SILENCE (2016)

23 komentar
Layar hitam, gelap, ditemani suara jangkrik yang menyuarakan keheningan. Sejurus kemudian, dibalik selimut kabut pekat terlihat kepala para Pendeta disusun berjajar. Mereka dipenggal setelah menerima siksaan brutal oleh para "inquisitor" akibat menyebarkan Katolik di Jepang. Salah satu di antaranya adalah Father Ferreira (Liam Neeson) yang dalam suratnya menyatakan siap menerima posisi sebagai martir, takkan murtad demi menghindari penyiksaan. Demikian cara Martin Scorsese membuka "Silence", passion project-nya sedari 1990 selaku adaptasi novel berjudul sama karya Shūsaku Endō. Sunyi, mencekam, mencengkeram perasaan.

Di Macau, Father Rodrigues (Andrew Garfield) dan Father Garupe (Adam Driver), dua murid Ferreira membaca surat sang guru, terkejut kala mendengar Ferreira telah murtad untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Menyatakan tidak percaya, Rodrigues dan Garupe memutuskan pergi ke Jepang meski harus menantang bahaya. Dibantu seorang nelayan bernama Kichijiro (Yōsuke Kubozuka), keduanya berlayar ke Jepang, lalu berdakwah secara diam-diam di berbagai perkampungan miskin. Selain mencari keberadaan Ferreira, mereka pun mesti bersembunyi dari kejaran inquisitor, pula menghadapi bermacam peristiwa penguji keimanan yang juga kerap menantang pemikiran penonton.
Daripada mempertanyakan apalagi menghujat konsep agama, naskah garapan Scorsese bersama Jay Cocks lebih seperti proses memaknai, mengulik arti iman di tataran substansi. Sepanjang film, diperantarai perjalanan Rodrigues dan Garupe, penonton dihadapkan pada serangkaian kondisi dilematis. Para penganut Katolik di Jepang diberi dua pilihan: menginjak gambar Yesus (simbol kemurtadan) atau menolaknya, mengaku menganut ajaran Katolik. Pilihan kedua bakal berujung siksaan sampai mati. Sedangkan para Pendeta termasuk Rodrigues pun dipaksa melakukan hal serupa di mana penolakan berarti makin banyak nyawa rakyat terancam. Rodrigues (dan kita) tak kuasa bertanya, "sepadankah keputusannya mempertahankan iman dengan penderitaan semua orang?". 

"Silence" mencuatkan pertanyaan universal soal simbol, bergerak menuju pemahaman  yang berpotensi memancing kontroversi di beberapa kalangan  betapa iman lebih dari sekedar simbol, tak perlu dipamerkan, tak usah diteriakkan. Bahwa iman sejatinya merupakan dialog personal antara manusia dengan Tuhan. Sehingga, ketika para tokoh film ini menginjak gambar Yesus, meludahi salib, enggan mengenakan penanda suatu agama, timbul perenungan, "apakah mereka tak lagi beriman?". Scorsese tidak menawarkan jawaban mudah, menempatkan penonton di posisi karakternya. Ambiguitas tutur membuat filmnya tak menggurui, mampu memprovokasi, menciptakan dialektika bukan hanya antara film dan penonton, pula penonton dengan diri sendiri alias sisi terdalam manusia yang dipenuhi keraguan.
"Silence" juga merupakan studi karakter. Dilema Rodrigues ditelusuri secara mendalam, memberi pemahaman akan segala hal yang berkecamuk dalam pikirannya, menjadikan tiap keputusan beralasan. Keteguhan Rodrigues menjalani berbagai siksaan fisik sekaligus mental awalnya mengagumkan, sampai seiring waktu, kita mendapati sang Pendeta bukan manusia sempurna. Dia meragu, rapuh, dan walau terus bertahan, motivasinya mulai dapat dipertanyakan. Benarkah dia berkorban demi Kristus? Ataukah Rodrigues mencari pembenaran, menyamakan penderitaannya dengan pengorbanan Yesus kala disalib dulu? Durasi hampir tiga jam memfasilitasi proses yang ia alami diungkap menyeluruh. Di satu titik saya menengok ke belakang menuju awal sebelum semua terjadi, lalu berujar "he's been through a lot".

Mencerminkan judulnya, Scorsese banyak memakai kesunyian, bertutur melalui gambar ketimbang verbal. Nuansa hening plus tempo lambat bukan tindakan pretensius layaknya sutradara yang terobsesi akan arthouse, namun substansial mendukung observasi penonton atas situasi, pula ikut merasakan kondisi mencekam yang dialami tokoh-tokohnya. Dialog muncul secukupnya, sedikit tapi efektif berpesan. Salah satu penggunaan dialog terbaik nampak saat Rodrigues dan Inoue (Issey Ogata) membicarakan penyebaran Katolik di Jepang. Scorsese mengemas perbincangan ini selaku gesekan dua kepercayaan yang saling mengungkapkan kebenaran versi masing-masing. Sementara penonton ada di tengah, mengamati sambil terombang-ambing di antara dua perspektif yang sama-sama tak bisa disalahkan atau dibenarkan. 
Sinematografi Rodrigo Prieto ("Argo", "The Wolf of Wall Street", "Brokeback Mountain") tak hanya mementingkan keindahan, namun sanggup membuat saya terpaku, terperangah oleh kekuatan gambarnya. Baik sudut kamera maupun komposisi dalam frame amat diperhatikan, menghasilkan dampak rasa luar biasa. Film ini mengetengahkan pengalaman horor karakter, jadi wajar ketika visualnya kerap diisi pemandangan mengerikan. Kengerian itu tidak bersifat eksploitatif, tapi perlu, bahkan menguatkan tuturan kisahnya. Every moment looks powerful. Sementara musik atmosferik gubahan Kim Allen Kluge dan Kathryn Kluge sekilas tak menonjol, tapi tanpa sadar membangun suasana, merambati tubuh kita lewat ambience penyusun mood

Andrew Garfield melanjutkan transformasi dari pemuda tampan idola remaja menjadi aktor pengambil resiko yang piawai memancarkan keraguan dan tenggelam dalam kesengsaraan. Sedangkan Liam Neeson hanya dari beberapa menit adegan pembuka mampu menggambarkan betapa fisik dan mental Ferreira sangat menderita. Yōsuke Kubozuka memerankan Kichijiro, sosok pendukung yang mewakili dua hal tergantung pemahaman penonton. Pertama, bahwa manusia tak pernah lepas dari kesalahan. Kedua, sindiran pada orang-orang yang selalu merasa bersalah, meminta ampun atas dosa tapi terus mengulanginya. Kalimat pembuka pengakuan dosa ("Forgive me Father for I have sinned") pun begitu melekat di benak, memunculkan tanya tentang kesungguhan kita memohon ampun pada Tuhan. Tatkala "Silence" ditutup oleh kegelapan dan keheningan serupa opening-nya, saya pun hanya bisa diam membisu. 

23 komentar :

  1. Silence: zero oscar
    Suicide Squad: 1 Oscar

    Tpi klo dilihat-lihat, Silence ini gak dpt nominasi apa-apa di Golden Globe, BAFTA. Dpt nominasi Oscar tpi cuman bagian kamera doang. Padahal bnyk film critics dri luar negeri menganggapnya sbgai salah satu yg terbaik di 2016.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paramount kurang gencar campaign buat Silence, dan (mungkin) tema kontroversial tentang agama kurang mengena buat Juri

      Hapus
    2. WOW....!
      DCEU mantap banget, Suicide Squad menang Oscar, dan BVSDOJ menang Razzie Award.

      Hapus
  2. Setuju sy sm penilaiannya mas...apalagi karakternya si kichijiro yg ngehe banget...hahaaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biar begitu dia karakter yang paling dekat sama kita-kita "manusia biasa" ini lho :D

      Hapus
  3. lebih bgs ini ato last temptation gan? blm nonton dua"nya soalnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silence lebih powerful & universal

      Hapus
  4. Baca reviewmu jadi makin penasaran, pdhl tdnya sudah nyerah mau nonton takut adegan kekerasannya. Kira2 menurutmu aku bakal kuat tidak nontonnya..? :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dibanding durasinya yang hampir 3 jam violence-nya cuma seupil. Kerasa "menyakitkan" tapi dibanding apa yang didapat dari kualitas keseluruhan filmnya, itu "kesakitan" yang pantas :)

      Hapus
  5. Jadi ga sabar nunggu karya opa Scorsese berikutnya. Next : The Irishman. De Niro, Pesci, and Pacino

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan karena produksi Netflix, donlotannya cepat keluar *eh*

      Hapus
  6. Film yang indah ini seakan2 medioker untuk para juri oscar..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya sudah sering kejadian begitu :)

      Hapus
  7. lima bintang ??? wowwww !!! sementara tidak ada gembar gembornya. saya pengen nonton jadinya. semoga tidak membosankan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asal bisa bertahan dengan durasi 3 jam & tempo yang cukup lambat :)

      Hapus
  8. Gw ngasih 7/10. 2/3 filmnya bagus. Makin ke ending smakin terburu2.

    BalasHapus
  9. Salah satu film yg saya tunggu2. Lama kali keluarnya. Mas Rasyid nonton dmna?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu ada midnite. Tapi mungkin karena sepi nggak jadi tayang reguler di bioskop hehe

      Hapus
  10. Baru kmrn liat film ini. Well,sebenernya saya bukan pecinta aktor andrew garfield.tp skali lagi dia bermain maximal setelah hacksaw ridge.

    Film ini punya pesan yang dalam,dan film ini bisa menjadi film yg negatif atau positif tergantung persepektif sudut pandang orang yang menontonnya.

    Keputusasaan rodriguez dari yang mempunyai iman hingga kehilangan,membuat kita bertanya2 jika hal itu terjadi pada kita apakah kita berlaku seperti mokichi atau rodriguez.Ga berlebihan bang Rasyid kasih 5 star

    BalasHapus
  11. Saya baru nonton film ini.
    Tapi ada yg saya gak ngerti Bang.
    Inquisitor itu statusnya apa.
    Apakah mereka orang kepercayaan kaisar, tentara kekaisaran atau apa?
    Kok seolah2 gak ada perlindungan hukum atau jaminan keamanan di Jepang.
    Sya liatnya malah mereka itu spt tuan tanah yg gak punya keterikatan sama pemerintahan Jepang wktu itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Petugas resmi kok itu. Istilah inquisitor sendiri setahu saya awalnya diberikan untuk organisasi/program yang berfungsi menghilangkan ajaran yang menyalahi ajaran Katolik. Nah kalau di Jepang sebaliknya. Semacam Metsuke, yang tugasnya menghilangkan tindak korupsi dsb. Well, bayangkan FPI diangkat jadi badan resmi negara :D

      Hapus
  12. Anonim5:34 AM

    (SPOILER)





    Sebernarnya Rodrigues murtad atau kagak sih? Scene terakhir dia dibakar sambil memegang simbol Kristen?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangankan Rodriguez, Ferreira saja nggak terbukti sepenuhnya murtad kok dari tindakan-tindakan tersiratnya. Karena poin utama Silence itu iman bukan sebatas simbol-simbol agama saja

      Hapus