkan situasi membosankan berupa obrolan dan bargaining yang diperparah oleh penulisan dialog ala kadarnya. Sempat hadir car chase namun Affleck gagal menyuntikkan ketegangan, dikemas terburu-buru, berlalu begitu saja. Masalah berikutnya terletak pada akting Affleck. Dia adalah aktor "unik", punya pesona justru saat datar berekspresi yang mana kembali ditampilkan di sini. Sayang, ia kurang piawai kala mengemban beban bertutur layaknya gangster karismatik yang bak magnet, mencengkeram atensi penonton. 

Serupa proses sang protagonis mencari kebebasan, "Live by Night" terasa berantakan. Well-made but messy. Setidaknya penonton disuguhi konklusi memuaskan berupa aksi penuh intrik disertai baku tembak serta penutup bittersweet yang menegaskan bahwa tidak peduli sebaik apa seseorang, sekalinya ia terjebak di dunia hitam ada harga yang harus dibayar termasuk ketiadaan kebahagiaan penuh dalam hidup. "Live by Night" is not a bad movie, but definitely such a disappointment and Ben Affleck's weakest directorial effort. Ada baiknya ia berpikir ulang membahayakan karirnya lebih jauh dengan menyutradarai "The Batman". 

4 komentar :

  1. Eh iya betul juga ya. Pesona Ben Affleck ini justru saat berekspresi datar :D

    Mudah-mudahan proyek Batman berhasil. DCEU ini sebenarnya konsepnya lebih fierce daripada Marvel, tapi kenapa selalu gagal di eksekusi... :'(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah kan? Pas kalau senyum di romcom, di film lain bubar :D
      Tapi Batman aja nggak tentu kelanjutannya haha

      Hapus
  2. Kayaknya DCEU emang dikutuk. Jadi was was sama Wonder Woman.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wonder Woman ada Gal Gadot, at least ada penyelamat :D

      Hapus