LOVING (2016)

3 komentar
Malam telah larut di Caroline County, Virginia, ketika Mildred (Ruth Negga), seorang gadis kulit hitam, memberi tahu kekasihnya yang seorang kulit putih, Richard Loving (Joel Edgerton), bahwa ia tengah hamil. Mildred tampak resah mewartakan kabar bahagia tersebut. Wajar saja, sebab saat itu, tepatnya tahun 1958, terdapat hukum di Virginia yang melarang pernikahan antar-ras. Namun tak dinyana, Richard justru tersenyum, bahagia mendengarnya. Di tengah kesunyian malam, pasangan ini berbagi momen intim, bak menyuarakan tanpa perlu meneriakkan bahwa tiada kesalahan dalam kondisi tersebut, hanya dua sejoli manusia tengah saling mencintai. 

Serupa pendekatan di karya-karya sebelumnya, sutradara Jeff Nichols ("Take Shelter", "Mud", "Midnight Special") memilih flow penceritaan lambat, tanpa berusaha menghujam penonton dengan kesan grandiosity pada pengadeganan. Bahkan walau "Loving" yang mengambil inspirasi dari dokumenter "The Loving Sotry" buatan Nancy Buirski ini punya kisah bersejarah penting, Nichols tetap mementingkan keintiman, fokus menjalin kuatnya cinta dua tokoh utama. This movie never trying too hard to be important. It's never about statement. It's all about Loving couple who deeply love each other and that's more than enough, important enough
Richard membawa Mildred ke Washington DC agar bisa melangsungkan pernikahan sebelum kembali ke Virginia, menjalani hidup sebagai suami-istri secara sembunyi-sembunyi. Namun pihak kepolisian akhirnya mengetahuinya, lalu mengurung mereka di sel. Richard dan Mildred terancam hukuman setahun penjara. Agar dapat menghindar, keduanya harus memilih untuk bercerai atau meninggalkan Virginia selama 25 tahun. Opsi kedua pun dipilih. Tapi perasaan terkekang, dijauhkan dari rumah serta keluarga hanya karena saling mencinta menghalangi hadirnya kebahagiaan utuh, khususnya bagi Mildred. Sampai kasus itu menarik perhatian ACLU (American Civil Liberties Union) yang hendak membantu membawa kasus tersebut ke Mahkamah Agung. 

Banyak potensi dramatisasi di tengah setumpuk peristiwa monumental, tapi Nichols kukuh mengetengahkan intimacy, mengandalkan kelembutan bertutur. Keresahan protagonis dipancarkan bukan lewat tangisan, cukup melalui kesunyian menusuk saat mereka tampak dingin menyaksikan peluncuran Apollo 11 di televisi. Richard dan Mildred tak kuasa ikut merayakan peristiwa besar umat manusia karena hak mereka sebagai manusia tengah dihancurkan. Tidak sekalipun keduanya dikuasai amarah, berapi-api melawan penindasan. Mereka lebih banyak diam, memancarkan ketidakberdayaan. Bukan status pahlawan sebagai tonggak perubahan yang dicari, melainkan kebebasan mengekspresikan rasa cinta. 
"Loving" bisa saja digerakkan ke arah drama yang ramai gejolak khususnya menyangkut respon negatif masyarakat sekitar atas pernikahan antar-ras dan konflik ruang sidang. Namun baik di penulisan naskah atau penyutradaraan, Nichols memilih bentuk penuturan subtil. Kita tak pernah tahu siapa pelaku di balik pelaporan pernikahan Richard dan Mildred ke polisi. Nichols benar-benar menghindari ekspresi kemarahan, seperti yang juga terlihat kala ibunda Richard, Lola (Sharon Blackwood) diam-diam mengungkapkan keberatan atas pernikahan sang putera. Dia memilih momen personal, bicara empat mata mencurahkan perasaan tanpa berusaha memaksa, lalu tetap bersedia membantu persalinan Mildred. 

Pada bagian persidangan, terlihat dua pengacara, Bernie Cohen (Nick Kroll) dan Phil Hirschkop (Jon Bass) berambisi mencetak sejarah ketimbang seutuhnya ikhlas menolong. Nichols menyampaikannya secara tersirat lewat obrolan singkat, respon ekspresi, sampai bagaimana keduanya mementingkan publisitas dengan mengundang wartawan dan Grey Villet (Michael Shannon), fotografer majalah LIFE. Persidangan di Mahkamah Agung selaku klimaks pun tak ditampilkan utuh. Nichols memilih fokus pada keseharian keluarga Loving yang dipenuhi senyum kebahagiaan sambil dengan cermat sesekali memindahkan setting ke persidangan yang hanya menampilkan Bernie dan Phil membacakan pembelaan, makin menegaskan betapa film ini lebih berkonsentrasi pada cinta.
Berbekal tatapan mata kaya rasa dan gestur kecil sebagai penguat, Ruth Negga meresapi emosi Mildred Loving, menenggelamkan penonton dalam perasaan sama. Sebuah bentuk kesubtilan akting yang cenderung sunyi di permukaan tapi menyimpan ledakan di dalam, berujung kesuksesan menghidupkan seorang wanita kuat penuh ketabahan. Sementara itu, Edgerton sebagai Richard Loving lebih rapuh, cemas dan paranoid. Serupa Negga, Edgerton mengandalkan mata ketimbang kata. Richard tak pernah nyaman dengan proses persidangan atau publisitas, dan penampilan Edgerton sanggup menegaskan sikap itu selaku bentuk keengganan menempatkan wanita tercinta di posisi berbahaya. Tanpa banyak bicara, Edgerton dan Negga mampu menjalin chemistry, saling bertukar rasa melalui intensitas tatapan. 

Saya tak pernah menjadi penggemar gaya Jeff Nichols, namun "Loving" jelas sempurna mewadahi sensitivitasnya. Nichols mengandalkan kesederhanaan, meniadakan kemubaziran yang biasa terjadi kala ungkapan verbal mendominasi. Contohnya tatkala Richard mabuk di malam hari kemudian menangis di samping istrinya. Tidak banyak kata terucap, hanya "Aku bisa melindungimu". Sederhana namun efektif menjelaskan perasaan karakter pula memancing emosi penonton. Ditemani musik mendayu buatan David Wingo yang tak pernah berlebihan mencuri fokus serta sinematografi berisi warna-warna lembut milik Adam Stone, tercipta "Loving", perayaan terhadap kesakralan cinta yang universal dan disajikan tulus, halus tanpa amarah maupun bumbu-bumbu pernyataan tak perlu. 

3 komentar :

  1. Michael shannon jadi langganan neh..

    BalasHapus
  2. Waduh keren ini sepertinya.
    Aku hanya berani baca kalimat pertama, pembuka saja.
    Khawatir spoiler..:D
    Segera mencari filmnya.
    Tks for share, ya..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenang, minim spoiler kok :)

      Hapus