PROMISE (2017)

18 komentar
Film-film produksi Screenplay Films itu penting bagi industri perfilman tanah air. Walau sering dicap berkualitas sinetron, judul-judul macam "London Love Story" dan "ILY from 38.000 Ft" sanggup meraih jutaan penonton bahkan bukan mustahil memperkenalkan kultur menonton bioskop kepada target pasarnya (pemirsa televisi). Lambat laun mereka bakal melirik film lain, menjalani proses "belajar film". Tapi "Promise" adalah kasus spesial di mana para pembuatnya berambisi mengusung kisah dewasa dan bangunan alur rumit, menerapkannya di formula FTV dangkal yang mana tidak selaras hingga gagal bekerja.

Kisahnya dibuka melalui pengenalan sepasang sahabat, Rahman (Dimas Anggara) dan Aji (Boy William). Rahman merupakan remaja polos anak pemuka agama (Surya Saputra). Didikan kolot sang ayah membuatnya malu berinteraksi pula enggan menatap mata wanita dengan alasan menghormati. Tapi kenapa tato Dimas Anggara beberapa kali terlihat? Sebegitu malaskah departemen make-up film ini? Tidakkah sutradara Asep Kusdinar menyadari itu? Come on, menonton porno saja Rahman tidak berani, apalagi membuat tato. Sebaliknya, Aji adalah playboy, anak gaul yang bicara sok asyik, menggulung lengan dan membuka kancing seragamnya. Come on, anak gaul tak lagi berpenampilan begitu termasuk di Jogja yang menjadi setting.

Kenapa Jogja dipilih tak pernah jelas kecuali penegasan protagonisnya adalah pria kampung nan polos pula lurus. Really? Para penulisnya pasti tidak memahami Jogja. Rahman pun hanya sesekali memakai logat Jawa (bukan bahasa Jawa) dan pelafalan Dimas Anggara terdengar menggelikan. Singkat cerita, akibat ketahuan menyimpan film porno pemberian Aji, Rahman diharuskan menikah oleh ayahnya. Ada potensi menggugat konsep perjodohan dan pemikiran kolot bersenjatakan agama, tapi Sukhdev Singh dan Tisa TS selaku penulis naskah urung bereksplorasi, membiarkannya tertinggal sebagai hiasan nihil substansi. Lalu dengan siapa Rahman dijodohkan? Di sini alur "Promise" bererak makin ambisius, memakai gaya non-linier. 
Kisahnya langsung melompat beberapa waktu ke depan, ketika Rahman berkuliah di Milan, bertemu Moza (Mikha Tambayong) yang diam-diam jatuh cinta padanya. Hadir pula Ricky Cuaca sebagai comic relief tak lucu yang tampil hanya untuk bertingkah norak dan menyebalkan. Total screentime-nya tak sampai 10 menit termasuk adegan Ricky marah-marah di tempat umum karena menabrak tiang. Come on, this is Milan for fuck sake! Rahman sendiri rupanya tengah mencari sang istri yang identitas serta alasan kepergiannya belum terungkap. Sampai ia bertemu Aji yang kini menjadi fotografer sukses dan berpacaran dengan model bernama Kanya (Amanda Rawles).

Lupakan fakta jika sebelumnya Rahman dan Aji tak pernah diperlihatkan tertarik akan bidang yang mereka geluti di Milan, karena toh jalan hidup manusia siapa yang tahu. Anda bisa mendadak ingin menjadi politikus saat kuliah walau di SMA bercita-cita sebagai aktivis. God only knows. Mari fokus pada pilihan alur non-linier saja. Apakah pemakaian gaya tersebut penting? Tentu tidak. Sama tidak pentingnya dengan pertanyaan "Kucing jatuh dari pohon apanya dulu?" yang jawaban serta konteksnya teramat menggelikan. Pemakaian alur non-linier tak lebih dari bentuk kemalasan menghadirkan kejutan yang bahkan sama sekali tak mengejutkan.
"Promise" justru tersesat di kerumitan kisah yang dibangun. Alurnya asal melompat, begitu berantakan tanpa disertai alasan jelas mengapa dari titik A ceritanya perlu melompat ke titik D, kemudian kembali ke B, dan seterusnya. Film ini tidak memerlukan kejutan, cukup nuansa romantis. Masalahnya, lompatan alur memaksa paparan hubungan Rahman dan cinta sejatinya ditempatkan di tengah menjelang akhir. Penonton dipaksa tersentuh oleh percintaan yang belum sempat disaksikan. Andai usaha memunculkan kejutan yang tidak perlu ini ditiadakan, bukan mustahil filmnya mampu sedikit mempermainkan emosi. 

Bila ada faktor penyelamat, itu terletak pada beberapa shot memikat mata lengkap disertai warna-warna cerah. Jangan lupakan pula Mikha Tambayong yang sama memikatnya bagi mata. Mengenakan busana yang ditata apik oleh Aldie Harra, walau akting Mikha masih belum layak disebut realistis (sinetron-ish), penonton pria pastinya bakal terhibur oleh gerak-gerik termasuk tariannya sewaktu clubbingAm I being sexist right now? Entahlah, tapi ketika filmnya menempatkan sang aktris selaku eye candy semata yang karakternya tak menyimpan signifikansi, saya bisa apa? 

Setiap tingkah dan keputusan karakter sulit diterima akal sehat. Di produksi Screenplay lain saya dapat menerima perilaku tak logis yang sengaja dibuat demi memuaskan hasrat penonton atas konsep cinta sejati. Kali ini kebodohan mereka sudah keterlaluan, terlampau dipaksakan demi menggerakkan alur atau menambah konflik. Dosis kalimat puitis pun bertambah dan makin menggelikan semisal "Kamu seterang lampu di luar sana" (lampu mana mbak? Berarti kalau mati listrik Rahman tidak lagi terang?). Selipan unsur pernikahan, perjodohan, dan religiusitas tak membuat "Promise"  lebih dewasa sebab semuanya sekedar tempelan yang bila dihilangkan pun tak jadi masalah. Untuk apa pula memaksakan tampil (sok) pintar dengan alur acak dalam suguhan semacam ini? Seolah belum cukup, menjelang akhir filmnya masih menyelipkan unsur penyakit secara mendadak, menambah satu lagi hal tak perlu di tengah ambisi besar yang berujung kehancuran. Ungkapan "less is more" nampaknya patut diresapi Screenplay Films.

18 komentar :

  1. Mana ni list film terbaik (lokal dan luar negeri)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duh maaf, terlambat ya :(

      Hapus
  2. Yg lokal udah ada bang, cek aja
    Tinggal yg luar aja belum

    BalasHapus
  3. Saya "Promise" gak akan nonton filmnya ini Bang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Demi kesehatan tak perlu :D

      Hapus
  4. Kemaren akhirnya jadi juga nyoba nonton film beginian. Haha, *wow* yak. Review ini sempurna sih mendeskripsikan keseluruhan film. Gag heran diskusi grup, feedback positifnya kayak "Uda kebal gua sama sajian gini, have fun ajalah nertawain momen2 bodoh yang tetiba muncul & nikmati kemunculan tiap 'eye candy'. RATING 3!" Btw bisa kasih urutan film Screenplay paling mending? (like ILY > London Love > Magic Hour > dstr)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nonton Magic Hour di tv dan nggak kelar jadi belum bisa kasih penilaian. Tapi kalau sisanya gini:
      Headshot >>> London Love Story > ILY >>> Promise

      Hapus
  5. Perasaan si Dimas Anggara lebih cocok jadi Guide tour keliling eropa deh om.. wkwkwkwk

    BalasHapus
  6. Baru aja punya 'pengharapan bagus' akan film ini soalnya pernah mikir jelek duluan sama film 'Ada Cinta di SMA' yang ternyata bagus. Setelah baca review ini, ya sudahlah nungguin di TV aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Khusus buat Screenplay kudu lebih hati-hati :D

      Hapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  8. Screenplay garapannya sinetron atau ftv bgt yaa.. siapapun pemainnya sekeren apapun dia sama aja kalo yg bikin screenplay.. termasuk Aku, Kau dan Kua itu bukan siih ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara garapan sebenarnya cinematic, bagus, problem ada di naskah.
      Aku, Kau & Kua itu Starvision. Screenplay baru ada 5 film: Magic Hour, London Love Story, ILY From 38.000 Ft, Headshot, sama Promise.

      Hapus
  9. Mudah-mudahan Screenplay tahun 2017 mulai menggandeng sineas-sineas terbaik Indonesia lah. Dia modal buat bikin populer filmnya sudah ada soalnya, apalagi promo mulu di SCTV/Indosiar. Terbukti film-filmnya laris manis. Tinggal dibikin bagus lagi aja kualitasnya. Adipati Dolken bisa lah buat awal-awal gantiin dominasi Dimas Anggara. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. So far sih yang mulai digandeng Mo Brothers. Setelah Headshot, The Night Comes for Us juga diproduksi mereka

      Hapus
    2. Iya, Headshot permulaan yang bagus. Wow, baru tau kalau 'The Night Comes for Us' Screenplay juga.

      Hapus
    3. Yap bagus juga buat Mo Brothers, film mereka bisa ditonton lebih banyak orang

      Hapus