MENGEJAR HALAL (2017)

11 komentar
Ada sebuah adegan film ini memperlihatkan obrolan Haura (Inez Ayu) bersama kakak iparnya, Zizi (Ressa Rere). Di situ Zizi bercerita mengenai seseorang tanpa tangan kiri yang memenangkan turnamen bela diri berkat jurus ajaran gurunya yang hanya bisa dikalahkan bila tangan kiri empunya jurus "dikunci" oleh sang lawan. Seperti hikayat dalam ceramah atau seminar penyulut motivasi, kisah itu mengutamakan pesan tanpa memperhatikan kejelasan latar tokoh, logika dan segala tetek bengek substansi storytelling. Mengejar Halal dibangun berdasarkan asas serupa. Masalahnya, media film bukan semata-mata pesan moral. Tidak sesederhana itu.

Alkisah, Haura membatalkan pernikahannya dengan Shidiq (Ahmad Rhezanov) akibat si calon suami salah menyebut nama mantan kala mengucap ijab kabul. Patah hati, Haura pun depresi, mengurung diri di kamar, menolak makan dan bolos bekerja. Hingga suatu hari ia memutuskan bangkit karena bila terus mengurung diri alur filmnya takkan berjalan. Di kantor, perhatian Haura tertuju pada Halal (Abdul Kaafi), seorang pebisnis muda tampan nan kaya raya. Secepat itu Haura melupakan kegundahan, berpaling ke Halal sejak pandangan pertama sebab lelaki itu luar biasa rupawan. 
Begitu malas M. Ali Ghifari selaku penulis naskah merangkai cerita sesuai prinsip psikologis manusia mendasar yang tidak perlu membaca setumpuk jurnal ilmiah Sigmund Freud dan Carl Jung guna memahaminya. Pasca gagal menikah, Haura bertingkah bak penderita gangguan mental akut, jadi tidak mungkin baginya beraktivitas normal semudah itu, hanya didorong keyakinan internal "aku harus move on karena aku wanita tangguh". Semua poin alur asal digerakkan, yang penting ceritanya maju. Penokohan Halal pun demikian dangkal, stadar sosok ihwan idaman ibu-ibu pengajian atau syarat calon karyawan perusahaan: muda, jujur, alim, ramah, rajin, berpenampilan menarik, belum menikah. 

Mengejar Halal diniati sebagai komedi absurd. Keputusan menarik, bisa memberi warna baru di antara film-film religi yang identik dengan drama mendayu. Sayang, adegan semacam imajinasi Haura menebas Shidiq memakai pedang urung terulang. Padahal momen setipe dapat memancing kewajaran bagi kelemahan-kelamahan naskah termasuk fakta bahwa Haura adalah salah satu tokoh utama paling menyebalkan yang pernah saya temui, apalagi ketika filmnya bergerak menuju komedi soal obsesi karakter. Haura mengikuti Halal ke mana dia pergi, mengambil foto, lalu berpuncak pada usaha menggagalkan pernikahan sang pria idaman. 
Ini contoh salah kaprah terkait penulisan cerita, di samping pemakaian voice over berlebihan untuk deskripsi situasi bagai novel. Tujuan Mengejar Halal yaitu menyampaikan proses perubahan karakter, pemahaman bahwasanya tidak baik lebih mencintai manusia daripada Allah. Tapi perkembangan dari "buruk" menjadi "baik" perlu menyertakan alasan agar penonton menyukai sang tokoh. Alih-alih begitu, film ini terus menggambarkan keburukan Haura, baru tiba-tiba mengubahnya tepat di ending. Sulit memihak Haura, terlebih alasan menyukai Halal sangat dangkal. Seiring waktu memang tampak deretan kebaikan Halal (yang terlampau sempurna), namun Haura telah terobsesi jauh sebelum itu terjadi, alias jatuh cinta oleh ketampanan belaka. Akibatnya, ketimbang lucu, protagonis terkesan freak dan creepy. Totalitas akting Inez Ayu pun jadi senjata makan tuan, menguatkan kesan menyebalkan Haura. Bukan salah sang aktris.

Kata "mendadak" cocok mewakili Mengejar Halal, khususnya menjelang akhir kala sikap Haura berubah-ubah cepat tanpa dibarengi proses memadai, seolah penulis hanya mementingkan "pokoknya pesan sudah dilempar, tidak peduli tahapan atau penggalian alasan", serupa soal hikayat tadi. Ketiadaan tahap proses berujung kesan filmnya mendadak selesai, terlebih durasinya begitu singkat, hanya 73 menit (dikurangi sekitar 5 menit prolog film pendek berkualitas lebih buruk). Alhasil, pesan yang sejatinya baik serta aplikatif di luar konteks agama berakhir kosong, kurang bermakna, sebab meski penonton mengerti tujuan cerita, tidak dengan bagaimana karakternya sampai ke titik tersebut. Penyutradaraan M. Amrul Ummami juga tak menolong saat memilih berkonsentrasi pada aspek tidak penting macam split screen tapi luput soal detail substansial semisal riasan salah satu kawan Haura yang putihnya keterlaluan, melebihi Emily Blunt di The Huntsman: Winter's War.


Ticket Sponsored by: Bookmyshow ID & Indonesian Film Critics

11 komentar :

  1. film ini adalah salah satu proyek dari production house baru yang sebelumnya lebih banyak main di webseries youtube,mungkin cerita sederhana dari webseriesnya masih kebawa, sebenarnya saya sudah menunggu cukup lama film ini, tapi baca reviewnya jadi agak mikir mikir buat nonton di bioskop

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ceritanya memang lebih cocok sebagai webseries ringan & episodik, kalau buat film panjang, apalagi yang tujuannya bukan sekedar melucu, itu jadi bermasalah

      Hapus
  2. Itu pemain utama cowoknya bukannya ustadz yang sering muncul di TransTV ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, semacam pendakwah begitu

      Hapus
  3. Anonim4:44 PM

    Ga sabar mas rasyid review selebgram :D

    BalasHapus
  4. Anonim5:47 PM

    Film "baik" untuk orang yang ingin "merasa baik".

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mayoritas film religi kita begitu (sayangnya) :)

      Hapus
  5. Review THE VOID dong om,kayaknya keren tuh film..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap, dari tampak luarnya menarik sekali

      Hapus
  6. Asli....aku ngakak baca reviewnya...bagus bagus..

    BalasHapus