ULAR TANGGA (2017)

24 komentar
"Ular Tangga" punya bekal mencukupi untuk menjadi suguhan horor menarik. Premisnya unik. Keterlibatan Shareefa Daanish pasca lima tahun absen bermain film juga menjadi daya tarik. Fakta di balik layar lain turut pula menyita perhatian, yaitu mengenai Wilson Tirta, produser eksekutif sekaligus pendiri Lingkar Film selaku rumah produksi bagi "Ular Tangga" yang masih berusia 14 tahun, menjadikannya produser film Indonesia termuda. Tidak heran jika gemerlap industri film menarik minat wiraswasta muda ini. Ide cerita Wilson sempat ditawarkan pada Jujur Prananto, namun batal karena proses penulisan naskah Jujur dianggap terlalu lama. Rupanya ini pangkal permasalahannya.

Ketidaksabaran Wilson mendorongnya berpaling pada Mia Amalia ("Luntang Lantung", "Inikah Rasanya Cinta?"). Sedangkan bangku penyutradaraan diisi Arie Azis ("Oops!! Ada Vampir", "Penganten Pocong", "Rumah Hantu Pasar Malam"). Oh Tuhan, mendadak proyek ini terasa mengkhawatirkan. Apakah hasrat mempercepat proses produksi berujung mengesampingkan kualitas? Menengok hasil akhirnya, kecurigaan tersebut jelas beralasan. Bayangkan saja, anda menyaksikan film berjudul "Ular Tangga" lalu mendapati amat minimnya kontribusi permainan itu. Ibarat makan sate ayam dengan porsi daging ayam sangat sedikit. Atau nasi goreng tanpa nasi. Wajar bila sebagai konsumen saya berang, merasa tertipu.
Alkisah, Fina (Vicky Monica) kerap mengalami mimpi buruk yang dicurigainya merupakan pertanda atas kejadian masa depan. Rasa penasaran membuat Fina membaca buku "The Interpretation of Dreams" milik Sigmund Freud sembari berkonsultasi pada seorang dosen (Roy Marten). Saya enggan menyalahkan kebodohan pada film horor mengingat tujuan utamanya adalah menakut-nakuti. Ketidaktepatan ilmu maupun lubang logika bisa dimaklumi. Namun kengawuran "Ular Tangga" sudah kelewatan, menunjukkan kedunguan hasil ketidakpedulian penulisnya. Menyatukan fantasi, mistis, reliji dan sains dalam horor itu lumrah. Namun harus ada poin yang dijadikan pegangan. Seseorang bisa membuat cerita didasari sains lalu melebarkan semaunya berbasis imajinasi ke ranah lain, pun sebaliknya. 

Fokus gambar kerap menyoroti buku "The Interpretation of Dreams" tapi jelas teori Freud (hasrat terpendam, bawah sadar, masa lalu) bukan penopang cerita. Bahkan, setelahnya unsur mimpi tak lagi muncul, beralih sepenuhnya ke mistis. Aneh pula kala Roy Marten selaku dosen awalnya berteori soal sisi terpendam manusia  lewat kalimat yang bak dikutip mentah-mentah dari Wikipedia  sebelum tiba-tiba bicara tentang ilmu lebur sukma, lalu berganti lagi membicarakan agama. Kenapa seorang dosen menggunakan istilah "lebur sukma" ketimbang "astral projection" yang mana lebih scientific? Koreksi jika salah, tapi setahu saya lebur sukma bukan (semata-mata) ajian mengeluarkan roh seseorang dari tubuhnya. 

Tapi sudahlah. Terserah. Semua itu tak penting asal "Ular Tangga" sanggup menghibur. Kembali ke cerita, Fina dan rekan-rekan pecinta alamnya tengah bersiap mendaki Gunung Barong walau ia merasakan firasat buruk. Di tengah pendakian, mereka tak menghiraukan larangan Gina (Shareefa Daanish) sang guide melewati sebuah jalur, dan bisa diduga, teror pun menghampiri. Hantu-hantu bermunculan, ditambah misteri tentang ular tangga berbahan kayu yang terkubur di bawah pohon besar. Mari lupakan fakta betapa bodohnya para tokoh melanggar pesan sosok yang paham seluk beluk daerah setempat. Mana ada pecinta alam berpengalaman melakukan itu? Kenapa pula pecinta alam nekat mengambil barang misterius di suatu tempat apapun alasannya? Lagi-lagi saya bermurah hati memaafkan kelalaian tersebut.
Film ini jadi tak termaafkan ketika permainan ular tangga urung dimanfaatkan. Setelah menanti sekitar 35 menit, daripada hybrid petualangan fantasi dan horor, papan ular tangga hanya dijadikan jalan menghilangkan satu per satu karakter. Setiap dadu bergulir, terjadi gempa, kemudian seseorang hilang. Begitu seterusnya, menciptakan pola berikut:
Lani menggelindingkan dadu
"Hah? Lani hilang! Ke mana Lani?!"
"Lani! Lani!"
Mereka mencari Lani.
Dodoy menggelindingkan dadu.
"Hah? Dodoy hilang! Ke mana Dodoy?!"
"Dodoy! Dodoy!"
Mereka mencari Dodoy.
Bagas menggelindingkan dadu.
"Hah? Bagas hilang! Ke mana Bagas?!"
"Bagas! Bagas!"

Rasa takut juga gagal dipancing akibat penampakan hantu medioker serta hanya satu jump scare berhasil mengejutkan selama 94 menit durasi. Kengerian semakin nihil akibat kerap tak sesuainya pemilihan lagu. Paling menggelikan kala nomor pop balada "Memori Indah" milik Achie membungkus momen mendekati akhir yang diniati emosional tetapi berujung memancing tawa. Ending-nya berpotensi memuaskan (tipikal tragic cliffhanger khas horor) kalau bukan karena tambahan satu adegan yang memaksakan twist sembari berusaha menambah porsi Shareefa Daanish. Ya, jika anda tertarik menonton "Ular Tangga" karena keberadaan sang aktris, urungkan niatan tersebut. Shareefa hanya muncul di awal dan akhir dengan signifikansi minim serupa board game-nya. Padahal kalau ada yang bisa menyelamatkan "Ular Tangga", Shareefa Daanish orangnya.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

24 komentar :

Comment Page:
Rina A mengatakan...

Wahhh sayang sekali, padahal pengen nonton karena sang pemain Rumah Dara :D

Rasyidharry mengatakan...

Nunggu Danur aja, lebih meyakinkan :)

Teguh Yudha Gumelar mengatakan...

mungkin kelabilan si empunya PH , hasrat anak muda pengen cepet

Erwin Sanz mengatakan...

Nasi goreng tanpa nasi.. diatas piring cuman suwiran ayam, telor goreng, sama kerupuk..

danar mengatakan...

oh ya mas, mau tanya tempat link nonton film movie indonesia di mana mas ?

Juni Hartomo mengatakan...

seperti biasa review lebih menarik daripada film nya :D

Rasyidharry mengatakan...

Cuma mikir efektivitas di faktor bisnis,tapi nggak paham & ignorance soal kualitas film

Rasyidharry mengatakan...

Nah ngeselin kan? Klontang-klontang suara sendok ketemu piring doang :D

free mengatakan...

Orang-orang yg bikin film jelek itu pernah baca review filmnya gak sih?
Kenapa film jelek selalu gitu-gitu aja jeleknya?

Rasyidharry mengatakan...

Streaming legal ada di Hooq, Genflix, Iflix

Rasyidharry mengatakan...

Kalo yang jeleknya totalitas begini sih pasti nggak pernah :)

Harry mengatakan...

terus kenapa shareefa danish jadi yg paling menonjol di poster padahal tampil sedikit?😑

Rasyidharry mengatakan...

Karena Shareefa paling menjual :)

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Sangat membantu mas, hhhh saya termasuk org yang tertarik nonton ini cuman grgr empunya rumah dara, nungguin rumah dara 2 kok kayanya rencananya hanya rencana. Dari trailer saja danur lebih bagus dari ular tangga. Terimakasih menyelamatkan uang saya wkwk

Rasyidharry mengatakan...

Haha sama-sama, senang bisa berguna.
Rumah Dara 2 paling cepat ambil gambar tahun depan, jadi ya tayang paling cepat juga 2019 :)

Rina A mengatakan...

Kurang suka pemeran utamanya sih, lebih tertarik sama The Curse.

Rasyidharry mengatakan...

Ya, The Curse memang menjanjikan. Aktrisnya oke, juga sutradaranya

Anonim mengatakan...

kok gue langsung senyum ya baca balesan bang rasyid yg ini

Rasyidharry mengatakan...

Haha kan bener, udah cukup ikonik dia di genre horor lokal. Apalagi dibanding pemain lain yang entah siapa. Well, dan cakep :)

Mohammad Thoriqul islam mengatakan...

Btw kalo yang the night comes for us itu jadi bang? Apa sy telat taunya ya

Rasyidharry mengatakan...

Proses shoot sudah masuk tahap akhir. Mungkin rilis akhir tahun ini. Daftar cast-nya:
Iko Uwais, Julie Estelle, Joe Taslim, Sunny Pang, Zack Lee, Shareefa Daanish, Dian Sastrowardoyo, Abimana, Hannah Al Rashid, Epy Kusnandar, Morgan Oey, dst.

Sinting haha

Pramudya Jayawiguna mengatakan...

Sutradaranya Mo Brothers ya bang ? Udah gak usah diraguin lagi kalo mereka yg jadi sutradaranya.

The Expendables versi Indonesia ini mah, cast-nya all star smua, hehehe.

danar mengatakan...

oke terima kasih mas

danar mengatakan...

oke terima kasih mas