GENERASI KOCAK: 90AN VS KOMIKA (2017)

24 komentar
Bayangkan anda membeli sarden, lalu begitu kalengnya dibuka isinya ikan teri, cuma seekor pula. Sama-sama ada ikan di dalamnya tapi pasti anda kesal, merasa tertipu. Bukan saja berbeda, kualitasnya pun di bawah barang yang seharusnya. Begitulah rasanya menonton mayoritas film produksi Sultan KK Dheeraj (KKD) misal "Pocong Mandi Goyang Pinggul", "Rintihan Kuntilanak Perawan", sampai yang paling menghebohkan, "Mr Bean Kesurupan Depe". Hal sama terulang pada "Generasi Kocak: 90an vs Komika" yang bagaikan penghinaan untuk kata "kocak", era 90an dan para komika. 

Mungkin KKD membenci istilah "kocak" sebab karyanya tak pernah layak mendapat sebutan itu. Dia pun bak membenci 90an karena begitu dikenang hingga membuat film-filmnya terlupakan, juga komika yang dewasa ini meraih kesuksesan, dipuja melebihi dirinya. Seperti Dewa yang tidak lagi disembah, lalai diberi sajen, wajar beliau marah kemudian bersabda "Wahai rakyatku dan saudara-saudaraku. Janganlah kita larut dalam demokrasi yang menyesatkan (fitnah). Masih banyak cara yang lebih ksatria menuju satu tujuan". Ah, maaf. Sepertinya saya keliru mengutip sabda dari Sultan berbeda.
Siapkan mental anda, karena saya segera membeberkan salah satu sinopsis paling absurd semenjak kata "sinopsis" pertama kali diperkenalkan. Allan (Afif Xavi) adalah anggota Gangster Komika yang dipimpin Naga Komika (Anyun Cadel), sementara teman masa kecilnya, Dellon (Adi Bing Slamet) berasal dari kelompok musuh, Gangster 90an milik Si Naga 90an (Kadir). Keduanya bekerja sama mengkhianati geng masing-masing, mencuri emas batangan kepunyaan Si Naga 90an, membuat mereka menjadi buronan. Suatu hari Allan kelimpungan saat kedua orang tuanya (Jaja Miharja dan Hj. Tonah) datang ke Jakarta, sebab ia mengaku berprofesi sebagai dokter. Dibantu Dellon serta pacar masing-masing, Susi (Arafah Rianti) dan Mia (Resti Wulandari), Allan menciptakan sandiwara guna menipu ayah dan ibunya. 

Menyebut lubang logika bodoh dalam naskah garapan Herry B. Arissa ("Hantu Juga Selfie", "Pelet Kuntilanak") seperti mencari banci di Taman Lawang. Mudah ditemukan, tapi saya enggan melakukannya. Walau demikian beberapa poin mesti diutarakan. Pertama dan paling utama tentu ketiadaan momen Gangster 90an melawan Gangster Komika sebagaimana tertuang di judul. Ya, mereka diceritakan bermusuhan, tetapi cuma sekali berbagi screentime, Konteksnya pun bukan pertempuran. Dalam interpretasi "versus" paling asal sejak "Batman v Superman" ini, keduanya justru memburu Allan dan Dellon, dua gangster yang sama sekali tak pernah diperlihatkan beraksi sebagai gangster. Saya gagal pula memahami definisi "gangster" film ini. Kegiatan pihak komika sepanjang film hanya mendengar lawakan tak lucu sang bos, sedangkan Si Naga 90an asyik bermain arcade "Street Fighter". 
Jangan harap menemukan paparan menarik soal gesekan dua generasi di saat referensi budaya populer 90-an yang ada ditempatkan sedemikian asal. Herry B. Arissa dan sutradara Wishnu Kuncoro ("Dendam Arwah Rel Bintaro", "Jeritan Danau Terlarang Situ Gintung") sekedar membuat checklist barang populer di masa itu (tazos, game boy, walkman, yoyo, telepon umum dan lain-lain), menampilkannya tanpa substansi. Bagi pembuat film ini, seorang gangster bermain tazos di cafe, atau memainkan walkman di mobil yang di dalamnya pasti terdapat pemutar kaset adalah hal wajar. 

Berkedok nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" mengumpulkan sosok komedian tersohor yang lagi-lagi hanya bertugas melontarkan referensi. Sebutlah Mandra sebagai supir taksi. Kehadirannya sekedar untuk memfasilitasi dialog tentang Munaroh dan oplet (referensi perannya di "Si Doel"). Kadir urung bertutur memakai logat Madura ciri khasnya. Sementara Jaja Miharja kebagian satu adegan yang paling mendekati taraf lucu, namun gagal memancing tawa akibat telah diungkap dalam trailer. Satu poin positif dari para legenda tersebut yakni mereka berusaha sekuat tenaga melucu, memberi effort yang harus dicontoh komika junior. They belong to something better and more respectful than this.
Ketimbang nostalgia, "Generasi Kocak: 90an vs Komika" cenderung membuat gila. Apalagi kala caranya mengakhiri kisah menganut ilmu yang tertuang pada kitab storytelling Sultan KKD, yang berbunyi "Jika ceritamu belum usai ketika durasi mencapai 80 menit, alangkah baiknya engkau selesaikan saja memakai narasi singkat, dengan begitu penghematan biaya mampu didapat." Apabila anda belum dan hendak menonton film ini, jangan baca kalimat di bawah, sebab saya akan menuliskan SPOILER berupa ending. Tetapi jika tidak, selamat menikmati dan mencerna absurditas yang ditawarkan. SPOILER DIMULAI. Setelah klimaks saat Allan dan Dellon tertembak oleh geng 90an dan komika, keduanya dirawat di rumah sakit. Lalu kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR

Anu, maaf, bagaimana? Saya kurang paham. SPOILER DIULANG. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR. Maaf, saya pasti salah dengar, bisa diulang sekali lagi? SPOILER DIULANG SEKALI LAGI. Kita mendengar voice over yang menuturkan bahwa mereka mengembalikan emas curian, bertobat, dan Allan akhirnya benar-benar lulus sebagai dokter, sedangkan Dellon menjadi polisi. SPOILER BERAKHIR LAGI. Ya. Terserah kau sajalah Sultan. Hamba bukan apa-apa dibandingkan Sultan. 

Beberapa penonton (sekitar tujuh sampai delapan orang) yang memenuhi baris di belakang saya kerap tertawa sepanjang durasi. Mereka memasuki studio sambil berteriak, tertawa sendiri, bicara menggunakan bahasa kasar, bahkan ketika film telah dimulai, juga duduk sembari mengangkat kaki ke sandaran kursi di depannya. Tidak ada sopan santun. Seenaknya. Begitu pula cara film ini melontarkan humornya. Asyik bergurau sendiri tanpa mempedulikan ketepatan penempatan, melontarkan komedi-komedi tasteless nan menyakitkan. Lucu atau tidaknya komedi memang subjektif. Sah-sah saja apabila anda terhibur oleh "Generasi Kocak: 90an vs Komika". Silahkan bergabung dengan golongan penonton seperti di atas selaku target pasar film ini. 


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

24 komentar :

  1. Halo bro, ntn ini karena wajib ntn sbg reviewer kah? Ntn gini dengan biaya sendiri? Masuk worst list 2017? Hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tugas dari Id Film Critics hehe
      Kemungkinan besar masuk :))

      Hapus
  2. Review 'paling jujur' yg pernah gw baca di blog ini kayaknya bangg.. Tapi masih juga dikasih setengah bintang yaa? 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih menghargai totalitas komedian seniornya, kasih bonus setengah :D

      Hapus
  3. Kayaknya di kasih setengah bintang kegedean bang 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bintang nol itu khusus buat kasus spesial, yang nggak sekedar jelek luar biasa :D

      Hapus
  4. Sempat-sempatnya toh masukan sabda dari Sultan yg lain toh. Hahaha
    Btw beneran endingnya ky bisa gitu bang???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu sabda Sultan Edhie Baskoro di twitter haha
      Yap, dan sebenarnya beberapa film KKD pernah pakai ending serupa.

      Hapus
  5. mungkin Plan 9 From Outer space masih jauuuuuuuh lebih baik yah om? :p

    (terima kasih buat om yang mau berkorban agar kami gak nonton nih film)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, masterpiece kalau itu. Lucu luar biasa :D

      Hapus
  6. Ngakak review nya :v sarkasme di mana-mana

    BalasHapus
  7. Hahahaha. Semalem iseng nonton ini. Ampun Adi Bing Slamet lawakannya duh.

    BalasHapus
  8. kayaknya baca review filmnya lebih lucu dibanding nonton filmnya 😂

    BalasHapus
  9. buka movreak > baca paragraf awal > pagedown > lihat bintang > baca komentar > ah sudahlah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, emang film yang "ah sudahlah" :D

      Hapus
  10. "Hamba bukan apa-apa dibandingkan Sultan" gua ngakak disitu, berasa kayak di Brunei. Hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena dibanding Sultan KK Dheeraj hamba memang bukan apa-apa hehe

      Hapus
  11. Gue udah baca review ini, tapi esoknya terpaksa nonton karena dibayarin temen, disuruh jgn nonton ini, dia ngeyel. Alhasil yg kita dapatkan.

    *Endingnya tai, emang masuk kedokteran gampang, biayanya gede men, saingannya ketat lolos dari sbmptn, kalo mau dari awal kasih karakter si alan sifat jenius-jenius gimana gitu.
    *Telinga gue sakit ngedenger cowong orang tua si allan tiap pas ngelawak.
    *Dan ada beberapa rahasia yg cukup pelik disembunyikan si allan dari orang tuanya terbongkar hanya gara-gara si delon melakukan kebiasaan anomali yg gk mungkin dilakukan karakter difilm lingkup oscar yaitu kebiasaan "eh keceplosan"

    Semoga gue masih bisa menjalin pertemenan dengan temen gue yg sudah menganiaya gue nonton ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar mas, seharusnya kalian berdua saling menguatkan supaya bisa bertahan setelah pengalaman traumatis itu. Semoga sehat selalu

      Hapus