THE PROMISE (2017)

19 komentar
Salam hormat saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Sungguh mulia niat menciptakan film horor yang tak hanya mengumbar penampakan hantu berwajah seperti bubur basi, kemudian menggali sisi psikologis karakter guna membangun teror. Judul-judul macam "The Babadook" dan "Under the Shadow" sudah mengajari kita akan hal itu. Memunculkan jump scare berisi hantu tak mengerikan setiap lima menit sekali memang membuat saya takut. Takut gagal menahan amarah lalu melempar sepatuh ke layar bioskop. Syukur alhamdulillah sejauh ini saya mampu mengendalikan emosi. "The Promise" mengemban niat mulia serupa, memaparkan gangguan mental pemicu kengerian dalam film horor.

Sebelum membahas betapa pintar nan ilmiahnya naskah garapan Alim Sudio mengeksplorasi aspek psikis karakter, mari berkenalan dahulu dengan dua protagonis, Wanda (Dara The Virgin) dan Riri (Mita The Virgin). Akibat suatu kecelakaan yang turut menewaskan adiknya, kaki Wanda mengalami kelumpuhan, membuatnya harus memakai kursi roda. Entah apa kegiatan Wanda kala siang, pastinya di malam hari ia selalu mendengarkan acara radio yang dibawakan Riri mengenai kisah-kisah misteri kiriman pendengar. Wanda sendiri kerap menulis cerita misteri namun selalu ditolak oleh acara tersebut dengan alasan kurang menarik. Wanda tinggal bersama seorang suster bernama Tesa (Tistha Nurma) sementara kedua orang tuanya bekerja di Belanda. 
Sedangkan Riri yang tinggal tepat di sebelah rumah Wanda kerap berselisih dengan tantenya (Tina Astari Sunardi) akibat dilarang berpacaran dengan Dimas (Ferly Putra). Menurut sang tante, Dimas adalah playboy. Riri dibutakan oleh cintanya, sampai-sampai ketika ulang tahun mendapat kado cincin (yang sejatinya ditujukan untuk selingkuhan Dimas), dia menganggapnya sebagai lamaran. Lalu di mana letak kengerian? Tenang, "The Promise" menyiapkan bukan hanya satu atau dua, namun setidaknya empat dream sequence berisi pengalaman Wanda diganggu oleh hantu. Sisanya tak pernah jelas apakah mimpi atau kenyataan akibat kacaunya flow. Bahkan sempat ada kelalaian mengganti filter warna selaku pemisah mimpi dengan realita. Tapi bukankah manusia tak lepas dari khilaf dan lalai?

Para pembaca budiman, saya meminta maaf sebesar-besarnya. Review bakal mengandung SPOILER karena sulit memahas penelusuran sedemikian ilmiah mengenai kejiwaan milik "The Promise"  tanpa membahas beberapa detail. Mengapa ada banyak mimpi disebabkan pengaruh trauma dan rasa bersalah Wanda atas kecelakaan yang merenggut nyawa adiknya. Pengalaman traumatik itu pula yang ditengarai memicu gangguan bipolar. Penyebab bipolar hingga kini masih jadi perdebatan, tapi traumatic loss dianggap memberi andil, jadi sampai di sini tiada masalah soal pemaparannya dalam naskah. Kemudian lanjut menuju gejala yang menjelaskan alasan Wanda mendapat diagnosis tersebut. 
Menurut "The Promise" yang dihantarkan melalui penjelasan singkat seorang karakter psikolog, Wanda sejatinya adalah pribadi lembut, tetapi kala perasaannya tengah memburuk ia berubah agreif. Sepanjang film pun kita melihatnya bersikap dan bertutur kata lembut, tidak sekalipun marah kecuali pada klimaks sewaktu ia dengan mudah melakukan pembunuhan sambil melotot pula tersenyum, menuduh orang-orang mengkhianatinya. Wait...what?! Apa penulis naskah film ini tahu definisi serta gejala bipolar? Apakah ia telah keliru membedakan antara bipolar yang merupakan gangguan perasaan (mood) dengan gangguan waham macam skizofrenia dan lain-lain?

Jadi begini saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air. Bipolar merupakan gangguan perasaan yang juga dikenal sebagai manic-depressive disorder, karena si penderita kerap bergantian mengalami dua fase bertolak belakang yaitu manik (energi meningkat, aktif) dan depresif (sebaliknya, energi menurun, murung berlebihan). Wanda tak pernah mengalami keduanya. BIPOLAR BUKAN SAJA PERUBAHAN SESEORANG DARI YANG AWALNYA KALEM MENJADI AGRESIF. Bukan pula timbulnya dorongan membunuh akibat merasa dibenci orang-orang di sekitarnya atau berbuat sesuatu atas bisikan dan pengaruh makhluk halus. Itu namanya waham. Kesalahan tersebut tidak bisa dimaafkan, selain terlalu mendasar (riset malas dengan googling pun sudah memberi cukup pengertian) juga berpotensi menimbulkan kesalahan persepsi masyarakat awam terhadap psychological disorder. Berbahaya!
Cukup membahas tentang bipolar atau review ini bertransofrmasi menjadi makalah ilmiah. Namun kesalahan di bidang psikologi bukan itu saja. Lihat bagaimana pilihan treatment sang psikolog bagi Wanda. Alih-alih perlahan menyadarkan jika kelumpuhannya tidak sungguh terjadi, dia malah mengirim asisten yang menyamar sebagai perawat untuk membantu Wanda belajar berjalan. Please dude, itu sama artinya memperkuat kepercayaan pasien bahwa ia mengalami kelumpuhan. Kenapa pula Tesa tidak diberitahu oleh orang tua Wanda tentang kondisi puteri mereka? Bukankah itu menyulitkan perawatan?

Di luar aspek psikologi seenaknya, secara sinematik "The Promise" pun remuk. Penyutradaraan Bambang Drias kerap memancing tawa di situasi tidak tepat, sebut saja momen di kuburan yang semestinya emosional atau berbagai cara menakut-nakuti yang keterlaluan bodohnya. Lalai pula ia (dan naskahnya) memperhatikan detail, seperti bagaimana bisa Tesa memakai cincin milik Riri dan mayat yang sangat jelas masih bernafas dengan cepat. Soal akting jajaran cast, Mita bicara, marah-marah dan berteriak ketakutan serupa kenek bus di terminal dan Tistha Nurma berulang kali melafalkan dialog teramat datar hingga sulit rasanya menahan tawa. Dara awalnya memberi performa yang bisa diterima, tidak spesial tapi urung terasa menggelikan. Sampai momen klimaks ketika harus mencurahkan "kegilaan", dia jatuh dalam akting klise berupa mata melotot serta tawa mendadak. Semakin sukses "The Promise" memposisikan diri selaku horor pemancing tawa.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

19 komentar :

Comment Page:
Oyan Walfy mengatakan...

Pendapatnya bang tentang film fatal attraction yang diperankan michael douglas dan glen close

Raid Mahdi mengatakan...

"akting klise berupa mata melotot serta tawa mendadak". Ya, sangat pasaran...

Hendra Siswandi mengatakan...

Saya langsung berfirasat buruk setelah membaca kalimat pertama.

Rasyidharry mengatakan...

Wah agak lupa, nonton udah ada satu dekade lalu :D

Rasyidharry mengatakan...

Semacam foto di atas itu :)

Rasyidharry mengatakan...

Sepanjang nonton juga selalu firasat buruk kok :D

Oyan Walfy mengatakan...

Tonton lagi deh gan :D

Satu lagi gan, Southpaw dari Antoine Fuqua. Sang aktor idola agan nih kayanya.. hehe

Bobby Primadiasnyah mengatakan...

Njirr sudah kuduga bakal seburuk ini :v,tapi anehnya film ini kok bisa ikut Festival film itu ya(lupa namanya) atau memang festival nya abal abal :p

Rasyidharry mengatakan...

Balinale itu credible kok. Tapi memang status world premiere/official selection di festival nggak menjamin kualitas :))

Rasyidharry mengatakan...

Idola saya mah Ryan Gosling sama Abimana :D

Reydhita Husein mengatakan...

hahaha entah kalau udah ada kalimat seperti "Salam hormat saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air", saya udah bisa mempersiap kan diri untuk ketawa baca reviewnya :))

Anonim mengatakan...

Menilik judulnya yang inggris,sepertinya film ini dipersiapkan untuk go internasional ya ? Amin .

Rasyidharry mengatakan...

Semacam signature ya? hahaha

Rasyidharry mengatakan...

Nggak dong, sudah banyak sekali film lokal dengan judul English

Oyan Walfy mengatakan...

Oh salah ya, maaf gan hehe..

Minta pendapat singkatnya gan sama ratingnya tentang southpow.

Tks.

Anonim mengatakan...

Gue yakin security ugal-ugalan ga sampai serendah ini juga haha

Rasyidharry mengatakan...

Mungkin. Tapi Komedik Gokil 2 aja dulu ngasih 0/5. Benci sama komedi seksis :)

Firdha eva kirana mengatakan...

Kalimat awal itu kayak udah jadi pertanda di blog ini, kalau filmnya yaa ga usah ditonton. Kirain bakal 0/5 😁

Rasyidharry mengatakan...

Oh, rating 0 khusus buat film-film super spesial! :D