SURGA YANG TAK DIRINDUKAN 2 (2017)

12 komentar
Coba saksikan trailer "Rudy Habibie", "Surga yang Tak Dirindukan 2", dan "Kartini". Selain sama-sama hasil karya Hanung Bramantyo, ketiganya menyimpan persamaan lain, yakni drama yang berniat tampil megah, sampai-sampai musiknya sedemikian membahana, berdentum layaknya iringan bagi sajian epic atau thriller. Blockbuster dramatis nan megah memang jadi salah satu "wajah" Hanung dewasa ini. Menggantikan Kuntz Agus di kursi sutradara, gaya tersebut merupakan pembeda "Surga yang tak Dirindukan 2" dari pendahulunya. Semakin mewah berkat setting luar negeri (Budapest) yang tengah jadi tren perfilman Indonesia, serta kehadiran Reza Rahadian guna menambah nama besar dalam jajaran cast

Di beberapa review telah saya ungkapkan betapa Hanung amat memahami formula, tahu cara memikat pangsa pasar seluas mungkin. "Surga yang Tak Dirindukan" mengharu biru, tapi selain air mata, penonton juga menyukai tawa. Satu hal yang tidak dimiliki film pertama adalah keceriaan, dan sedari menit-menit awal, sekuelnya ini telah menyelipkan humor berupa kekhawatiran Pras (Fedi Nuril) saat sekali lagi menemui kecelakaan, takut bakal terbentur persoalan serupa dengan yang dialaminya dan Meirose (Raline Shah). Hadir pula tokoh Panji (Muhadkly Acho) selaku guide konyol hanya berfungsi memancing tawa. Bahkan Amran (Kemal Palevi) yang sebelumnya bersama Hartono (Tanta Ginting) mewakili dua sudut pandang soal poligami di sini sekedar menjadi comic relief.
"Surga yang Tak Dirindukan 2" berusaha tampil lebih ringan melalui komedi serta mengesampingkan pokok bahasan poligami, beralih fokus menuju disease porn. Alkisah, dalam perjalanannya ke Budapest untuk promosi buku, Arini (Laudya Cynthia Bella) mendadak jatuh pingsan, dan berdasarkan hasil pemeriksaan Dr. Syarief (Reza Rahadian), kanker rahim yang ia derita telah mencapai stadium 4 dan menjalar hingga otak. Menyadari hidupnya tak lama lagi, Arini berharap jika Meirose  yang ternyata telah tiga tahun tinggal di Budapest  bersedia menggantikan posisinya sebagai istri sekaligus ibu bagi puteri Pras. Tanpa ia ketahui Meirose tengah menjalin asmara dengan Dr. Syarief. 

Meski pola lama menggunakan kanker sebagai alat memanipulasi kesedihan penonton jadi andalan, namun keklisean masih lebih baik daripada penuturan khayalan "negeri dongeng" mengenai poligami layaknya film pertama. Biar begitu, eksploitasi ketegaran berlebih macam penolakan Arini menjalani pengobatan karena enggan melawan takdir Allah (seriously?) tetaplah mengganggu. Demikian pula beberapa konsep tentang pernikahan dan tanggung jawab memenuhi amanah yang mengesankan wanita tak lebih dari barang kepunyaan suami, dilucuti haknya untuk memilih sesuai isi hati. 
Satu hal yang perlu diakui yakni production value-nya mumpuni, memfasilitasi usaha filmnya tersaji mewah. Penonton diajak berjalan-jalan mengitari Budapest, memposisikan filmnya di jalur serupa "99 Cahaya di Langit Eropa" maupun "Bulan Terbelah di Langit Amerika". Sebuah perjalanan mahal dibalut sinematografi apik Ipung Rachmat Syaiful scoring orkestra menggelegar Tya Subiakto plus beberapa soundtrack berirama pop catchy melankolis macam "Dalam Kenangan" milik Krisdayanti. Lucunya, meski dapat mengambil gambar-gambar bagus di Budapest, bandara Adisucipto justru direka ulang seadanya dengan penataan kursi minimalis pula CGI kasar. Ironis pula tatkala detail kecil lalai diperhatikan, sebutlah CT Scan Arini yang kentara milik seorang bapak, atau saat WhatsApp Meirose hanya berisi satu pesan dari Syarief. Oh, mungkin saja ia rajin menghapus chat history. Entahlah.

Tidak peduli terasa cheesy, Hanung sejatinya ahli mendramatisasi, tahu cara menempatkan momen emosional. Contohnya adegan menjelang akhir yang melibatkan Pras dan solat berjamaah. Jelas berlebihan, tapi powerful, efektif menumpahkan air mata mayoritas penonton. Masalahnya, naskah yang ia tulis bersama Alim Sudio dan Manoj Punjabi minim kreatifitas menjalin penceritaan menarik. Mereka sekedar bertutur tanpa dinamika, kedalaman, atau intrik memadahi. Terlalu banyak juga flashback untuk penggambaran memori, seolah film ini sulit berdiri sendiri tanpa pendahulunya. Kelemahan ini berujung repetisi Hanung kala susah payah mengangkat tensi melalui slow motion diiringi musik bergemuruh di momen tak perlu sekalipun. 
Di antara kuartet pemeran utama, Reza Rahadian paling mencuri perhatian. Ketenangannya menangani bermacam situasi, charm-nya, kemampuannya berbicara memakai Bahasa Hungaria, membuktikan sang aktor dapat sedikit mengangkat kualitas film seperti apa pun, setidaknya menjadikan momen kemunculannya enak dinikmati. Fedi Nuril masih pria alim dambaan "wanita solehah" walau di tahap ini aktingnya makin mengalami stagnansi. Bella seperti biasa piawai melakoni momen emosional, menggaet atensi kala tokoh Arini dengan "impiannya" tak lagi simpatik. Raline Shah pun watchable meski transformasi Meirose tidak memaksanya mengeluarkan totalitas performa serupa film pertama. 

"Surga yang Tak Dirindukan 2" sebenarnya sudah berprogresi ke arah tepat dalam perannya selaku tontonan pemuas pangsa pasar terbesar. Pengemasan lebih ringan melalui selipan humor hingga turut membuatnya lebih menghibur bagi semua kalangan. Begitu filmnya usai terdengar tepuk tangan dan isak tangis (sejauh ini di tahun 2017 yang mendapat kehormatan serupa hanya "La La Land"). Tentu kesan sappy, klise, cheesy dan lain-lain yang identik dengan opera sabun akan mengganggu bagi beberapa pihak termasuk saya, namun apa daya ketika target penontonnya sedemikian terpuaskan? 

12 komentar :

Comment Page:
Anonim mengatakan...

Thanks reviewnya
Nonton dibioskop mana Gan sampe penontonnya tepuk tangan?
Sejauh ini saya belum pernah menemukan penonton bertepuk tangan setelah film berakhir
Niat nonton film ini kemaren
Tapi kehabisan tiket

yazuli al amin mengatakan...

Adegan terakhir yg paling emosional yg pernah saya saksikan,seingat saya..

Anonim mengatakan...

Manchester by the Sea udah bluray, Mas..
Gak ada rencana review ni...
wkwkwk

Rasyidharry mengatakan...

Cukup sering kok, terakhir ya La La Land. Cek Toko Sebelah juga

Rasyidharry mengatakan...

Awal minggu depan. Minggu ini masih ada Lego Batman & Lion dulu :)

watchandwords mengatakan...

Gak tau ya, jadi agak rindu film-film Hanung yg kayak Doa Yang Mengancam.

Rasyidharry mengatakan...

Film-film Hanung di bawah MD apalagi yang big budget memang cukup kuat kontrol produser. Kartini mungkin bakal jadi obat rindu penggemarnya :)

Briyogi Shadiwa mengatakan...

maklum om..klo blockbuster indonesia tentang "opera sabun" semua, sesuai selera mayoritas masyarakat kita...hahahaha

Rasyidharry mengatakan...

Yap, sangat paham itu kok. Soal menjangkau pangsa pasar terluas harus diakui SYTD 2 cukup berhasil

Walley mengatakan...

Masih ada yang mau nonton kek beginian? Yang pertama aja sebelas dua belas sama FTV..keknya penonton tipi memang sudah pindah ke bioskop.

Safira Rachma mengatakan...

Aku sih NO.
Dari trailer aku udah tau kalau ini bakal klise banget. Lagi-lagi, movie Islami yang setting di luar negeri, tentang poligami, dan salah satu kena kanker atau penyakit parah lain. Tiga klise dalam satu film. Gak tertarik buat nonton film ini.

Dede Rahman mengatakan...

Kasih tau dong alamat web yg bisa download fil ini?