MANCHESTER BY THE SEA (2016)

19 komentar
"Life is a comedy written by a sadistic comedy writer". Baris kalimat dari "Cafe Society" milik Woody Allen tersebut cocok menggambarkan perjalanan Lee Chandler (Casey Affleck), protagonis dalam "Manchester by the Sea". Film yang disutradarai sekaligus ditulis naskahnya oleh Kenneth Lonergan ("You Can Count On Me", "Margaret") ini sejatinya bukan komedi. Sebaliknya, sarat akan tragedi. Namun layaknya kisah tragicomedy kebanyakan, penderitaan dan situasi tak nyaman justru sumber kejenakaan. Lonergan memang "kejam" menempatkan karakter di tengah kepedihan, menggiring pada kesadaran bahwa posisi kita selaku observer, pihak ketiga yang tak terlibat langsung dengan satu peristiwa dapat memancing perspektif berlainan.

Filmnya mengawali narasi dengan memperlihatkan keseharian Lee Chandler yang bertanggungjawab merawat apartemen tempatnya menetap, mulai membersihkan salju, memperbaiki keran bocor, hingga sedot WC. Walau sigap bekerja, kita (dan para tetangga) mendapati Lee sebagai pria yang pendiam dan tidak ramah. Bahkan ia sempat berucap kasar pada pemilik apartemen, juga memicu perkelahian di bar. Suatu hari ia menerima kabar duka yang mengharuskannya pulang ke kampung halaman di Manchester-by-the-Sea, Massachusetts. Di sana Lee mesti menatap trauma akibat tragedi masa lalu sembari membantu keponakannya, Patrick (Lucas Hedges) menghadapi hal serupa.
Harmonisasi vokal sopran pada adegan pembuka mengingatkan saya akan cara quirky comedy ala Wes Anderson mengawali kisah (kelak juga terdengar megah menguatkan dramatisasi), dan sungguh "Manchester by the Sea" dipenuhi kecanggungan menggelitik. Lonergan membawa penonton memandang situasi "sulit" seperti pewartaan berita duka atau pemberitahuan jika seseorang menderita penyakit fatal dari kacamata berbeda. Tentu segala situasi itu tidak nyaman dan Lonergan berniat menunjukkan betapa kesan awkward menyimpan nuansa begitu kaya, bukan sedih belaka. It could be funny, dramatic, tragic, heartbreaking, lovely. Butuh kepekaan plus kejelian tinggi untuk menyulap tragedi menjadi tawa, dan keduanya dipunyai Kenneth Lonergan. 

Penonton dibuat ikut merasakan tapi dibatasi supaya tak merasuk terlampau dalam agar tetap bertindak selaku pengamat (tidak terlibat langsung), menjaga objektifitas, memungkinkan kita menangkap beragam rasa tersebut. Demi menghasilkan itu, Lonergan kerap menggunakan medium long shot (seluruh badan aktor terlihat) dan mid-shot (setengah badan) dipadukan kamera statis juga pengambilan gambar tanpa putus yang memfasilitasi observasi penonton secara jelas nan menyeluruh. 
Lonergan memakai quick cuts mendadak untuk menyusun pergerakan alur yang bisa tiba-tiba pindah dari masa kini menuju flashback, menampilkan perbedaan dalam diri Lee. Dahulu ia adalah bad boy, hidup bahagia bersama sang istri, Randi (Michelle Williams) dan tiga buah hati. Apa yang mendorongnya berubah menjadi sosok tak ramah merupakan misteri, keping demi keping puzzle yang perlahan mulai terisi lengkap, menjaga atensi penonton melalui pertanyaan. Quick cuts-nya memiliki beberapa fungsi lain: menguatkan dinamika, intensitas, bahkan kejenakaan. Gaya itu turut menyebabkan pergerakan alur terasa chaotic, suatu kesengajaan guna mewakili kekacauan hidup Lee. 

Naskahnya membentuk studi kokoh seputar proses karakter berurusan dengan trauma. Lee harus membantu Patrick melewati tragedi, tapi ia pun dipaksa menghadapi kepedihan masa lalunya. Lee menyamakan kondisi sang keponakan dengan dirinya, menyeret Patrick pergi, bersembunyi, menjauh sebisa mungkin dari sumber duka. Suatu hal yang selama ini ia perbuat. Padahal Patrick ingin menjalani hari seperti biasa, bermain band, hockey, dan bercinta dengan dua kekasihnya. Sadar atau tidak, Lee bukan menolong Patrick, melainkan dirinya sendiri. Lee ingin membawa Patrick pergi supaya ia pun dapat menjauh dari duka. Walau menyiratkan harapan termasuk dalam dua kalimat terakhir saat Lee dan Patrick saling melempar bola ("Just let it go", "Heads up"), konklusinya enggan memaksakan akhir bahagia, bergerak natural sebagai hasil yang pantas didapat dari proses sang tokoh utama. 
Di balik paparan mengenai duka dan tragedi, "Manchester by the Sea" juga merupakan studi manusia sebagai makhluk sosial yang takkan pernah lepas dari interaksi antar sesamanya. Apa pun kondisinya kita pasti menemui itu, harus menjalaninya. Karenanya kecanggungan sebagaimana banyak muncul dalam film ini acap kali tercipta. 

Cara bicara menggumam, mata sendu, sampai aura kerapuhan adalah beberapa aspek yang jamak dijumpai dari performa Casey Affleck. Typical from Casey, but he's so good at those things. Penampilan Casey di sini bagai kulminasi atas gaya aktingnya tersebut, tampak alamiah, kaya akan gestur dan ekspresi wajah yang meski kecil, teramat kuat mewakili emosi. Lancar pula Casey memainkan dua sisi berlawanan (sebelum dan sesudah tragedi) milik Lee. Punya porsi sedikit, Michelle Williams tetap mencuri perhatian, menyentuh hati ketika Randi mengungkapkan kepedihan terpendamnya pada Lee secara emosional. Kyle Chandler sebagai Joe, kakak Lee, mungkin tak banyak mendapat sorotan di award season, namun kemunculannya memenuhi tugas selaku peran pendukung, membuat penonton mudah percaya akan kasih sayang dan ikatan kuat dua saudara. 

19 komentar :

Comment Page:
Zulfikar Knight mengatakan...

"The more talented Affleck", kata seseorang di 9gag.

Anonim mengatakan...

Gimana prediksi Mas Rasyid. Si Affleck bakalan memboyong Oscar gak?
Atau malah si Denzel...

Rasyidharry mengatakan...

Haha didukung sama pilihan film Casey yang lebih selektif juga sih. Tapi Ben sebagai sutradara lebih oke ketimbang Casey.

Rasyidharry mengatakan...

Tunggu postingan prediksi Oscar :D

tauriza iqbal mengatakan...

mungkin klo casey gk dpt oscar bs dipastikan ada andil kasus pelik yg sedang dihadapinya ya mas rasyid..

Rasyidharry mengatakan...

Pasti ada andil. Tapi juga karena Denzel aktor yang dihormati. Apalagi kalau Denzel menang bisa membantu Academy mengatasi isu "Oscar so white".

Briyogi Shadiwa mengatakan...

kerenan mana akting dia ama di "The Assassination of Jesse" om??

Zulfikar Knight mengatakan...

Review kubo sama nocturnal animals mas. Ane bener-bener suka Kubo, tpi ane kurang suka sama nocturnal animals. Cuman minta pendapat sih.

Rasyidharry mengatakan...

Kubo suka bangunan mitologinya, sekuat Moana, walau personally gagal nendang secara emosi. Visualnya top notch. (4/5)

Nocturnal pas bagian visualisasi novelnya sukses bikin sesek. Atmosfernya juga creepy macam film-film Lynch. Naskahnya solid kasih relasi cerita novel & dunia nyata ditambah penempatan simbol-simbol tepat. Aaron harusnya masuk nominasi Best Supporting Actor Oscar, layak menang malah. Setelah 2nd viewing agak menyesal nggak masukin Nocturnal di daftar Best of 2016. (4.5/5)

Rasyidharry mengatakan...

Well, kayak sudah ditulis di review, akting Casey di Manchester kulminasi gaya akting dia selama ini. Puncaknya. Semakin menguasai & matang di semua sisi dalam hal akting gloomy yang subtil begitu. :)

Anonim mengatakan...

Bang review fil gunung kawi dong

Jumbo Camp mengatakan...

Bang review War on Everyone dong bang

mukekho mengatakan...

Tapi casey sangat layak menang walaupun dengan kasus yang dihadapinya dan kayanya untuk tahun ini viola davis sama mahershala ali yang bakal didapuk untuk isu "oscar so white"

Alvi Fadhollah mengatakan...

adegan williams-affleck berhasil bikin hampir nangis. Williams ini kayak Emma Stone ya, gak perduli muka jelek pas ekspresi nangis.😁

Rasyidharry mengatakan...

Wah lancang anda, Emma Stone nggak pernah jelek! hahaha

Anonim mengatakan...

bro, prediksi pemenang oscar dong:D

abdullah mengatakan...

Kok aku kurang menikmati film kayak begini, mungkin selera ku masih pasaran.

Lemonvie.net mengatakan...

Kalau dinilai rapuh... justru saya agak merasakan kondisi psikis dari seorang affleck sebagai orang depresi. Tiba2 mukul orang, kecanggungan orang saat bicara dgn affleck dgn hati2, yg menurut saya tingkahnya agak sosiopat.. meskipun pada akhirnya saya menyadari kebenaran sesungguhnya dan tetap menganggapnya sebagai kewajaran trauma kejiwaan. Mungkin memang ga bisa dipungkiri ia di elu2 kan oleh kritikus dan reviewer utk mendapatkan oscar... karena aktingnya memang terasa powerful

Rasyidharry mengatakan...

Nah ya itu bentuk kerapuhan yang dia tunjukkan :)